Setelah Jarang Dipakai, Kemana Pakaian Itu Pergi?

Foto: Dok Pribadi/Visentris

Lemari yang penuh tidak selalu berarti semua pakaian masih sering digunakan. Bagi sebagian mahasiswa, ada pakaian yang hanya sekali dipakai, tersimpan berbulan-bulan, bahkan sampai lupa pernah memilikinya. Kondisi itu membuat sebagian pakaian berhenti digunakan meski masih tersimpan di dalam lemari.

Ketika akhirnya dikeluarkan dari lemari pakaian-pakaian itu tidak selalu berakhir di tempat yang sama. Ada yang diberikan kepada orang lain, dijual kembali, dikirim ke rumah, atau tetap disimpan untuk waktu yang tidak tentu.

Pakaian yang Berhenti di Lemari

Elsa (20) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, masih menyimpan sebuah kemeja yang terakhir dipakainya saat awal menjadi mahasiswa. Sudah sekitar satu tahun lebih pakaian itu tidak kembali digunakan. Ia mengaku kurang cocok dengan modelnya. Dari pakaian yang ada di asramanya, setidaknya sepuluh pasang pakaian masuk dalam kategori jarang dipakai.

Ada pula pakaian yang sengaja dibeli untuk momen tertentu. Saat Idul fitri, misalnya,Elsa memilih tema pakaian yang berbeda setiap tahun. Pakaian bertema Melayu yang dipakai tahun ini hanya digunakan sekali. Tahun sebelumnya, ia mengenakan pakaian bergaya Dubai. Setelah momen tersebut lewat, pakaian itu kembali masuk lemari dan bahkan hampir tidak tersentuh untuk dikenakan kembali.

“Biasanya ada di lemari. Kalau sama ibu aku dikasih ke orang daripada enggak kepakai,” tutur Elsa.

Cerita serupa muncul dari Diva (22) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Ia memperkirakan ada lebih dari sepuluh pakaian di lemarinya yang jarang digunakan dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Sebagian tidak dipakai karena ukurannya sudah tidak sesuai. Sebagian lainnya masih muat, tetapi ia lupa bahwa pakaian tersebut masih ada.

“Aku merasa enggak punya baju,” katanya, meski di sisi lain lemarinya menyimpan banyak pakaian.

Ketika Lemari Mulai Penuh

Bagi Khilda (21) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, pakaian yang jarang dipakai tidak langsung dianggap harus dikeluarkan. Ia lebih dulu mencari cara agar pakaian tersebut bisa digunakan kembali. Salah satunya dengan mencari pasangan pakaian yang cocok seperti mix and match.

“Biasanya aku cari celana yang bisa masuk sama outfit itu sehingga baju bisa kepakai lagi,” ujar Khilda.

Namun, tidak semua pakaian bisa diselamatkan dengan cara yang sama. Khilda memiliki sejumlah celana yang jarang digunakan karena ukuran atau hasil permak yang tidak sesuai. Ia memperkirakan pakaian yang jarang dipakai mencapai belasan, meski belum pernah menghitung secara pasti.

Kondisi serupa juga membuat pakaian menumpuk. Khilda mengatakan ruang penyimpanan celananya mulai penuh. Ia biasanya baru melakukan penyortiran ketika lemari sudah terasa terlalu sesak. Penyortiran itu tidak dilakukan secara rutin. Dalam setahun ia memperkirakan hanya melakukannya sekitar satu kali. Sekali sortir jumlah pakaian yang dikeluarkan bisa mencapai satu setengah dus berukuran sekitar dus mi instan.

Dari Lemari ke Tangan Orang Lain

Setelah keluar dari lemari, pakaian-pakaian tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Elsa pernah melakukan preloved kepada teman untuk pakaian yang hanya digunakan sekali, termasuk pakaian pantai yang menurutnya terlalu ribet untuk kembali dipakai. Pakaian Idulfitri yang sudah tidak digunakan juga bisa diberikan kepada orang lain bersama ibunya.

Diva memilih memberikan pakaian kepada keluarganya. Pakaian yang sudah jarang dipakai biasanya ia simpan terlebih dahulu sampai pulang. Ia juga pernah melakukan preloved dan memberikan pakaian kepada teman.

Sementara itu, Khilda lebih sering mengirim pakaian ke daerah asalnya. Sesampainya di sana, pakaian tersebut dibagikan oleh orang tuanya kepada orang yang membutuhkan. Ia jarang melakukan preloved karena beberapa pakaian sudah mengalami perubahan ukuran.

“Jadi lebih baik kasih ke orang yang membutuhkan karena masih layak pakai banget,” ujar Khilda.

Pakaian yang jarang dipakai juga tidak selalu langsung meninggalkan lemari. Bagi Elsa, pakaian yang masih bagus kemungkinan akan dijual melalui marketplace atau preloved. Pakaian yang sudah beberapa kali digunakan lebih mungkin diberikan kepada orang lain.

Satu pakaian bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di dalam lemari sebelum akhirnya berpindah tangan. Ada yang dijual, diberikan, dikirim ke daerah asal, atau tetap menunggu kesempatan untuk dipakai kembali. Nasib pakaian setelah tidak lagi menjadi pilihan ternyata tidak berhenti ketika pintu lemari ditutup.