Malang – Tahun 2020 barangkali menjadi tahun bersejarah yang dampak dari krisis nya masih membayang bayangi hingga sekarang. Virus corona yang menyebar sepanjang tahun tidak datang sendirian, dengan dampak lain seperti krisis ekonomi. Lumpuhnya aktivitas luar ruangan sehingga memaksa sektor sektor pekerjaan melakukan PHK massal. Penurunan pendapatan secara drastis memunculkan jutaan orang miskin baru dan melemahkan daya beli masyarakat. Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan, kerugian ekonomi nasional mencapai sekitar Rp1.356 triliun akibat hilangnya potensi pertumbuhan.
Tiga Belas Tahun di Jalur Distribusi
Isyatur (58), mantan reseller baju muslim di Jawa Timur turut merasakan dampak dari krisis tersebut. Ia memulai usaha ini bersama suaminya sejak tahun 2007. Isyatur dan suami memperoleh relasi pada salah satu keluarga rekan yang mempunyai konveksi.
“Awalnya kami coba memasok baju sedikit, kami tawarkan ke toko-toko, eh ternyata banyak yang mau,” ujarnya mengenang awal mula usahanya.
Tiga belas tahun ia menjalani usahanya sebagai distributor, permintaan selalu ramai, ia mengantarkan baju dari konveksi Tulungagung ke toko-toko kecil. Dengan margin keuntungan 15 hingga 20 persen, cukup untuk menopang rumah tangga dengan empat anak yang saat itu masih duduk di bangku sekolah.
Usaha itu berhenti di 2020. Bukan karena keputusan sesaat, tapi hasil dari penurunan yang berlangsung pelan-pelan sejak pandemi mulai menyebar.
“Ketika covid sebenarnya usahanya masih berjalan. Hanya saja memang sudah sangat terasa penurunan permintaan dari pasar, tidak seramai dulu. Bahkan sekarang, toko yang dulu jadi pelanggan tetap saya sudah banyak yang tutup.” ucapnya.
Permintaan pasar tidak sebanding dengan keharusannya untuk mengambil barang dalam partai besar dari konveksi. Minat beli baju langsung dari toko fisik sempat menurun drastis hingga 34% pada awal tahun 2020. Selisih antara kewajiban mengambil banyak dan permintaan yang menipis itulah yang akhirnya menutup usahanya. Banyak ia dapati toko-toko yang dulunya setiap bulan selalu memasok banyak barang darinya, kini sudah tutup gerai.
Cerita Isyatur bukan kejadian tunggal. Jumlah konsumen yang berbelanja lewat e-commerce di Indonesia melonjak dari 158,65 juta orang pada 2021 menjadi 178,94 juta orang di 2022. Naik 12,79 persen hanya dalam setahun. Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada Mei 2020 mencatat 94,69 persen UMKM mengalami penurunan penjualan akibat pandemi, dengan sektor perdagangan termasuk yang paling terdampak.
Suara dari Pembeli
Transisi Generasi yang lebih muda merasakan pergeseran ini dari sisi yang berlawanan—sebagai pembeli, bukan pedagang. Nela (30) mengaku dengan terbatasnya akses akibat lockdown membuatnya lebih sering memanfaatkan platform online untuk berbelanja fashion.
“Baru setelah covid itu mulai banyak aktivitas online shopping yang saya lakukan. pastinya lebih mudah, kita bisa melihat contoh-contoh baju dari orang lain tanpa harus datang ke store,” katanya.
Ivani (28) punya pengalaman sedikit berbeda. Ia sudah belanja baju online sebelum pandemi, didorong bukan oleh covid melainkan keterbatasan akses toko fisik di kotanya.
“Sebenarnya waktu itu aku pertama kali beli barang itu baju di toko yang menyediakan jual beli online, sebelum ada shopee dan sejenisnya. Bukan karena covid, tapi karena jangkauannya lebih luas ya, karena pada waktu itu lumayan terbatas aksesku,” jelasnya. Pandemi, menurutnya, hanya mempercepat kegiatan online shopping yang sudah mulai bergerak.
Di sinilah letak ironinya. Kemudahan yang dinikmati Nela dan Ivani sebagai pembeli adalah persis apa yang membuat pelanggan Isyatur berhenti datang ke toko. Setiap kali Nela membuka aplikasi dan melihat referensi baju tanpa harus keluar rumah, ada kemungkinan satu toko kecil kehilangan pembeli yang biasanya membeli dalam partai.
Survei Katadata Insight Center pada Juni 2020 menunjukkan 34,6 persen UMKM memilih beralih ke pemasaran online sebagai jalan bertahan—sebuah pilihan yang tidak diambil Isyatur, mungkin karena posisinya sebagai distributor yang bergantung pada jaringan toko fisik membuat adaptasi ke platform digital jauh lebih rumit dibanding pedagang yang langsung menjual ke konsumen.
Tahun 2020 menjadi titik balik terbesar dalam sejarah industri mode modern. Pandemi global memicu perubahan perilaku konsumen secara drastis, mempercepat adopsi teknologi digital, dan melahirkan tren gaya baru yang terus bertahan hingga saat ini di tahun 2026
Isyatur hari ini tidak lagi berjualan, tapi masih ia ingat betul suara ramainya pasar dan banyaknya tumpukan baju yang ia kirim ke setiap toko-toko langganan nya. Barangkali pertanyaannya bukan lagi apakah perpindahan ke belanja online bisa dihentikan, tapi apa yang akan terjadi pada orang-orang seperti nya ketika toko terakhir di daerah kecilnya juga ikut tutup.
