Paradox of Need: Saat Kebutuhan dan Keinginan Tak Lagi Punya Batas

Setiap hari, masyarakat disuguhi ratusan bahkan ribuan informasi melalui media sosial. Di sela video hiburan, muncul iklan pakaian baru, setelah membuka Instagram, muncul unggahan teman dengan outfit yang sedang tren. Di TikTok, algoritma kembali menawarkan rekomendasi produk serupa melalui konten haul, outfit check, atau promosi influencer dan content creator.

Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan tidak lagi lahir semata-mata dari kekurangan atau fungsi. Kebutuhan dapat muncul karena seseorang terus-menerus dihadapkan pada informasi yang membuatnya merasa tertinggal. Inilah yang disebut paradox of need, situasi ketika batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin sulit dibedakan.

Ketika Algoritma Menentukan Apa yang Kita Butuhkan

Perkembangan media sosial membuat proses konsumsi tidak lagi berjalan secara pasif. Algoritma dirancang untuk mempelajari perilaku pengguna dan menampilkan konten yang dianggap relevan dengan minat mereka. Akibatnya, seseorang yang sekali melihat konten fashion dapat terus menerima rekomendasi serupa dalam jumlah besar.

Menurut laporan Digital 2025 Indonesia, Indonesia memiliki lebih dari 143 juta identitas pengguna media sosial aktif. Paparan yang berlangsung secara berulang ini membuat pengguna terus berinteraksi dengan berbagai tren, promosi, dan rekomendasi produk yang sesuai dengan preferensi mereka. Khosy (20), pengguna media sosial yang aktif mengikuti tren juga mengatakan bahwa satu klik like bisa langsung memberinya arus algoritma yang serupa.

“Tanpa dicari sudah muncul sendiri. awalnya cuma nge-like, tiba tiba setelah itu fyp isinya konten outfit-outfit pendaki kece semua,” ujar Khosy, mahasiswa yang gemar mendaki gunung. Ia mengaku media sosial kerap kali membuatnya merasa harus memiliki outfit hiking tertentu berdasarkan konten di beranda TikTok-nya.

Dalam konteks ini, algoritma tidak hanya menunjukkan produk, tetapi juga membangun persepsi tentang apa yang sedang populer dan layak dimiliki. Semakin sering seseorang melihat sebuah tren, semakin besar kemungkinan tren tersebut dianggap sebagai kebutuhan.

Industri Fashion dan Produksi Kebutuhan Baru

Di balik tren yang terus berganti, terdapat strategi pemasaran yang dirancang untuk menciptakan rasa urgensi. Diskon terbatas, peluncuran koleksi baru, hingga promosi dari influencer yang menjadi cara umum yang digunakan untuk mendorong konsumen melakukan.

Filsuf dan sosiolog Prancis, Jean Baudrillard, menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi mengkonsumsi barang hanya karena fungsi yang dimilikinya, tetapi juga karena makna simbolik yang melekat pada barang tersebut. Dalam industri fashion, pakaian tidak hanya dijual sebagai produk, melainkan juga sebagai representasi gaya hidup dan identitas.

Akibatnya, kebutuhan tidak lagi bersifat tetap. Ia terus diproduksi dan diperbarui melalui tren, campaign pemasaran, serta berbagai bentuk komunikasi yang membuat konsumen merasa selalu ada sesuatu yang kurang. Khususnya perempuan, karena kebutuhan sandang yang lebih kompleks juga turut menciptakan tren yang lebih cepat berubah.

Hal ini juga yang dirasakan Rifry, mahasiswi yang aktif mengikuti tren media sosial. “Untuk perempuan, tren fashion fashion cepat sekali berubah. Bisa dalam hitungan minggu, tidak harus sampai sebulan. Kadang membuat bingung ingin mengikuti yang mana,” ujar Rifry (20), ketika berbincang dengan tim Visentris.

Dari Konsumsi ke Refleksi

Fenomena paradox of need menunjukkan bahwa kebutuhan pada era digital tidak selalu lahir dari kebutuhan itu sendiri. Algoritma, lingkungan sosial, dan strategi pemasaran bekerja secara bersamaan untuk membentuk persepsi tentang apa yang dianggap penting untuk dimiliki.

Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, tantangan terbesar bukanlah menghindari tren atau menolak perkembangan fashion. Tantangan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang muncul karena dorongan eksternal. Sebab ketika kebutuhan terus didefinisikan oleh apa yang kita lihat setiap hari, rasa cukup menjadi sesuatu yang semakin sulit ditemukan.