Perubahan Belanja Fashion Mahasiswa UMM

MALANG — Keinginan mahasiswa untuk tetap tampil rapi dan menarik belum hilang. Namun, cara memenuhi kebutuhan fashion mulai berubah. Membeli pakaian yang dulu bisa dilakukan lebih spontan, kini semakin sering diikuti pertimbangan harga, kebutuhan, dan kondisi keuangan.

Perubahan itu muncul di tengah tekanan biaya hidup yang masih terasa dalam beberapa bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 mencapai 2,72 persen. Kelompok pengeluaran pakaian dan alas kaki juga masih mengalami kenaikan indeks sebesar 0,60 persen dibanding periode sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan berpakaian tetap mengalami penyesuaian harga meski tidak setinggi kelompok pengeluaran lain.

Di saat yang sama, tekanan ekonomi juga mulai terlihat lebih luas. Dilansir dari Bank Indonesia, Proyeksi inflasi Indonesia pada Mei 2026 diperkirakan mendekati 3 persen seiring meningkatnya biaya di sejumlah sektor konsumsi masyarakat.

Bagi mahasiswa, perubahan itu tidak selalu terlihat dari berhentinya konsumsi fashion, tetapi dari cara mengambil keputusan sebelum membeli.

Mutia, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengaku mulai mengurangi frekuensi membeli pakaian dibanding sebelumnya.

“Biasanya saya lebih sering belanja baju satu hingga tiga kali dalam sebulan. Namun sekarang saya mengurangi frekuensinya, misal dalam sebulan cukup sekali saja,” ujarnya.

Pengurangan frekuensi itu diikuti perubahan cara menentukan pembelian. Mutia mengatakan dirinya kini lebih selektif dan berusaha membedakan kebutuhan dengan keinginan.

“Saya berusaha membeli hanya yang benar-benar diperlukan, bukan sekadar ikut-ikutan atau tergoda,” katanya.

Perubahan serupa juga dirasakan Zahro, mahasiswa Fakultas Agama Islam UMM. Menurutnya, membeli pakaian sekarang tidak lagi hanya soal menemukan model yang disukai, tetapi juga menyesuaikan kemampuan finansial.

Ia mengaku mulai membandingkan harga dan kualitas sebelum membeli.

“Kalau tidak sesuai budget, saya tidak akan memaksakan diri. Apalagi jika harganya sudah sampai ratusan ribu atau jutaan. Saya akan pikirkan matang-matang,” ujarnya.

Meski lebih berhati-hati mengeluarkan uang, kebutuhan untuk tampil baik tidak sepenuhnya ditinggalkan. Cara memenuhinya yang berubah.

Mia, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, mengaku kini lebih sering menunda pembelian dan menunggu promo dibanding membeli secara langsung.

“Semakin mahal harga baju, saya semakin berpikir-pikir untuk beli,” katanya.

Ia memilih membeli pakaian yang mudah dipadupadankan, mencari diskon, dan mempertimbangkan daya pakai agar pengeluaran tidak terasa sia-sia.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan biaya hidup tidak membuat mahasiswa berhenti mengonsumsi fashion. Yang berubah adalah cara mereka menentukan prioritas. Fashion masih dianggap penting, tetapi keputusan membeli kini semakin dipengaruhi pertimbangan fungsi, kebutuhan, dan kemampuan ekonomi.