
Suara mesin jahit masih terdengar pelan dari lantai dua Pasar Besar Malang siang itu. Tidak terlalu ramai, tetapi juga belum benar-benar sepi. Di lorong sempit yang dipenuhi gulungan benang, kain, dan pakaian yang menggantung, Bu Titik duduk di depan mesin jahit listrik miliknya sambil sesekali melihat orang yang berlalu-lalang.
Perempuan kelahiran 1962 itu sudah mengenal dunia jahit sejak tahun 1970-an. Awalnya ia hanya melihat orang tuanya bekerja sebagai penjahit. Lama-kelamaan, Bu Titik belajar sendiri hingga akhirnya meneruskan pekerjaan tersebut sampai sekarang.
“Dari keluarga memang sudah biasa jahit-menjahit,” ujarnya.
Selama berjualan di Pasar Besar, Bu Titik sudah beberapa kali berpindah tempat. Mulai dari lantai satu, pindah ke area pojok pasar, hingga sekarang berada di lantai dua bersama beberapa penjahit lain. Dari lima penjahit yang masih bertahan di lorong itu, hanya satu yang masih tergolong muda.
Ketika Orang Lebih Memilih Membeli daripada Menjahit
Menurut Bu Titik, kebiasaan masyarakat dalam urusan pakaian sudah jauh berubah dibanding dulu. Jika dahulu banyak orang datang untuk menjahit pakaian baru, sekarang masyarakat lebih sering membeli pakaian jadi secara online.
“Sekarang orang lebih sering beli baru daripada memperbaiki,” katanya.
Tren pakaian yang cepat berubah juga ikut memengaruhi pekerjaan para penjahit di Pasar Besar. Tidak jarang pelanggan datang sambil membawa contoh model dari media sosial untuk dibuatkan pakaian serupa.
Meski begitu, Bu Titik tetap berusaha mengikuti permintaan pelanggan agar mereka tidak kecewa. Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar banyak pesanan.
Selain model pakaian, kualitas bahan juga menjadi hal yang paling ia rasakan perubahannya.
“Dulu kainnya lebih bagus. Sekarang banyak yang gampang rusak,” ujarnya.
Bertahan di Tengah Tren Fashion yang Cepat Berubah
Pendapatan Bu Titik sendiri tidak menentu. Dalam sehari, ia bisa memperoleh sekitar seratus hingga tiga ratus ribu rupiah. Saat musim ramai seperti Lebaran dan wisuda, penghasilannya bisa meningkat karena banyak pelanggan datang untuk menjahit kebaya maupun memperbaiki pakaian.
Meski dunia fashion terus berubah dan budaya belanja online semakin mendominasi, Bu Titik tetap datang ke Pasar Besar untuk membuka jasa jahitnya.
“Kalau di rumah terus juga enggak enak. Jadi saya masih senang kerja,” katanya sambil tersenyum kecil.
Di tengah tren pakaian yang datang dan pergi begitu cepat, suara mesin jahit di lorong kecil Pasar Besar Malang itu masih terus terdengar. Pelan, tetapi belum benar-benar hilang.
