
Tik-tik-tik-klok, tik-tik-tik-klok. Suara roda mesin jahit besi tua itu berderit seirama, seolah menari di atas meja kayu. Di salah satu sudut Pasar Besar Kota Malang yang legendaris, seorang ibu tampak sibuk menjahit sebuah jaket. Meski usianya tak lagi muda, ia tetap gigih mencari nafkah di tengah keramaian pasar kota tua ini.
Sejak tahun 1970an Ibu Titik menekuni pekerjaanya sebagai seorang penjahit. Bekal belajar tanpa les, hanya otodidak melihat dari ayahnya. Pekerjaannya sekarang merupakan pekerjaan yang turun temurun dari kedua orang tuanya. “bapak saya dulu juga penjahit. Dari zaman Belanda dulu dan pelanggannya banyak orang Belanda” Ujarnya.
Sebelum akhirnya sekarang penjahit tradisional telah kalah dengan industri besar. Keluarga penjahit legendaris ini sudah melegenda di kalangan masyarakat. Berpindah pindah tempat pun sudah Ibu Titik rasakan. Menempati beberapa sudut dari berbagai lantai yang menjadi tempat persinggahannya. Tempat tua itu menjadi saksi perjalanan hidupnya.
Era Penjahit Tradisional yang Digantikan Oleh Industri Besar
Di tengah kepungan raksasa industri garmen itulah, Ibu Titik menolak melempar handuk. Di saat rekan seprofesinya di Pasar Besar memilih gulung tikar dan beralih profesi, perempuan senja ini tetap setia meminyaki mesin jahit tuanya, merawat sepotong sejarah yang tersisa.
Ibu Titik mengakui bahwa meski saat ini lapaknya tak pernah lagi seramai dulu. Beberapa pelanggan masih datang untuk menjahit pakaian baru atau sekadar memperbaiki kain yang robek. Bahkan untuk kualitas kain saja tidak lebih bagus dari yang dulu.
Menjahit baju merupakan sebuah ritual profesional. Warga – warga datang dengan membawa segulung kain yang ingin mereka jahit menjadi sebuah baju yang pas dibadan. Menjadi penjahit kala itu adalah profesi terhormat dengan pundi-pundi yang menjanjikan.
Namun, roda waktu berlalu terlalu cepat. Memasuki tahun 2000-an raksasa garmen dan fast fashion telah merajai dan menggusur kedai-kedai kecil. Mesin jahit kayuh manual milik Ibu Titik kini harus bertarung melawan ban berjalan pabrik yang mampu menelurkan ribuan pakaian siap pakai dalam hitungan jam. Keunikan jahitan tangan kalah telak oleh efisiensi massal, harga murah, dan kemudahan sistem klik di layar ponsel pembaca saat ini.
Menatap jalanan pasar dari balik meja potongnya, Baginya, setiap helai benang yang ia jahit hari ini adalah pengingat. Bahwa di dunia yang bergerak serba cepat dan serba pabrik. Kehangatan buatan tangan manusia selalu punya tempat untuk pulang meski hanya di sebuah sudut sempit yang nyaris terlupakan. Walaupun zaman sudah berubah melayani pelanggan dengan baik merupakan harapan besar bagi Ibu Titik.
