Tren Lari Mahasiswa, Bergeser dari Sehat ke Konsumtif

Malang – Tujuh dari sepuluh pelari mengaku motivasi utamanya sederhana seperti menjaga kesehatan. Lari dianggap mudah, tidak butuh banyak persiapan, dan tidak perlu biaya besar. Namun, ketika niat itu bertemu dengan algoritma dan standar komunitas, angkanya tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.

Hasilnya, sepatu lari kini menjadi produk olahraga paling laris di Indonesia, menguasai 41,8 persen pasar sepatu olahraga di Shopee sepanjang 2025, berdasarkan data TMO Group. Aktivitas lari sendiri melonjak 140 persen di awal tahun yang sama menurut catatan Garmin Connect Indonesia.

Harga Sepatu Lari yang Tidak Pernah Cukup Satu

Salah satu yang merasakan pergeseran olahraga lari saat ini adalah Nopelta (20), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Ia mulai lari sejak SMA untuk persiapan kedinasan. Waktu itu sepatu yang ia gunakan hanya seadanya. Masuk dunia perkuliahan, ia mulai sadar ada perbedaan antara sepatu biasa dan sepatu lari yang proper. Ia menabung dari kiriman orang tua sampai akhirnya bisa beli.

Jersey ia beli online seharga sekitar Rp100.000. Jam tangan olahraga Rp700.000. Bukan yang mahal, tapi cukup untuk fungsinya.

“Kalau memang nggak sesuai budget, menambah waktu lagi buat nabung,” ujarnya.

Baginya, pengeluaran itu wajar selama masih sesuai kapasitas. Tapi ia juga sadar, kebutuhan itu tidak berhenti di satu titik. Seiring lari makin serius, kebutuhan gear ikut bertambah.

Perlengkapan Lari dan Godaan yang Tidak Habis-habis

Firda (21), mahasiswi Universitas Negeri Malang, mengalaminya langsung. Awalnya cukup satu sepatu. Tapi lama-lama, ia mulai memperhatikan hal-hal lain. Jam tangan yang lebih akurat, jersey yang lebih nyaman, sepatu cadangan untuk latihan sehari-hari.

Pernah sekali ia membeli sepatu bukan karena butuh, tapi karena harganya sedang turun.

“Aku udah punya sepatu yang menurut aku udah proper. Tapi karena ada tawaran dan harganya lagi turun, aku beli. Padahal aku masih punya sepatu,” akunya.

Setelah itu ia belajar lebih selektif.

“Nggak harus yang mahal banget, tapi yang penting fungsinya sesuai dengan kebutuhan kita,” ujarnya.

Tapi godaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Melihat teman dengan smartwatch yang lebih canggih, ia juga mengaku sempat ada pikiran bahwa ia juga butuh itu. Namun, ia langsung menepis rasa keinginannya, sadar bahwa ia tidak terlalu membutuhkan barang tersebut.

Algoritma Tahu Kamu Mau Lari

Di balik kebutuhan yang terus bertambah itu, ada mekanisme yang bekerja diam-diam. Tsania Fariziah (37), dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, menyebut lari sebagai contoh nyata bagaimana pasar menciptakan kebutuhan baru dari sesuatu yang seharusnya sederhana.

Ketika seseorang mulai tertarik lari, algoritma media sosial langsung bekerja. Yang muncul bukan hanya tips berlari, tapi juga rekomendasi gear terbaru yang seolah wajib dimiliki. “Anak muda sekarang terus diberi paparan, ayo konsumtif. Karena memang pasar bekerja seperti itu,” ujarnya. Ia menyebut pola ini tidak hanya terjadi di dunia lari. Tapi lari menjadi contoh yang menarik karena dimulai dari premis yang salah, bahwa olahraga ini gratis.

Lari Gratis, Benarkah?

Lari memang tidak membutuhkan lapangan berbayar. Yang dibutuhkan hanya niat dan sepatu. Tapi ketika niat itu bertemu dengan algoritma, komunitas, dan standar penampilan yang terus bergeser, biayanya tidak pernah benar-benar berhenti di satu angka. Apakah kita masih lari karena gratis, atau karena sudah terlanjur berinvestasi terlalu dalam untuk berhenti?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *