Tampil Menarik di Tengah Lonjakan Harga

MALANG – Harga pakaian yang terasa semakin mahal membuat sebagian mahasiswa mulai mengubah cara menjaga penampilan. Outfit baru tidak lagi selalu dibeli saat bosan atau ingin tampil berbeda. Pakaian yang sudah ada dipakai kembali dengan kombinasi baru agar tetap terlihat menarik tanpa menambah pengeluaran.

Di tengah kondisi tersebut, keinginan untuk tampil rapi belum ikut ditinggalkan. Yang berubah bukan kebutuhan untuk menjaga penampilan, tetapi cara memenuhinya.

Hasil Survei Tren Fashion Generasi Muda

Kita bisa melihat perubahan tren ini dari kecenderungan generasi muda saat memilih pakaian. Platform riset digital Jakpat melakukan survei terhadap 1.158 responden usia 17–28 tahun untuk melihat preferensi mereka.

Hasil survei oleh Jakpat menunjukkan bahwa 79 persen responden menempatkan kenyamanan sebagai faktor utama dalam memilih pakaian. Faktor berikutnya adalah harga terjangkau (65 persen), kualitas dan daya tahan (61 persen), serta kemudahan memadupadankan atau mix and match (42 persen). Temuan tersebut membuktikan bahwa mahasiswa tetap mencari pakaian, tetapi mereka membelinya dengan pertimbangan yang lebih matang.

Siasat Mahasiswa Mengatasi Kenaikan Harga

Bagi Zahro (21), mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjaga penampilan tidak harus selalu diikuti membeli pakaian baru. Saat ingin tampil berbeda, ia lebih sering melihat kembali pakaian yang sudah dimiliki dan mencoba kombinasi lain.

“Saya sering memanfaatkan pakaian yang sudah ada dengan mengombinasikan secara berbeda, seperti melakukan mix and match,” ujarnya.

Cara itu juga membuatnya tidak perlu memaksakan membeli pakaian ketika harga dirasa tidak sesuai dengan anggaran yang dimiliki.

“Kalau tidak sesuai budget, saya tidak akan memaksakan diri. Apalagi jika harganya sudah sampai ratusan ribu atau jutaan. Saya akan pikirkan matang-matang,” katanya.

Strategi lain dilakukan Mutia (20), mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM. Ia mengaku tetap ingin tampil rapi, tetapi mulai mengurangi frekuensi membeli dan lebih selektif menentukan kebutuhan.

“Sekarang saya lebih selektif dalam membeli barang. Saya berusaha membeli hanya yang benar-benar diperlukan, bukan sekadar ikut-ikutan atau tergoda,” ujarnya.

Selain mengurangi pembelian, Mutia juga lebih sering memanfaatkan promo saat membeli kebutuhan fashion.

“Yang paling sering sekarang saya lakukan itu mencari diskon,” katanya.

Sementara itu, Mia (20), mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, memilih membeli pakaian yang lebih fleksibel agar dapat digunakan dalam banyak kombinasi dan tidak cepat tergantikan.

“Saya biasanya beli baju yang bisa di-mix and match dengan pakaian lain. Pilih warna-warna yang mudah dipadupadankan agar bisa tetap tampil menarik dengan baju lama,” ujarnya.

Bagi mahasiswa, tampil menarik ternyata tidak selalu berarti membeli lebih banyak. Di tengah harga yang berubah, penampilan tetap dijaga dengan cara yang lebih sederhana: memakai lebih lama, memilih lebih hati-hati, dan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *