Rupiah Melemah, Pasar Loak Comboran Tetap Jadi Penyangga Barang Bekas di Malang

Malang, 11 Juni 2026 – Pelemahan nilai rupiah tidak memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas jual beli fashion bekas di Pasar Loak Comboran, Kota Malang. Di tengah tekanan ekonomi nasional, pasar barang bekas ini tetap berjalan normal dengan pola transaksi yang tidak banyak berubah.

Harga pakaian bekas di pasar ini relatif stabil karena tidak terikat pada biaya produksi baru maupun fluktuasi bahan baku impor seperti pada industri fashion baru. Nilai jual lebih banyak ditentukan oleh kondisi barang, kelayakan pakai, serta hasil tawar-menawar antara pedagang dan pembeli.

Secara nasional, pelemahan rupiah yang sempat berada di kisaran Rp18.190 pada awal Juni 2026 menjadi perhatian sejumlah sektor ekonomi. Bank Indonesia juga merespons kondisi tersebut dengan penyesuaian kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Namun dampak langsung terhadap pasar barang bekas seperti di Comboran cenderung tidak terlihat signifikan.

“Kalau saya sih nggak terlalu terasa, Mas. Jualan ya tetap seperti biasa,” ujar Iyong (54), pedagang barang bekas di Pasar Loak Comboran.

Menurutnya, tidak ada perubahan berarti pada harga jual maupun modal karena barang yang diperdagangkan merupakan barang bekas yang diperoleh dari berbagai sumber.

“Nggak ada perubahan yang terasa. Masih biasa,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa pola transaksi tetap sama seperti sebelumnya, di mana pembeli datang secara fluktuatif tergantung waktu dan kondisi pasar.

“Ya masih ada pembeli. Kadang rame, kadang sepi, biasa,” ujarnya.

Pasar Barang Bekas dan Daya Tahan Konsumen

Pedagang lain, Adi (63), yang telah berjualan sejak 1998, menilai Pasar Loak Comboran masih memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Selain harga yang lebih terjangkau, variasi barang menjadi alasan utama konsumen tetap datang.

“Karena barangnya lengkap dan harganya terjangkau. Banyak juga yang cari barang unik yang tidak ada di tempat lain,” kata Adi.

Adi menjelaskan stok barang yang dijual berasal dari berbagai sumber, mulai dari kos-kosan kosong hingga jaringan pribadi.

“Saya cari sendiri. Kadang dari kos-kosan kosong, dari kenalan, atau dari penjaga kos yang kasih informasi. Intinya harus punya jaringan,” ujarnya.

Sementara itu, Putro (28) sebagai pembeli mengaku memilih barang bekas karena alasan harga dan ketersediaan barang yang unik.

“Ya karena harganya lebih murah, Mas. Terus kadang barangnya masih bagus,” katanya.

Alternatif di Tengah Tekanan Daya Beli

Di tengah pelemahan rupiah dan tekanan daya beli masyarakat, pasar barang bekas seperti Comboran menunjukkan pola yang relatif stabil. Hal ini terjadi karena karakteristik produk yang tidak bergantung pada impor maupun biaya produksi baru.

Berbeda dengan sektor fashion baru yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan biaya bahan baku, harga di pasar loak lebih ditentukan oleh kondisi fisik barang dan kesepakatan langsung antara penjual dan pembeli.

Fenomena ini juga sejalan dengan berbagai temuan mengenai tren konsumsi barang bekas di Indonesia, di mana masyarakat cenderung beralih ke produk alternatif saat daya beli melemah.

Kondisi di Pasar Loak Comboran menunjukkan bahwa sektor informal memiliki mekanisme adaptasi tersendiri terhadap perubahan ekonomi makro. Meski tekanan nilai tukar terjadi di tingkat nasional, dampaknya tidak selalu merata di seluruh sektor ekonomi.

Bagi sebagian masyarakat, pasar barang bekas bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang adaptasi ekonomi untuk mendapatkan kebutuhan sandang dengan harga lebih terjangkau.

Sementara bagi pedagang, keberlangsungan usaha sangat bergantung pada jaringan distribusi informal, kualitas barang, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar.