MALANG, visentris.com – Ketika layar ponsel menyala, dalam hitungan detik sebuah pakaian masuk ke keranjang belanja digital. Di era serba visual, urusan berpakaian tak lagi sekadar pemenuh kebutuhan primer. Ada tekanan tak kasatmata yang berbisik dari balik layar rasa takut terlihat memakai baju yang sama di depan orang yang sama.

Fenomena ini merayap pelan di kalangan anak muda dan mahasiswa. Dorongan algoritma media sosial yang berpadu dengan standar gengsi di lingkungan pertemanan perlahan memicu kebiasaan belanja impulsif (impulsive buying).
“Malu Kalau Baju Sudah Pernah Diposting”
Bagi Elsa, seorang mahasiswa di Malang, tampilan visual di media sosial dan penilaian lingkungan sosial memegang peranan besar dalam menentukan outfit harian. Terpengaruh oleh tren yang berseliweran di TikTok dan Instagram sejak pandemi, ia kerap merasa kurang percaya diri jika harus mengulang pakaian yang sama dalam waktu berdekatan.
“Kalau keluar itu kayak kebanyakan cewek merasa enggak punya baju, padahal di lemari ada. Soalnya baju yang ada sudah sering dipakai,” ujar Elsa.
Ketakutan terbesar Elsa justru muncul di dunia maya dan mata teman-temannya. Ia kerap membatalkan niat mengunggah foto bagus di linimasa Instagram hanya karena baju yang dikenakannya sudah pernah tertangkap kamera sebelumnya.
“Kalau lihat baju ini sudah pernah dipakai dan dilihat orang, ya enggak jadi diposting. Ada perasaan enggak nyaman kalau pakai baju sama di depan orang yang sama dalam jangka waktu dekat, takut dikira enggak punya baju lain,” tambahnya.
Alhasil, demi memenuhi tuntutan outfit baru di setiap momen atau foto, Elsa memilih membeli pakaian baru secara impulsif. Sayangnya, banyak di antara baju tersebut seperti gaun khusus momen Idulfitri yang akhirnya hanya terpakai satu kali lalu mangkrak selamanya di lemari.
Lingkungan Pertemanan dan Sindiran “Baju Itu-Itu Saja”
Dampak psikologis dari penilaian lingkungan sosial juga dirasakan oleh Khilda. Meski pada dasarnya ia lebih mengutamakan kenyamanan ketimbang mengejar tren mode (fashion), tekanan dari lingkungan terdekat beberapa kali berhasil menggoyahkan prinsipnya.
“Pernah sekali aku keseringan pakai kemeja favorit karena nyaman. Terus dikomenin sama orang dekat, ‘Kok pakai baju itu terus, enggak ganti-ganti?'” ujar Khilda.
Sindiran halus di lingkaran pertemanan atau keluarga seperti itu terbukti ampuh memicu keraguan diri. Untuk menghindari komentar serupa, tak jarang seseorang akhirnya memilih jalan pintas: membuka aplikasi e-commerce dan membeli pakaian baru yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan.
“Setiap kali buka TikTok, konten feed check atau rekomendasi outfit muncul terus karena algoritma. Kalau lagi lucu dan ada uang, ya masuk keranjang terus di-checkout,” ungkap Khilda yang kerap mengalaminya.
Lingkaran Setan Impulsive Buying
Paparan konten visual yang masif di platform digital seperti TikTok Shop dan Shopee menciptakan ilusi seolah-olah seseorang selalu membutuhkan baju baru untuk diakui di lingkaran sosialnya.
Diva, mahasiswa lainnya, menyebut bahwa tren clean outfit yang ia ikuti di media sosial membuatnya terus-menerus memburu pakaian baru. Pola ini memicu pembelian impulsif yang sering kali diwarnai penyesalan di kemudian hari. Baju-baju hasil impulse buy tersebut akhirnya menumpuk, lupa dipakai, atau bahkan tidak pas di tubuh.
“Sering banget merasa bingung mau pakai baju apa seolah enggak punya baju, padahal isi lemari sudah menumpuk penuh,” kata Diva.
Lepas dari Siklus Tekanan Visual
Ketakutan ketahuan memakai baju yang sama pada akhirnya hanyalah jebakan persepsi yang dikonstruksi oleh media sosial dan gengsi pertemanan. Hasrat untuk selalu tampil beda di setiap unduhan foto menguras kantong anak muda demi kepuasan yang sifatnya sementara.
Beberapa mahasiswa kini mulai tersadar dan berusaha memutus rantai impulsif tersebut. Khilda dan Diva memilih untuk lebih bijak memadupadankan (mix and match) pakaian lama agar tetap terlihat segar tanpa harus membeli baru, atau menyumbangkan pakaian menumpuk kepada mereka yang membutuhkan.
Sebab pada akhirnya, rasa percaya diri sejati tidak ditentukan dari seberapa banyak baju baru yang tergantung di lemari, melainkan kenyamanan kita menjadi diri sendiri tanpa perlu mendengarkan standar semu di media sosial.
