Ilusi di Balik Tumpukan Baju Bekas, Saat Thrifting Menjadi Masalah Baru

Beberapa tahun terakhir, thrifting atau berburu pakaian bekas naik kelas dari sekedar pilihan ekonomi menjadi gaya hidup yang dianggap etis dan ramah lingkungan. Di kalangan mahasiswa, tren ini banyak digemari. Terbukti dengan menjamurnya gerai toko thrift, atau bahkan festival dan bazaar tertentu yang dikhususkan pada produk produk thrifting. Namun, dibalik maraknya thrifting, muncul kenyataan baru: thrifting justru seringkali menjadi kelanjutan dari konsumerisme sistemik yang pada akhirnya menambah tumpukan sampah tekstil global.

Barang Thrift Berisiko Besar Menjadi Sampah

Awalnya, gerakan memakai kembali pakaian bekas bertujuan untuk memperpanjang usia pakai sebuah barang. Namun, seiring meningkatnya popularitas thrifting, praktik ini tidak lagi selalu berjalan sejalan dengan tujuan keberlanjutan. Permintaan yang terus meningkat membuat arus masuk pakaian bekas dari luar negeri semakin besar. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan Kementerian UMKM, Indonesia menampung sebanyak 3.600 ton baju bekas impor (thrifting) pada 2024.

Tidak semua pakaian bekas yang diimpor berada dalam kondisi layak pakai. Sebagian diantaranya merupakan produk yang kualitasnya sudah menurun, sulit dimanfaatkan kembali, dan berpotensi hanya menjadi limbah tekstil. Akibatnya, pakaian yang tidak terserap pasar berisiko berakhir sebagai sampah. Situasi ini memicu kritik bahwa sebagian impor baju bekas tidak lagi sekedar memindahkan barang yang masih bernilai guna, melainkan juga memindahkan beban limbah dari satu negara ke negara lain.

“Sebenarnya tren thrifitng ini bagus, karena kita bisa mereduce sampah. Yang jadi masalah adalah ternyata thriftingnya dari luar (impor). Sama saja seperti mengekspor sampah,” ujar Tsania Fariziah, M.S.W yang ikut menyoroti fenomena tersebut.

Jebakan Harga Miring

Karena pasar thrifting menjual barang bekas, harga yang dibandrol menjadi jauh lebih murah dibanding harga pasar pasar baju baru pada umumnya. Mulai dari Rp10.000 saja, kini konsumen bisa mendapatkan pakaian thrifting. Dengan modal Rp200.000 konsumen bisa membawa pulang tiga kantong kresek berisi beberapa potong pakaian bekas layak pakai dari pasar thrifting

Harga yang sangat miring ini menciptakan ilusi di benak konsumen bahwa membeli dalam jumlah banyak adalah hal yang wajar karena resiko finansialnya kecil. Padahal, perilaku “borong karena murah” ini justru membuat orang mengabaikan kualitas. Baju baju seringkali hanya bertahan beberapa kali pakai sebelum akhirnya rusak dan benar benar menjadi sampah.

beberapa thrift hunter juga mengakui hal tersebut, Nimas salah satunya. Ia mengaku harga barang yang murah membuatnya semakin tertarik membeli beberapa barang thrift dalam satu waktu. “Terakhir kali aku borong 5 baju dalam sekali nge-thrift, karena murah kan cuma Rp35.000 sampai Rp50.000. Bajunya juga lucu-lucu. Jadi yaudah, sekalian aja beli beberapa,” ucap Nimas..

Produk impor seringkali mempunyai keunikan model tersendiri, karena merupakan barang impor sehingga memperkecil kemungkinan adanya persamaan baju yang ada di masyarakat. Hal ini diakui Arina, mahasiswa yang menjadi salah satu pelaku thrifting di Kota Malang. “Aku beli karena unik ya, modelnya enggak banyak yang punya,” ucap Arina, yang pernah membeli set cardigan di toko thrifting.

Dengan demikian, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi apakah thrifting ramah lingkungan atau tidak, melainkan bagaimana masyarakat mempraktikkannya. Sebab, tanpa perubahan pola konsumsi, tumpukan pakaian bekas yang dianggap sebagai simbol gaya hidup berkelanjutan dapat berubah menjadi ilusi hijau yang menyembunyikan masalah baru.