Malang, Lemari Aliya pernah penuh hingga sesak. Anehnya, setiap pagi ia masih merasa tidak punya pakaian yang bisa dikenakan.
Bukan karena pakaiannya sedikit. Sebagian justru dibeli ketika tren estetika tertentu sedang ramai di media sosial. Saat Coquette menjadi tren, ia membeli atasan dengan renda dan pita. Ketika Old Money mulai ramai, blazer linen krem dan celana bahan ikut masuk ke lemarinya.
Aliya (22), karyawan suatu perusahaan yang pernah mengikuti berbagai tren estetika fashion di TikTok, mulai menyadari ada yang keliru dari kebiasaan tersebut. Pakaian-pakaian yang memenuhi lemarinya ternyata lebih banyak dibeli untuk memenuhi standar estetika tertentu dibanding karena benar-benar ia sukai.
“Kadang aku suka beli biar keliatan sama kerennya kaya orang lain gitu karena lagi viral,” ujar Aliya.
Saat Label Menjadi Panduan
Pengalaman Aliya memperlihatkan bagaimana fashion kini tidak hanya berbicara tentang pakaian, tetapi juga nama yang melekat di belakangnya. Clean Girl, Coquette, hingga Old Money menjadi istilah yang digunakan untuk menggambarkan karakter penampilan tertentu.
Bagi Nadia (21), mahasiswi yang mengidentifikasi gaya berpakaiannya sebagai Clean Girl, label tersebut justru membuat pencarian gaya menjadi lebih mudah. Ia menggambarkan Clean Girl sebagai gaya yang sederhana, rapi, dan tidak terlihat terlalu berusaha, dengan warna-warna aman seperti putih, krem, dan hitam.
“Sebutan kayak gitu tuh ibaratnya kayak brandingan atau tag aja,” kata Nadia.
Menurut Nadia, istilah yang spesifik membuat pencarian inspirasi fashion di TikTok dan Instagram tidak lagi terlalu luas. Orang dengan selera yang sama juga lebih mudah menemukan satu sama lain.
“Jadi kerasa punya circle yang sama aja gitu,” ujarnya.
Pengalaman tersebut sejalan dengan penelitian Aziz, Mulyana, dan Hamid dalam Journal of Human and Education pada September 2026. Penelitian terhadap enam pengguna TikTok Generasi Z berusia 18–27 tahun di Tangerang menemukan bahwa TikTok berperan dalam membentuk pengetahuan tentang tren, citra diri, dan identitas sosial melalui fashion. Fashion dalam ruang digital juga berkaitan dengan validasi sosial dan cara anak muda membangun identitas.
Bagi sebagian orang, label dapat menjadi bahasa untuk mengenali selera. Seseorang tidak perlu menjelaskan panjang lebar seperti apa gaya yang disukai ketika sebuah istilah sudah dapat mewakili gambaran tersebut.
Namun, ketika sebuah gaya memiliki ciri yang semakin jelas, muncul pula pertanyaan tentang batasnya. Seberapa jauh seseorang masih bisa bebas keluar dari ciri yang melekat pada label tersebut?
Ketika Gaya Mulai Terasa Seperti Kotak
Nadia merasakan pertanyaan itu ketika dirinya ingin mengenakan pakaian yang lebih heboh atau berwarna. Keinginan tersebut terkadang berhenti karena muncul pikiran bahwa pakaian tersebut tidak lagi sesuai dengan citra Clean Girl yang selama ini ia bangun.
“Ada beban kecil dikit gitu sih kalo mau pake pakaian yang ga sesuai brandingan,” ujarnya.
Batas itu menjadi pengalaman yang lebih panjang bagi Aliya. Pada usia 21 hingga 22 tahun, ia mengaku sempat mengikuti berbagai estetika yang sedang ramai di TikTok. Setiap istilah baru dan pakaian baru yang dianggap dapat membuat penampilannya sesuai dengan tren.
Namun, gaya yang terus berganti justru membuatnya mempertanyakan gaya personalnya sendiri.
“Sampai aku mikir, ‘Aku tuh sebenarnya mau pakai gaya apa sih’” tuturnya.
Ia merasa pakaian yang dikenakan perlahan berubah menjadi semacam kostum untuk mempertahankan citra tertentu.
“Aku kerasa kayak cuma lagi pake kostum demi dapet validasi atau biar kelihatan melek tren di mata orang lain,” tutur Aliya.
Bagi Aliya, pengalaman mengikuti berbagai estetika akhirnya membawanya pada satu titik balik. Ia mulai melakukan decluttering dan menyingkirkan pakaian yang dibeli hanya karena mengikuti tren.
Dari pakaian yang tersisa, ia justru menemukan pola sederhana. Ia paling sering memilih kemeja, celana kulot yang pas di badan, dan sneakers.
Tidak ada satu pun yang harus dipaksakan masuk ke dalam estetika tertentu.
“Mau orang bilang itu gaya ‘Casual’, ‘Streetwear’, atau gak ada namanyapun, aku dah ga peduli sih. Yang penting nyaman aja di badan aku,” katanya.
Mencari Gaya di Luar Nama
Pengalaman Nadia dan Aliya menunjukkan bahwa label estetika tidak selalu memiliki arti yang sama bagi setiap orang. Bagi Nadia, label menjadi cara untuk menemukan inspirasi dan komunitas. Namun, label yang sama juga dapat menimbulkan keraguan ketika ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
Sementara itu, pengalaman Aliya memperlihatkan konsekuensi ketika label tidak lagi sekadar menjadi referensi. Mengikuti berbagai estetika membuatnya merasa perlu menyesuaikan pakaian dengan tren hingga akhirnya mempertanyakan identitas gayanya sendiri.
Aliya kemudian melihat bahwa gaya berpakaian seharusnya tidak berhenti pada citra dan estetika. Ia memilih pakaian berdasarkan kenyamanan dan rasa percaya diri, tanpa merasa harus memenuhi kategori tertentu.
“Fashion itu cara kamu mengekspresikan diri sendiri, bukan ngejar kepuasan algoritma sosmed,” ujarnya.
Label estetika memang dapat membantu seseorang menemukan referensi baru. Namun, tren yang terus berganti juga menunjukkan bahwa sebuah label tidak selalu menetap. Ketika satu estetika mulai ditinggalkan, istilah baru dapat kembali muncul dan menawarkan gambaran baru tentang bagaimana seseorang sebaiknya tampil.
Pada akhirnya, fashion mungkin tidak selalu membutuhkan nama untuk menjelaskan siapa pemakainya. Sebab gaya dapat berubah mengikuti suasana, kebutuhan, dan pengalaman seseorang.
Jika sebuah gaya harus memiliki nama agar mudah dikenali, apakah kita sedang menemukan identitas melalui fashion, atau justru sedang belajar menyesuaikan diri dengan identitas yang lebih dulu dibuat oleh tren?
