
Malang, Di layar ponsel harga sebuah baju bisa berubah dalam hitungan detik. Angka yang sebelumnya terasa mahal bisa terlihat lebih ringan ketika flash sale muncul. Ditambah potongan harga dan gratis ongkir keputusan membeli terasa semakin dekat. Bagi sebagian mahasiswa promo ikut menentukan barang yang akhirnya masuk ke keranjang.
Bagi Khilda Aufillah (20), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, promo menjadi salah satu hal yang ia perhatikan saat berbelanja pakaian. Ketika membeli beberapa barang ia biasanya mencari produk dengan harga di bawah Rp100 ribu. Flash sale dan gratis ongkir juga ikut diperhatikan.
“Lagi ngecek ada yang murah, ya checkout,” ujar Khilda.
Menurut Khilda, promo tidak berdiri sendiri dalam keputusan membeli. Ia tetap melihat ukuran, warna, dan bahan sebelum menentukan pakaian yang di
Harga Lebih Rendah, Keputusan Lebih Dekat
Ketika beberapa pilihan sudah sesuai dengan kebutuhannya, harga menjadi pertimbangan berikutnya. Khilda lebih memilih pakaian yang harganya lebih rendah. Saat sedang ingin membeli beberapa barang, ia juga mencari produk yang berada di bawah Rp100 ribu.
Dalam satu waktu, ia bisa membeli dua sampai tiga produk. Kebiasaan itu tidak terjadi setiap bulan. Ia menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kondisi keuangannya.
Pengalaman serupa dialami Diva Nirwana (22), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Ia juga mempertimbangkan harga dan kualitas sebelum membeli pakaian. Potongan harga membuat sebuah produk terasa lebih terjangkau.
“Bisa mendapatkan harga lebih murah,” kata Diva.
Bagi Diva, harga tetap perlu dibandingkan dengan kualitas. Ia tidak selalu membeli pakaian setiap bulan. Beberapa pembelian juga dilakukan ketika ada kebutuhan tertentu.
Pertimbangan soal promosi juga terlihat dalam penelitian Universitas Kristen Petra yang terbit pada April 2026. Penelitian itu melibatkan 180 responden Generasi Z di Surabaya yang pernah membeli produk fashion di Shopee. Hasilnya menunjukkan promosi berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Harga Murah di Tengah Layar yang Terus Berjalan
Pengalaman mahasiswa tersebut berlangsung di tengah akses belanja yang semakin mudah. Tsaniah Fariziah (38), dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, melihat perubahan itu tidak lepas dari harga pakaian yang murah serta promo dan kupon di platform digital. Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong pola membeli terus-menerus.
“Sekarang harga pakaian memang sangat murah,” ujar Tsaniah.
Bagi Tsaniah, proses membeli juga semakin dekat dengan aktivitas di media sosial. Algoritma dapat terus menampilkan konten yang sesuai dengan apa yang dicari pengguna. Rekomendasi pakaian pun bisa muncul meski sebelumnya tidak direncanakan untuk dicari.
“Kita merasa hanya ingin mencari informasi, tetapi akhirnya diarahkan untuk membeli sesuatu,” tambahan dari Tsaniah.
Di sisi mahasiswa promo tetap bertemu dengan pertimbangan lain. Ukuran, bahan, warna, kebutuhan, dan kondisi keuangan masih menentukan apakah sebuah pakaian akhirnya dibeli. Flash sale hanya menjadi salah satu momen ketika harga terlihat lebih ringan.
Di layar sebuah baju mungkin hanya berubah dari harga normal menjadi harga promo. Setelah checkout angka itu tetap menjadi bagian dari pengeluaran. Ketika sebuah pakaian terasa lebih murah karena flash sale, gratis ongkir, atau potongan harga, apakah yang sedang dipilih memang bajunya, atau kesempatan untuk membeli dengan harga yang terasa sulit dilewatkan?
