Malang — Membeli pakaian kini tidak lagi membutuhkan banyak pertimbangan. Cukup membuka aplikasi belanja, memilih produk yang sedang tren, lalu menekan tombol checkout. Dalam hitungan hari, pakaian baru sudah sampai di depan pintu rumah. Kemudahan ini membuat fashion semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, tetapi pada saat yang sama juga mengubah cara mereka mengelola pengeluaran.
Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya konsumsi fashion di kalangan anak muda. Survei Snapcart yang dimuat Katadata Databoks menunjukkan 65 persen responden mengaku menghabiskan setidaknya Rp500.000 per bulan untuk kebutuhan fashion. Angka tersebut menunjukkan bahwa fashion telah menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar bagi generasi muda.
Nimas (22), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang melihat kebiasaan checkout produk fashion menjadi salah satu bentuk konsumsi yang semakin mudah dilakukan karena harga dan promosi.
“Menurutku lebih boros sih, karena kalau dilihat dari generasi sekarang ini kan hampir 95% lah aku mengibaratkannya itu mereka tuh kebanyakan checkout,” ungkap Nimas.
Di balik kemudahan itu, ada perubahan yang lebih besar. Fashion tidak lagi berfungsi sebagai kebutuhan berpakaian atau sarana berekspresi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas yang ditampilkan di ruang digital. Ketika tren berganti semakin cepat dan penampilan menjadi bagian dari cara seseorang diterima di lingkungan sosial, keputusan membeli pakaian tidak selalu lahir dari kebutuhan, melainkan juga dari keinginan untuk tetap relevan.
Ketika Penampilan Menjadi Standar Sosial
Bagi sebagian anak muda, fashion memang menjadi sarana untuk mengekspresikan diri. Cara berpakaian dapat menunjukkan karakter, minat, bahkan komunitas yang mereka ikuti. Namun, ketika ekspresi diri bertemu dengan tuntutan sosial, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.
Nimas juga merasakan langsung tekanan bagaimana penampilan dapat mempengaruhi cara seseorang diterima dalam lingkungan sosial. Di lingkungan sekitarnya, penampilan sering mendapat perhatian yang lebih besar daripada yang seharusnya. Ia pernah merasa terasingkan karena tidak memiliki barang atau pakaian yang dianggap sesuai dengan standar di lingkungan sekitarnya.
“Semenjak kuliah ini, karena memang punya case pernah di-bully, jadinya aku mulai memperhatikan pakaian.” ujar Nimas.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa pakaian tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan, tetapi juga bagian dari proses pembentukan identitas generasi muda.
Hal serupa disampaikan oleh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Tsaniah (38), menilai anak muda saat ini masih berada dalam fase pencarian jati diri sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh tren yang sedang berkembang.
“Banyak generasi Z sekarang yang masih bingung dengan identitasnya. Akhirnya mereka mengikuti tren,” ujarnya.
Ketika tren menjadi salah satu acuan dalam membangun identitas, konsumsi fashion tidak lagi hanya berkaitan dengan fungsi pakaian, tetapi juga kebutuhan untuk memperoleh pengakuan sosial.
Media Sosial dan Tren yang Tak Pernah Usai
Perkembangan media sosial membuat tren fashion bergerak semakin cepat. Sebuah gaya yang muncul di platform digital dapat menyebar luas dalam waktu singkat sebelum akhirnya tergantikan oleh tren baru.
Kecepatan tren fashion di media sosial juga dirasakan oleh Rifry, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang. Ia melihat tren fashion yang populer dapat berubah dalam waktu yang singkat.
“Tren fashion cepat sekali berubah, bisa dalam hitungan minggu,” ujar Rifry.
Perubahan tren yang cepat juga mempengaruhi pola konsumtif generasi muda. Survei Urban Banking 2024 dari Mandiri Institute menunjukkan bahwa fashion menjadi salah satu kategori pengeluaran terbesar di kalangan Gen Z dengan tingkat minat belanja mencapai 48 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa besarnya perhatian generasi muda terhadap produk fashion.
Di balik fenomena tersebut, algoritma media sosial juga memiliki peran mempercepat penyebaran tren fashion. Konten yang memperoleh perhatian tinggi akan terus direkomendasikan kepada pengguna lain sehingga menciptakan efek berantai. Ketika banyak orang mulai mengenakan gaya tertentu, tren tersebut terlihat semakin populer dan mendorong lebih banyak orang untuk mengikutinya.
Kecepatan penyebaran tersebut membuat siklus tren fashion semakin singkat. Gaya yang sedang populer dengan cepat tergantikan oleh tren baru yang muncul di media sosial. Kondisi ini kemudian memunculkan fenomena micro-trend, yaitu perubahan gaya yang berlangsung dalam waktu singkat.
Murah Bukan Berarti Hemat
Dorongan untuk membeli semakin kuat ketika tren yang cepat bertemu dengan harga yang semakin murah. Produk fashion kini dapat ditemukan dengan harga puluhan ribu rupiah melalui berbagai platform e-commerce.
Fachra (19), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, mengaku harga murah dan model yang menarik sering kali membuatnya tergoda membuka aplikasi belanja.
“Lebih sering yang lucu. Kan cewek-cewek, ‘Lucu ah, bagus nih kalau dibawa ke kampus’.” ujarnya.
Meski demikian, ia tidak selalu langsung melakukan pembelian. Tidak sedikit produk yang akhirnya hanya tersimpan di keranjang belanja karena ia memilih mempertimbangkannya kembali sebelum checkout.
Sementara itu, Rifry juga menambahkan ia melihat harga murah tidak selalu identik dengan penghematan. Menurutnya, produk yang dibeli dengan harga sangat rendah sering kali memiliki kualitas yang kurang baik sehingga membuat konsumen harus membeli ulang dalam waktu singkat.
“Kalau yang murah itu kualitasnya kurang bagus, sama aja orang itu akan beli lagi. Kan jadinya boros juga,” ujarnya.
Ia mengaku pernah melakukan impulsive buying sebelum akhirnya menyadari bahwa banyak barang yang dibeli sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga murah tidak selalu mengurangi pengeluaran. Ketika barang yang dibeli tidak bertahan lama, keputusan membeli justru dapat kembali berulang.
Dari Tren Menjadi Beban
Pembelian fashion yang terlihat kecil dalam satu transaksi dapat berubah menjadi pengeluaran yang lebih besar ketika dilakukan secara berulang. Kemudahan akses, harga murah, dan perubahan tren yang cepat membuat keputusan membeli fashion semakin mudah dilakukan.
Tekanan untuk mengikuti tren membuat fashion memiliki peran yang lebih luas bagi anak muda. Pakaian tidak hanya digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkaitan dengan cara seseorang menunjukkan identitasnya di lingkungan sosial.
Pada akhirnya, persoalan fashion tidak hanya berhenti pada apa yang terlihat di permukaan. Ketika tren terus berubah, promosi terus muncul, dan keinginan untuk mengikuti perkembangan gaya semakin besar, apakah anak muda benar-benar bebas menentukan pilihannya, atau perlahan diarahkan oleh pola konsumsi yang tidak pernah selesai?
