Pendakian gunung kini tidak hanya menawarkan pengalaman menaklukan jalur dan menikmati panorama alam. Di era media sosial, aktivitas ini juga menjadi bagian dari gaya hidup yang terus dipertontonkan di ruang digital. Bersamaan dengan itu, tren gorpcore, gaya berpakaian yang mengadopsi elemen outdoor sebagai fashion, turut mendorong meningkatnya minat terhadap outfit dan perlengkapan pendakian.
Fenomena ini tidak hanya mengubah cara orang memandang aktivitas mendaki, tetapi juga membuka pasar baru bagi industri fashion outdoor. Outfit, sepatu, hingga aksesori pendakian kini tidak lagi hadir sebagai perlengkapan fungsional semata, melainkan juga bagian dari identitas yang ingin ditampilkan.
Saat Algoritma Menjadi Etalase
Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk tren tersebut. melalui algoritma yang terus mempelajari minat pengguna, platform digital mampu menghadirkan konten yang berulang dan semakin spesifik sesuai preferensi masing-masing pengguna.
Khosy, mahasiswi yang aktif mendaki sejak 2024, mengaku awalnya hanya sesekali melihat konten pendakian di media sosial. Namun seiring waktu, linimasanya dipenuhi berbagai unggahan serupa.
“Tiba-tiba muncul semua outfit-outfit pendaki yang kece-kece itu. Aku terinspirasi sih, malah ada kiblat outift,” ujarnya.
Dengan sistem rekomendasi yang semakin personal, pengguna tidak hanya melihat konten yang mereka sukai, tetapi juga berbagai produk yang berkaitan dengan minat tersebut.
Dalam konteks pendakian, algoritma menjadikan media sosial layaknya etalase tanpa batas. Foto di puncak gunung, video perjalanan, hingga ulasan perlengkapan terus bermunculan dan secara tidak langsung membentuk standar visual baru bagi para pendaki.
Gorpcore dan Lahirnya Pasar Baru
Meningkatnya paparan konten pendakian beriringan dengan naiknya popularitas gorpcore, tren fashion yang mengadaptasi perlengkapan outdoor seperti jaket, sepatu hiking, fleece, dan cargo pants ke dalam gaya berpakaian sehari-hari. istilah ini pertama kali diperkenalkan pada 2017 dan berkembang menjadi salah satu tren fashion global sepanjang dekade 2020-an.
Popularitas gorpcore juga banyak didorong oleh media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram membuat gaya berpakaian outdoor semakin mudah diakses dan ditiru oleh generasi muda, bahkan oleh mereka yang tidak aktif mendaki.
Akibatnya, perlengkapan yang sebelumnya identik dengan kebutuhan aktivitas alam terbuka mulai bergeser menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas visual.
Dari Inspirasi Menjadi Konsumsi
Paparan konten yang terus-menerus tidak berhenti pada tahap inspirasi. Dalam banyak kasus, ia berlanjut menjadi keinginan untuk memiliki barang yang sama.
Khosy, salah satu pendaki yang aktif mengunggah konten di media sosial Instagram-nya mengakui bahwa media sosial cukup mempengaruhi keputusan pembelian outfit maupun perlengkapan pendakiannya.
“Sangat sangat mempengaruhi sih. Kadang aku lihat story orang, terus tanya info link produknya. Jadi kebawa ikut beli deh,” ujar Khosy.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial bekerja sebagai ruang pemasar yang efektif. Setiap unggahan berpotensi menjadi promosi tidak langsung bagi merek, model outfit, maupun perlengkapan tertentu.
Validasi Menimbulkan Peningkatan Permintaan
Meningkatnya minat terhadap aktivitas pendakian tidak hanya mempengaruhi konsumen, tetapi juga membuka peluang bagi industri perlengkapan outdoor dalam negeri. Jika dulu pasar perlengkapan pendakian banyak didominasi oleh merek-merek luar negeri seperti The North Face, Columbia, atau Deuter, kini semakin banyak brand lokal yang hadir sebagai alternatif dengan harga yang lebih terjangkau.
Nama-nama seperti Eiger, Consina, Rei, Avtech, Credifox, Antarestar, kini semakin mudah ditemui di kalangan pendaki muda. Kehadiran brand lokal tersebut membuat perlengkapan pendakian menjadi lebih mudah diakses oleh mahasiswa dan pendaki pemula yang memiliki keterbatasan anggaran.
Fenomena ini terlihat dari pengalaman Nimas, salah satu pendaki yang memulai aktivitas pendakian pada tahun 2021. Meski mengaku tertarik dengan berbagai perlengkapan yang ia lihat dari media sosial, pertimbangan harga tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan.
“Kalau aku sampai saat ini masih menggunakan brand local ya, seperti Eager. Tapi dari keinginan sebenarnya ya ingin beli semua rasanya, paket lengkap,” ujar Nimas ketika berbincang dengan tim Visentris.
Keinginan untuk memiliki perlengkapan yang lebih lengkap menunjukkan adanya pasar yang terus berkembang. Namun, pertumbuhan tersebut tidak selalu menguntungkan merek global. Di tengah meningkatnya jumlah pendaki muda, brand lokal justru memiliki peluang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan produk yang lebih sesuai dengan daya beli konsumen Indonesia.
Pengamat industri ritel juga mencatat bahwa meningkatnya tren aktivitas luar ruang pasca pandemi turut mendorong pertumbuhan pasar perlengkapan outdoor. Popularitas konten pendakian di media sosial membuat produk-produk outdoor semakin dikenal oleh kelompok konsumen yang sebelumnya tidak terlalu dekat dengan aktivitas alam terbuka.
Pada akhirnya, tren gorpcore dan meningkatnya eksposur konten pendakian tidak hanya menciptakan keinginan baru di kalangan konsumen, tetapi juga menghadirkan ruang pertumbuhan bagi industri outdoor lokal. Di balik foto-foto puncak yang memenuhi linimasa, terdapat pasar yang terus bergerak, dengan brand lokal yang kini semakin percaya diri bersaing di jalurnya sendiri.
