
Malang – Harga baju makin murah, pilihan makin banyak, checkout makin mudah. Sekilas, ini terdengar seperti kabar baik bagi kantong mahasiswa. Tetapi di akhir bulan, uang tetap saja tipis, bahkan untuk urusan pakaian yang katanya murah itu. Di sinilah fast fashion bekerja diam-diam, bukan dengan satu pembelian besar, melainkan dengan puluhan transaksi kecil yang masing-masing terasa tidak berarti.
Sekali Checkout, Berkali-kali Menyesal
Nimas, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang mengaku pernah membeli pakaian hingga lima kali dalam seminggu. Tidak semuanya karena kebutuhan. Ada kalanya ia membeli hanya karena penasaran atau takut tertinggal tren.
“Aku karena penasaran sama FOMO juga ya, jadi kubeli,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Ia menyadari harga murah justru sering menjadi pemicu pembelian berulang. Menurutnya, banyak orang tergoda melakukan checkout hanya karena ada promo atau diskon kecil.
“Ada promo sedikit pun atau harga yang murah, itu mereka bakalan beli. Dan aku pun juga kayak gitu.”
Yang awalnya hanya satu pakaian, lama-kelamaan berubah menjadi tumpukan barang di lemari. Nimas bahkan mengaku lemarinya kini sudah tidak cukup menampung koleksi pakaiannya.
Murah Bukan Berarti Perlu
Pengalaman serupa juga dirasakan Fachra, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Ia tidak terlalu sering berbelanja, tetapi mengakui harga murah dan model yang menarik sering kali membuatnya tergoda.
“Lebih sering yang lucu. Hahaha. Kan cewek-cewek, ‘Lucu ah, bagus nih kalau dibawa ke kampus.'” katanya.
Meski begitu, tidak semua barang yang menarik akhirnya dibeli. Ia lebih sering menyimpan produk di keranjang dan mempertimbangkannya kembali sebelum checkout.
Bagi Fachra, keputusan membeli pakaian biasanya muncul dari kombinasi antara keinginan dan suasana hati, bukan kebutuhan yang mendesak.
Harga Murah, Pengeluaran Berulang
Sementara itu, Rifry, mahasiswi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang, melihat fenomena ini dari sisi yang berbeda. Menurutnya, pakaian murah memang bisa menghemat pengeluaran dalam jangka pendek. Namun jika kualitasnya rendah dan cepat rusak, konsumen justru akan membeli kembali barang yang sama.
“Kalau yang murah itu kualitasnya kurang bagus, sama aja orang itu akan beli lagi. Kan jadinya boros juga.” katanya.
Ia mengaku pernah melakukan impulsive buying, tetapi mulai mengurangi kebiasaan tersebut setelah menyadari banyak barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan.
Baginya, murah tidak selalu berarti hemat. Dalam banyak kasus, harga rendah justru membuat seseorang lebih mudah mengeluarkan uang berkali-kali.
Ketika Murah Terasa Tidak Berbahaya
Fast fashion tidak selalu membuat seseorang menghabiskan uang dalam satu transaksi besar. Justru sebaliknya. Ia bekerja melalui pembelian-pembelian kecil yang terasa sepele. Harga puluhan ribu rupiah membuat keputusan membeli terasa ringan, padahal jika diakumulasikan, jumlahnya bisa jauh lebih besar dari yang disadari.
Di tengah kemudahan belanja online dan derasnya arus tren fashion, mahasiswa dihadapkan pada pilihan yang semakin rumit. Bukan lagi soal mampu atau tidak mampu membeli pakaian, melainkan soal membedakan kebutuhan dan keinginan. Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar sadar kapan berhenti, atau masih menunggu kantong yang berbicara lebih dulu?
