Peringati Hari Batik Nasional, Begini Cara Mahasiswa UMM Melestarikan Budaya Indonesia

MALANG, Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini, Jumat (2/10/2026), menjadi momen refleksi bagi generasi muda untuk menjaga warisan budaya Nusantara. Di lingkungan kampus Kota Malang, kesadaran mahasiswa untuk mengenakan batik terus meningkat seiring pergeseran fungsi batik dari busana formal menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Fenomena ini sejalan dengan temuan riset Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (2025) yang mencatat bahwa 88,9 persen responden Generasi Z sepakat bahwa memakai batik merupakan bentuk nyata dari pelestarian budaya dan identitas nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mencatat Gen Z sebagai pasar potensial utama untuk pertumbuhan industri batik modern melalui platform e-commerce dan media sosial.

Dua mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fira dan Andrean (20), menilai bahwa inovasi potong busana dan motif modern menjadi kunci utama mengapa batik kini semakin diminati oleh kalangan mahasiswa.

Fira mengungkapkan bahwa tampilan batik saat ini telah beradaptasi dengan selera anak muda. Kehadiran variasi outer batik serta permainan warna pastel yang lembut memupus kesan kaku yang dulu kerap melekat.

“Kalau sekarang itu dibikin modern. Jadi mulai tertarik sih pakai batik meskipun bukan acara-acara yang formal,” ujar Fira.

Ia menambahkan bahwa adopsi tren mode modern oleh para pengrajin sangat krusial agar batik dapat bertahan di pasar. Menurutnya, optimalisasi media sosial memiliki pengaruh hingga 80 sampai 90 persen dalam menjangkau preferensi generasi muda. Fira menilai pelestarian tidak selalu menuntut kewajiban berbatik setiap hari, melainkan konsistensi mengenakannya di momen yang tepat, termasuk saat berwisata.

“Jangan malu pakai batik soalnya modelnya udah banyak kok, yang Gen Z habis,” tegas Fira.

Pandangan senada diutarakan oleh Andrean. Mahasiswa berusia 20 tahun ini membuktikan kebanggaannya berbatik dengan memadukan kemeja batik warna hitam dengan celana oversized (kelombor) untuk menciptakan kesan santai namun tetap bergaya (outfit sekenanya).

Andrean menekankan pentingnya menjaga kepemilikan budaya lokal melalui tindakan nyata. Bagi Andrean, faktor kualitas bahan tetap menjadi pertimbangan utamanya dibandingkan sekadar harga.

“Batik ini biar enggak gitu-gitu aja harus dikustom lagi biar lebih menarik. Pengenalannya misal ke orang asing, kita bisa bikin konten lagi pakai batik di media sosial untuk nunjukin kalau batik itu enak dipakai dan motifnya keren,” jelas Andrean.

Ia juga berpesan agar generasi muda tidak ragu mengekspresikan diri dengan batik agar warisan budaya tradisional Indonesia ini terus hidup dan tidak diklaim oleh negara lain.