Menimbang Gaya di Tengah Arus Tren Fashion

(Foto: Visentris/ Lea Rachma)

Media sosial kini menjadi salah satu sumber inspirasi fashion bagi anak muda. Berbagai rekomendasi pakaian, tren pakaian, dan iklan dari influencer dapat dengan mudah ditemukan hanya dengan menggulir layar. Anak muda kini dihadapkan pada berbagai pertimbangan dalam memilih pakaian. Selain kebutuhan dan kondisi keuangan, keinginan untuk tampil menarik juga menjadi faktor yang memengaruhi pilihan mereka.

Wahyu, mahasiswa Ilmu Komunikasi asal Malang, salah satu anak muda yang memperhatikan penampilan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, cara berpakaian memiliki peran penting, terutama di lingkungan kampus. Menurutnya, penampilan sering kali menjadi hal pertama yang dilihat orang lain sebelum mengenalnya lebih jauh.  

“Kalau ke kampus ga rapi, kesannya kita ga niat untuk belajar atau ketemu orang,” ujar Wahyu.

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Wahyu mengaku cukup sering terlibat dalam kegiatan presentasi dan berbagai proyek yang mengharuskannya tampil di depan banyak orang. Kondisi tersebut membuatnya lebih memperhatikan penampilan saat berada di kampus. Ia berusaha berpakaian rapi dan menarik agar terlihat lebih percaya diri.

Media sosial juga menjadi salah satu sumber inspirasi Wahyu dalam menentukan gaya berpakaian. Ia mengaku bahwa ia sering menggunakan Tiktok sebagai referensi saat memilih pakaian. Ia menemukan banyak rekomendasi pakaian dalam aplikasi tersebut. Konten-konten tersebut membuatnya ingin mencoba berbagai gaya baru yang sesuai dengan seleranya.

“Aku itu lapar mata banget kalau lihat rekomendasi outfit di TikTok,” katanya.

Meski begitu, ia tidak langsung membeli semua barang yang dia inginkan. Wahyu masih mempertimbangkan kondisi keuangan dan kebutuhannya. Ia lebih menyukai pakaian yang modelnya sederhana, mudah dipadukan, dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Arina, mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Bekasi, juga mengalami pengalaman serupa. Ia juga menggunakan media sosial sebagai sumber inspirasi gaya berpakaiannya. Jika wahyu banyak mendapatkan inspirasi dari Tiktok. Arina lebih sering mencari referensi melalui Instagram dan Pinterest.

Saat menjadi mahasiswa baru, Arina bahkan bisa memikirkan outfit yang akan dikenakan beberapa hari sebelum masuk kuliah. Baginya, berpakaian bukan sekadar memilih baju yang tersedia di lemari. Ia kerap mempertimbangkan warna pakaian, model kerudung, hingga kecocokan antara keduanya.

“Setidaknya orang lihat aku rapi,” ujar Arina.

Menurut Arina, cara anak muda melihat fashion juga dipengaruhi oleh media sosial. Melalui platform digital, tren dan gaya berpakaian dapat dengan mudah ditemukan. Namun, ia merasa pengaruh terbesar justru melalui influencer yang ia ikuti. Cara mereka berpakaian dan memadukan pakaian sering kali menjadi inspirasi untuk mencoba gaya.

“Kalau pengaruhnya mungkin sekitar 70 persen dari influencer yang aku ikuti,” katanya.

Cara anak muda berpakaian juga dipengaruhi oleh pertemanan mereka di luar media sosial. Arina sering menyaksikan bagaimana tren dapat menyebar dengan cepat di antara teman-temannya. Ketika seseorang mengenakan atau membeli barang yang pipulen, banyak yang tertarik untuk mengikutinya juga. Menurutnya, pengaruh lingkungan sekitar juga membuat suatu produk atau gaya berpakaian lebih cepat dikenal dan digunakan oleh banyak orang.

Di balik keinginan untuk tampil menarik, keduanya juga merasakan adanya tekanan dari lingkungan kampus. Wahyu merasa bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi dituntut untuk selalu tampil rapi dan menarik ketika berhadapan dengan orang lain. Sementara, Arina melihat banyak teman-temannya rela membeli pakaian baru hanya untuk mengikuti tren yang sedang populer. Tidak jarang pula pakaian tersebut hanya digunakan satu atau dua kali sebelum akhirnya tersimpan di lemari.

Keduanya pernah melakukan pembelian impulsif karena pengaruh media sosial yang begitu besar. Wahyu mengaku bahwa dia pernah membeli pakaian setelah melihat iklan yang diposting di Tiktok. Namun, ketika barang yang dipesan tiba, kualitasnya tidak sesuai ekspektasi.

Sementara itu, Arina mengaku pernah cukup sering membeli barang hanya karena tertarik pada modelnya. Namun, kebiasaan tersebut perlahan berubah setelah ia mulai memahami dampak konsumsi berlebihan terhadap lingkungan. Kesadaran itu membuatnya mempertimbangkan kembali barang yang benar-benar ia butuhkan.

“Aku sekarang berusaha jadi outfit repeater,” ujar Arina.

Bagi Arina, menggunakan pakaian yang sama secara berulang bukanah sesuatu yang memalukan. Ia justru merasa kebiasaan tersebut memudahkannya dalam menentukan pakaian yang akan dikenakan setiap hari. Dengan beberapa pilihan outfit yang sering digunakan, ia tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk memilih pakaian. Bahkan, beberapa temannya mulai mengenali dan mengingat gaya berpakaiannya.

Selain tren, uang saku juga menjadi pertimbangan sebelum membeli pakaian baru. Wahyu mengaku hanya berbelanja ketika memiliki sisa uang bulanan atau tambahan penghasilan dari pekerjaan freelancenya. Di sisi lain, Arina mulai lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran uang. Ia mulai mengurangi kebiasaan membeli barang yang tidak diperlukan.

Di tengah arus tren fashion yang terus berubah, media sosial seolah tidak pernah berhenti menghadirkan gaya baru setiap hari. Arina dan Wahyu justru memilih untuk lebih bijak dalam menentukan pilihannya. Mereka menyadari bahwa penampilan memang penting, tetapi tidak selalu dengan membeli pakaian baru dan mengikuti setiap tren yang muncul.

Bagi keduanya, berpakaian bukan sebatas tampil menarik di hadapan orang lain. Yang terpenting adalah merasa nyaman dan percaya diri dengan apa yang dikenakan. Pada akhirnya, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi cara mereka menikmati fashion tanpa harus terjebak dalam konsumsi yang berlebihan.