Menjaga Api, Membentuk Identitas: Segoro Geni

Menjaga tanduk, membawa api, dan terus mengembangkan tampilan.

Malang – Di tengah pertunjukan Bantengan di Kepuharjo, Karangploso, kepala banteng dengan tanduk menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali. Namun, bagi Segoro Geni, tampilan pertunjukan tidak berhenti pada kepala banteng dan kostum yang dikenakan pemain.

Ada simbol, bentuk, dan detail yang terus dipertahankan sekaligus dikembangkan.

Segoro Geni berdiri pada 2023. Kini, kelompok Bantengan ini memiliki lebih dari 60 anggota dari berbagai desa di Kabupaten Malang. Dalam pertunjukan di Kepuharjo, 45 anggota hadir dan terlibat. Usia bukan menjadi batas. Siapa saja yang tertarik dan memiliki semangat berkesenian dapat bergabung.

Bagi mereka, kostum menjadi salah satu bagian yang membedakan mereka dari kelompok Bantengan lain.

“Yang membedakan terutama koreografinya. Selain itu, bentuk kostum dan kain yang digunakan juga berbeda, sehingga Bantengan menambah identitas pertunjukan,” ujar Mila, pemimpin Segoro Geni.

Api yang Menjadi Penanda

Salah satu detail yang melekat pada kostum Segoro Geni adalah simbol api.

Api tersebut tidak hadir sebatas sebagai ornamen. Ia menjadi simbol semangat yang kelompok bawa dalam berkesenian.

“Api merupakan simbol dari Segoro Geni dan menggambarkan semangat yang terus menyala,” kata Mila.

Simbol tersebut tidak berdiri sendiri. Bentuk kepala banteng dan tanduk tetap dipertahankan sebagai bagian utama dari tampilan Bantengan. Sementara itu, pakaian pemain yang pada dasarnya menggunakan kaus terus dikembangkan menjadi beberapa variasi model seragam.

Perubahan juga terlihat dari cara kelompok mengembangkan kostum. Menurut Mila, pada awalnya kostum lebih sederhana. Seiring berjalan waktu, desain mulai ditambahkan, termasuk melalui sablon.

Perubahan itu membuat tampilan Segoro Geni tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Namun, beberapa unsur utama tetap dipertahankan.

“Kepala banteng dan tanduk tetap ada. Kalau yang banyak berubah justru di koreografi,” jelas Mila.

Di dalam pertunjukan pun setiap karakter Bantengan memiliki bentuk dan ciri tersendiri. Akbar Maulana, koordinator koreografi Segoro Geni, mengatakan perbedaan bentuk tersebut menjadi bagian dari karakter masing-masing Bantengan.

Kostum dari Sisi Pemain

Bagi pemain, kostum bukan hanya bagian dari tampilan saat tampil. Ada pengalaman tersendiri ketika harus mengenakannya dan bergerak di dalam pertunjukan.

Dani Ageng telah mengikuti kesenian sejak kelas 5 SD dan kini sekitar delapan tahun menjadi bagian dari dunia Bantengan. Ia mengaku bergabung karena ingin ikut melestarikan budaya sekaligus menyukai kesenian tersebut.

Saat pertama menjadi pemain Bantengan, ia merasa bangga dan senang.

Selama tampil, Dani juga merasa aman dan nyaman menggunakan kostum. Meski begitu, beberapa bagian kostum memang membutuhkan bantuan teman ketika dikenakan.

Pengalamannya selama mengikuti Bantengan tidak hanya soal pertunjukan. Ia juga mendapatkan teman dari berbagai desa dan pengalaman baru dalam dunia seni.

“Yang paling terasa banyak teman dari desa lain dan pengalaman baru dalam berkesenian,” ujar Dani.

Berkembang Tanpa Kehilangan Bentuk

Segoro Geni menunjukkan bahwa identitas visual sebuah kelompok tidak harus selalu dibuat baru. Ada bagian yang dikembangkan, tetapi ada pula yang tetap dipertahankan.

Kostum dapat berubah melalui desain dan variasi seragam. Namun kepala banteng, tanduk, dan simbol api tetap menjadi bagian yang melekat dalam penampilan mereka.

Di atas panggung, semua itu kemudian bertemu dengan gerakan dan koreografi yang menjadi ciri kelompok.

Bagi Segoro Geni, tampilan bukan sekadar soal bagaimana pemain terlihat. Dari kostum hingga simbol yang dikenakan, ada bagian dari kelompok yang ikut dibawa setiap kali mereka tampil.

Tanduk tetap dipertahankan. Api tetap dibawa. Sementara tampilannya terus berkembang mengikuti perjalanan kelompok.