Rampak Barong dan Rasa Penasaran Anak Muda di Tengah Modernisasi

Malang, Anas (20) datang ke Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu bersama teman-temannya setelah mengetahui acara tersebut melalui Instagram. Ia bukan datang karena sudah akrab dengan Rampak Barong. Justru sebaliknya, kesenian itu membuatnya penasaran.

Anas belum pernah melihat pertunjukan Rampak Barong secara langsung. Karena itu, ia ingin mengetahui seperti apa kesenian tersebut ketika tampil di depan penonton.

“ Sebelumnya saya belum pernah melihat pertunjukan Rampak Barong secara langsung. Jadi saya penasaran ingin tahu Rampak Barong itu seperti apa,” ujar Anas.

Rasa penasaran itu terjawab ketika pertunjukan dimulai. Musik, atraksi pemain, hingga kostum membuat perhatian Anas tertuju ke panggung. Sebelum pertunjukan berlangsung, suasana juga sudah dibuat ramai oleh MC yang mengajak anak-anak bermain di depan panggung.

“Yang paling menarik tentunya waktu pertunjukan dimulai. Karena saya baru pernah melihat Rampak Barong seperti apa, jadi tertarik dengan suguhan atraksi-atraksi tadi,” kata Anas.

Kesenian Tradisional Menemukan Penonton Baru

Bagi Anas, kostum menjadi salah satu bagian yang menarik dari pertunjukan. Berbagai bentuk perlengkapan dan visual yang dikenakan pemain menjadi pengalaman baru baginya.

Ia melihat pertunjukan seperti Rampak Barong bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga cara untuk mengenal kembali keragaman seni budaya Indonesia.

“Indonesia itu ragam budaya, di mana banyak kesenian, kostum maupun banyak aksesori seni yang sudah dilupakan mungkin di zaman sekarang,” ujarnya.

Kehadiran penonton muda seperti Anas menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kesenian tradisional. Pemerintah Kota Malang pada 2025 juga menekankan perlunya generasi muda dikenalkan dan dilibatkan dalam pelestarian seni budaya, termasuk melalui ruang-ruang kreatif dan kegiatan yang menampilkan budaya lokal.

Di Pandanwangi, ruang tersebut hadir melalui pertunjukan. Anas yang sebelumnya belum pernah melihat Rampak Barong akhirnya mengenal kesenian itu secara langsung, bukan lewat layar ponsel.

Menurutnya, pengalaman tersebut cukup berbeda dengan hiburan modern yang sehari-hari lebih mudah ditemui.

“Pertunjukan modern sekarang jarang banget untuk membudayakan kesenian-kesenian atau menunjukkan kesenian zaman dahulu. Padahal kesenian di Indonesia ini sangat amat beragam,” kata Anas.

Mereka yang Menjaga Rampak Barong Tetap Tampil

Rasa penasaran penonton tentu bertemu dengan keberadaan para pelaku yang terus menjalankan kesenian tersebut.

Andi (28), pemain Rampak Barong, sudah mengikuti kesenian ini sejak duduk di bangku SMP, sekitar 2011. Awalnya, ia tertarik karena hobi dan lingkungan desanya yang memang aktif dalam kegiatan seni.

Selama bertahun-tahun, Andi terus mengikuti berbagai pertunjukan, terutama di wilayah Malang. Ia mulai aktif dalam sejumlah acara yang lebih besar sekitar 2021.

Bagi Andi, keberadaan panggung menjadi bagian penting agar kesenian yang sudah ia jalani sejak remaja tetap memiliki ruang untuk ditampilkan.

Di situlah perbedaan pengalaman Andi dan Anas bertemu. Andi datang sebagai pemain yang telah bertahun-tahun menjalani Rampak Barong, sedangkan Anas hadir sebagai penonton yang baru pertama kali melihatnya.

Panggung Bukan Sekadar Tempat Tampil

Agus (48), Ketua Pelaksana Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu, melihat pertunjukan budaya sebagai ruang bagi para seniman untuk menunjukkan karya mereka.

Rangkaian acara tidak berhenti pada Rampak Barong. Setelahnya ada Bantengan, Jaranan, Jathor, hingga Festival Bantengan selama tiga hari yang melibatkan kelompok dari Malang Raya.

Menurut Agus, festival memberikan ruang berbeda bagi seniman. Mereka tidak hanya tampil, tetapi juga membawa kreativitas dalam musik, lagu, tari, hingga kostum.

“Kalau sekadar perform dibayar itu menurut mereka sudah biasa. Mereka difestivalkan, dilihat kreasinya, dilihat lagunya, kemudian tari-tariannya sampai dengan kostumnya. Ini jadi nilai tersendiri,” ujar Agus.

Bagi penonton seperti Anas, ruang itu menjadi pintu awal untuk mengenal Rampak Barong. Setelah menyaksikan pertunjukan tersebut, ia mengaku tertarik melihat kesenian lain yang hadir dalam rangkaian Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu.

Ia berharap kesenian tradisional tidak hanya dipertahankan oleh pelakunya, tetapi juga terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

“Saya berharap budaya-budaya seperti ini terus dikembangkan, dilestarikan, terus dipopulerkan di masa-masa modern saat ini agar tidak tergerus oleh zaman,” kata Anas.

Rasa penasaran Anas menunjukkan bahwa pertemuan pertama dengan kesenian tradisional bisa datang dari hal sederhana: sebuah unggahan di media sosial dan keberanian untuk datang melihat langsung.

Lalu, di tengah derasnya hiburan modern, apakah panggung-panggung seperti ini akan terus menjadi ruang bagi anak muda untuk menemukan kembali budaya yang mulai mereka kenal dari kejauhan?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *