Influencer sebagai Sumber Inspirasi Gaya Berpakaian Mahasiswa

Setiap kali membuka TikTok atau Instagram, mahasiswa akan menemukan berbagai gaya berpakaian, mulai dari fit check, mix and match, hingga saran outfit untuk kuliah. Media sosial kini tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga menjadi tempat untuk mencari inspirasi dalam berpakaian bagi para mahasiswa.

Gaya yang terlihat di layar kemudian ikut masuk ke dalam keseharian. Ada yang meniru warna dan cara memadukan pakaian, ada yang mencari versi lebih murah, hingga ada yang terdorong membeli karena melihat orang lain.

Pengaruh Influencer pada Gaya Mahasiswa

Arina, mahasiswi UMM asal Bekasi, mengatakan ia cukup terpengaruh oleh influencer dengan gaya yang unik. Namun, pengaruh tersebut tidak membuatnya meniru keseluruhan pakaiannya. Sebaliknya, ia lebih tertarik untuk tampil berbeda.

“Aku pengen beda,” ujar Arina.


Selain influencer, keluarga dan lingkungan juga memengaruhi pilihan pakaiannya. Arina sadar bahwa tren yang muncul di media sosial cepat menyebar melalui lingkungan. Banyak orang menjadi tertarik membeli suatu barang yang populer.

Sedangkan Rae (20), mahasiswi ITS asal Surabaya ini tidak terfokus pada satu influencer saja, melainkan mencari inspirasi sesuai dengan gayanya. Jika ia ingin tampil berbeda, ia mencari kata kunci seperti chic outfit, minimalist outfit, atau cute outfit di TikTok.  

“Lebih ke inspirasi warna,”ujar Rae.

Ia biasanya mengambil ide warna atau cara memadukan pakaian yang ada di media sosial. 

Saat ingin me-remake pakaian dari idola atau influencer favoritnya, Rae tidak langsung membeli produk yang sama. Ia lebih memilih mencari pakaian dengan gaya mirip dan harga yang sesuai dengan kantong mahasiswa.

Tren Fashion di Media Sosial

Awalnya hanya mencari inspirasi, tetapi semakin sering dilihat, keinginan untuk memiliki perlahan muncul. Tiara (20), mahasiswi UMM Asal Gresik ini mengaku sering kali membeli produk fashion karena keinginannya. Melalui algoritma TikTok yang sering memunculkan konten fashion kepadanya.  

“Lebih sering karena pingin,”ujar Tiara.

Sebagai anak kos, Tiara tetap memperhatikan harga dan biasanya tertarik saat ada diskon atau promo.

Lingkungan pertemanannya juga ikut mempengaruhinya. Tiara merasa mudah terpengaruh ketika melihat barang yang dipakai teman kampus yang menarik. Salah satu barang pembelian terakhirnya pun karena melihat temannya mengenakan barang yang sama.

Berbeda dengan Rae, menurutnya konten fashion dari influencer dapat mendorong seseorang untuk membeli barang yang menarik. Meskipun belum tentu barang tersebut diperlukan.

“Lebih konsumtif sih,” ujar Rae.

Ia berpendapat bahwa barang yang terlihat lucu atau menarik bisa membuat orang membeli tanpa pikir panjang, meskipun memiliki pakaian serupa.

Arina juga pernah seperti itu. Dulu, ia lebih impulsif dalam membeli pakaian. Namun setelah memahami dampak negatif dari belanja berlebihan terhadap lingkungan, Arina mulai selektif dan mempertimbangkan apakah pakaian baru tersebut benar-benar sesuai dengan koleksi yang dimilikinya.

Konsumsi Fashion Mahasiswa

Perubahan pola pikir ini membuat Arina mulai terbiasa memakai kembali pakaian yang sama. Baginya, menggunakan outfit berulang justru membuat pilihan berpakaian lebih terorganisir dan menghemat waktu.  

“Lebih menghemat waktu,” ujar Arina.

Rae juga tidak merasa wajib mengikuti semua tren. Ia lebih suka menyesuaikan dengan gaya pribadinya. Menurutnya mengikuti setiap tren justru membuat banyak orang terlihat sama.  

Sedangkan Tiara lebih mempertimbangkan kualitas saat membeli pakaian. Ia memilih produk yang tahan lama dan nyaman, meskipun harganya lebih tinggi.

Ketiganya menunjukkan bahwa influencer berperan dalam membantu mahasiswa menemukan gaya berpakaian. Media sosial memang menawarkan banyak pilihan gaya, tapi tidak semuanya harus dibeli. Menemukan gaya sendiri berarti tahu mana yang layak diikuti, cocok dipakai, dan kapan waktunya berhenti membeli.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *