
Pernahkah kalian bertanya, mengapa masyarakat bereaksi berbeda ketika laki-laki memakai baju pink dibandingkan perempuan memakai baju biru? Masyarakat telah mengakar kuat pada pembagian warna berdasarkan gender, atau yang disebut gendering of colors, hingga jarang mempertanyakan asal-usulnya.
Pink Pernah Diasosiasikan Sebagai Warna Laki-laki
Sejarah mencatat bahwa pembagian pink untuk perempuan dan biru untuk laki-laki bukan aturan lama, atau bahkan alami. Prof. Dr. Oman Sukmana, M. Si., dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, menegaskan bahwa genderisasi pada warna yang kita pahami bersama sekarang berbanding terbalik dengan abad ke-18.
“Abad ke-18, warna pink itu dulu simbol maskulinitas, bukan feminitas seperti sekarang,” ujarnya ketika berbincang dengan tim Visentris.
Arsitek Italia, Leon Battista Alberti, bahkan mendeskripsikan pink sebagai warna yang tegas dan keras pada 1435, sehingga dianggap lebih pantas untuk laki-laki. Sebaliknya, biru pada abad ke-18 hingga ke-19 di Eropa justru lebih dekat dengan citra feminin.
Titik balik kategorisasi modern baru terjadi pada 1920-an, dengan adanya dua lukisan yang dipamerkan di Huntington Library California. Lukisan tersebut menggambarkan anak laki-laki memakai biru dan anak perempuan memakai gaun berpita pink. Industri pakaian bayi dan mainan kemudian memperkuat pembagian ini lewat pemasaran secara masif sepanjang paruh pertama abad ke-20. Artinya, aturan yang hari ini terasa ‘sudah dari sananya’ itu sebenarnya belum genap berusia seratus tahun.
Transformasi Makna Semakin Berkembang di Era Modern
Menurut Prof. Oman, makna semacam ini muncul karena interaksi yang terjadi berulang-ulang di masyarakat.
“Makna muncul karena interaksi bersama. Secara sosiologis, maskulin itu ada di perempuan maupun laki-laki, mana yang lebih banyak muncul tergantung lingkungan. Bandingkan dimensi rasionalitas dan emosional, itu tergantung konteks sosial,” jelasnya
Ia menegaskan bahwa konsep maskulin dan feminin itu sendiri sebenarnya bias. Ia juga menambahkan, masyarakat tradisional yang masih kental memegang pembagian ini kerap belum menyadari bahwa situasi dan kondisi sosial sebenarnya terus berubah.
Riset Weisgram, Fulcher, dan Dinella (2014) yang dipublikasikan di Journal of Applied Developmental Psychology menunjukkan bahwa warna tidak sekadar preferensi estetika, melainkan berfungsi sebagai kode gender implisit dalam komunikasi visual. Produsen mainan dan pakaian sengaja membuat produk yang sama dalam dua skema warna, maskulin dan feminin, sebagai strategi pemasaran yang mendorong orang tua membeli dua versi berbeda untuk anak laki-laki dan perempuannya. Akibatnya, masyarakat otomatis membaca sebagai “untuk perempuan”, sementara selain itu sebagai “untuk laki-laki”.
Stigma yang Terbentuk di Masyarakat
Bagaimana kemudian stigma yang masih terbentuk di masyarakat? Berdasarkan wawancara singkat tim Visentris bersama beberapa narasumber, terdapat beberapa suara yang berbeda, mewakili bagaimana norma-norma genderisasi warna ini masih dijalankan.
Nela (30) generasi millenial yang sudah sangat akrab dengan dunia perempuan, karena merupakan anak pertama dari 4 bersaudara perempuan. Nela menganggap aneh ketika laki-laki menyukai warna pink. Namun, ketika kondisi sebaliknya, perempuan yang menyukai warna pink, ia menganggap itu sesuatu yang wajar.
“Yang aku nggak setuju itu kalau warna kesukaan seseorang dijadikan alasan untuk menjustifikasi dia sebagai pribadi. Itu yang menurutku salah,” tegasnya.
Baginya, persoalan sebenarnya bukan pada keberadaan label itu, melainkan pada bagaimana label itu dipakai untuk menghakimi orang.
Warna Bukan Hukum Alam
Genderisasi warna adalah produk sosial yang terus bergerak, bukan aturan tetap. Warna yang pernah dianggap maskulin bisa berbalik jadi feminin, dan penilaian masyarakat terhadap siapa yang “boleh” menyukai warna tertentu ternyata juga tidak berlaku adil ke semua pihak.
Satu hal yang perlu kita amati sekarang, jika pink dan biru saja pernah bertukar makna gender dalam sejarah, kenapa masyarakat hari ini masih menghakimi seseorang hanya karena warna kesukaannya, alih-alih mempertanyakan dari mana sebenarnya label itu berasal?
