Lemari Penuh Tapi Merasa Ga Punya Baju

Ketika membuka lemari terlihat banyak pakaian yang tertata dengan rapi. Namun, tetap merasa bingung dalam memilih pakaian untuk hari itu. Situasi ini sudah sering dirasakan oleh sebagian anak muda. Perasaan bosan dan ingin tampil beda menguatkan situasi kebingungan dalam memilih pakaian.

Perbedaan fungsi pakaian saat ini pun mulai sedikit bergeser. Dari yang menganggap pakaian hanya sebatas kebutuhan primer, sekarang menjadi  ajang pamer. Akses untuk membeli produk pakaian juga sangat dimudahkan oleh perkembangan digital.

Pandangan anak  muda terhadap pakaian dituntun oleh perkembangan teknologi. Tren fashion yang banyak dan silih berganti dalam media sosial menyebar dalam waktu yang singkat

Bu Tsaniah, yang merupakan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, menjelaskan bahwa generasi muda saat ini sangat dimudahkan dalam mendapatkan informasi jika di bandingkan dengan generasi sebelumnya.

“Gen Z  dan generasi seterusnya sejak awal sudah gampang mendapatkan informasi di media sosial,” ucapnya.

Paparan media sosial  membuat anak muda memiliki banyak acuan dalam memilih pakaian.  Namun, di sudut yang lain, tren yang banyak dan cepat berganti ini membuat seseorang menjadi merasa cepat tertinggal.  

Ketika suatu tren mulai banyak diterapkan, tidak menunggu waktu lama tren baru muncul dan membuat orang-orang kembali mengikutinya. Pola ini menjadikan pakaian yang masih layak digunakan terasa sudah tertinggal bahkan tidak sesuai.

Media Sosial dan Dorongan Mengikuti Tren

Salah satu faktor yang mempercepat perubahan gaya berpakaian saat ini adalah media sosial. Dengan adanya konten rekomendasi outfit, hingga video mix and match memperbanyak pilihan yang baru.

Melihat laporan Digital 2024 Indonesia dari We Are Social dan Meltwater, pengguna yang aktif menggunakan media sosial di Indonesia mencapai lebih dari 139 juta pengguna. Jumlah ini membantu penyebaran tren di media sosial lebih cepat karena konten yang muncul berulang melalui algoritma.

Seseorang yang terus melihat gaya pakaian tertentu akan memunculkan dorongan untuk mengikuti tren tersebut. Saat ini membeli pakaian baru bukan lagi karena kebutuhan primer, melainkan hanya ingin mencoba tampilan yang sedang menjadi tren.

Kondisi ini erat kaitannya dengan fenomena fast fashion. Produksi pakaian yang semakin cepat mengakibatkan model baru terus datang beriring dengan harga yang miring.

Pakaian Lama Tidak Selalu Berarti Tidak Terpakai

Meskipun tren saat ini cepat berubah, sebagian anak muda mencari alternatif lain untuk mengelola pakaian yang dimiliki.

Rifry,  mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, mengaku tidak menumpuk pakaian yang telah jarang dipakainya. Ia lebih memilih untuk menjualnya jika masih layak digunakan. 

“Saya tidak membuang pakaian. Biasanya saya jual lagi melalui tren prelove,” ujarnya.

Begitu juga dengan Nimas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, yang lebih sering menghadiahkan pakaian yang sudah jarang ia pakai pada orang yang membutuhkan.

“kalau saya ke langsung kasih ke orang yang membutuhkan, misal  keluarga saya” ucapnya.

Beberapa  cara tersebut menjadi sebuah pilihan alternatif sebagian mahasiswa. Pakaian yang sudah tidak digunakan tetap  bisa  memiliki  nilai bagi orang lain.

Fenomena lemari penuh tetapi merasa tidak punya pilihan pakaian menunjukkan bahwa anak muda banyak yang mengikuti tren fashion.  Ketika tren berubah  gaya berpakaian  juga ikut berubah. Pakaian.

Pada akhirnya, persoalan bukan hanya tentang seberapa penuh lemari seseorang, tetapi seberapa besar kendali yang masih dimiliki terhadap pilihannya sendiri. Jika tren terus berubah dan selalu ada alasan untuk membeli sesuatu yang baru, apakah kita sedang mengekspresikan diri lewat fashion, atau justru menjadi bagian dari siklus konsumsi yang tidak pernah selesai?