Antara Ketahanan dan Pengakuan: Pergeseran Nilai Sehelai Pakaian

Sejak tahun 2000-an, tren fashion kini bergerak secepat jempol melakukan scrolling. Sebanyak 52 microseason tercipta tiap tahunnya. Tidak lagi hanya lahir dari ruang jahit, tren kini bisa diciptakan dan disebarkan melalui jaringan yang menjangkau lebih luas, cepat dan liar. Pakaian bukan lagi sekedar pelindung tubuh, melainkan medan tempur antara identitas, kualitas dan tuntutan zaman. Dari meja jahit yang penuh kain perca hingga keranjang kuning di media sosial, perspektif yang berbeda-beda menunjukkan betapa dalamnya pergeseran makna sepotong baju melampaui generasi.

Nilai Bagi Mereka, Penjahit Pasar Konvensional

Bagi mereka yang tumbuh sebelum era e-commerce, pakaian adalah sebuah investasi dan karya seni personal. Anis, seorang penjahit dengan pengalaman 19 tahun, mewakili segmen yang memegang teguh nilai kualitas. Ia melihat adanya penurunan minat masyarakat untuk membuat baju secara kustom dibandingkan satu dekade lalu. 

Bagi segmen ini, kepuasan terletak pada detail dan ketahanan. Dalam sesi wawancara bersama Tim Visentris, Anis menegaskan perbedaan mendasar antara baju konveksi dan buatan tangan penjahit. 

“Bikin sendiri lebih bagus. Secara, kalo custom kan fokus pengerjaan lebih besar pada satu pakaian. Kalau konveksi kan dalam satu hari produksinya masif, berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus baju,” ujar Anis.

Ia juga menyebutkan fenomena harga murah yang mempengaruhi berdampak pada ekosistem jahit, dimana konsumen kini bisa mendapatkan baju seharga Rp50.000 di toko online, harga yang bahkan tidak cukup menutupi ongkos kain dan jasa jahit custom. Tapi Anis tidak memungkiri, bahwa pilihan itu kembali kepada pelanggan. Karena prioritas pelanggan berbeda-beda, antara cepat dan murah atau akurat dan awet.

Pakaian Sebagai Bahasa Identitas dan Validasi Bagi Generasi Z

Generasi Z menjadi generasi yang mendominasi dunia, sekaligus penggerak tren dan gaya hidup modern. Gen Z dikenal sebagai generasi yang lekat dengan budaya visual dan validasi digital. Mengutip dari hasil survei oleh Sylvan Apparel, wanita muda usia 18-24 tahun merupakan konsumen utama fast fashion saat ini. Dalam lingkup ini, mahasiswa menjadi kelompok yang rentan terdorong pada perilaku konsumtif fashion karena intensitas interaksi sosial, tren media sosial, serta kebutuhan untuk membangun citra diri di lingkungan pergaulan. 

Arina, mahasiswi yang hidup di salah satu kota urban, Malang, pun turut mengakui adanya kebutuhan untuk membangun citra diri lewat penampilan dan fashion. Sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, Arina mengakui penampilan menjadi hal yang penting karena wujud dari  representasi diri dan impresi pertama bagi orang lain. Media sosial menjadi arus yang sangat kuat mendorong mahasiswa untuk ‘merasa butuh’ pada tren outfit yang mereka lihat di media sosial. 

Meski pernah terjebak pada pola konsumsi yang impulsif, Arina mengaku telah muncul kesadaran akan dampak dan benang merah dari budaya konsumerisme yang berlebihan. Dan kesadaran itu kini sedang ia coba untuk realisasikan pada konsumsi fashion yang lebih bijak. 

“Sekarang sudah mulai aware ya dengan isu isu seperti itu, jadi kalau mau beli sesuatu mikirnya 2-3 kali. Butuh ga ya? dan mulai jadi outfit repeater. Menurutku dari outfit repeater itu justru bisa memperkuat identitas dan representasi diri,” ucap Arina saat berbincang dengan Tim Visentris. 

Krisis Identitas Dalam Tumpukan Tren Fashion

Sebagai seorang akademisi sekaligus generasi milenial, Tsaniah Fariziah, M.Sos., memandang fenomena ini dari perspektif yang lebih kritis. Ia menyoroti bahwa generasi muda saat ini lahir di era dimana informasi dan tren sangat mudah dijangkau, berbeda dengan generasinya yang lebih mengutamakan nilai kegunaan jangka panjang. 

Ia menuturkan bahwa konsumerisme berlebihan ini berakar pada krisis identitas. Anak muda seringkali merasa perlu mengikuti setiap tren karena menganggapnya sebagai syarat diterimanya dalam suatu lingkungan. 

“Generasi muda sekarang itu krisis identitas. Terlalu banyak terpapar tren dan kebiasaan sosial orang lain di media sosial menjadikan generasi z merasa kebingungan akan nilai-nilai yang harus mereka pegang,” tuturnya.

Salah satu contoh dampak konkret nya yaitu dimana anak muda merasa perlu membuat persona yang berbeda pada akun media sosial instagram. First account dan second account menjadi saksi bagaimana anak muda bahkan tidak merasa nyaman menjadi diri sendiri dan apa adanya. 

Pergeseran makna sebuah pakaian saat ini mencerminkan benturan antara kualitas yang tahan lama dan tuntutan tren instan dan validasi sosial. Sementara penjahit tradisional mempertahankan detail produk, dominasi fast fashion yang murah memicu krisis identitas di kalangan generasi muda. Namun, munculnya kesadaran untuk menjadi outfit repeater menunjukkan bahwa representasi diri yang kuat justru lahir dari konsumsi yang bijak dan fungsional, bukan sekedar mengikuti arus algoritma media sosial. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *