
Malang – Tren fashion berganti hampir setiap minggu. Yang kemarin viral, besok sudah terlupakan. Tetapi di sudut lantai dua Pasar Besar Malang, mesin jahit tua masih berputar, benang masih ditarik, gunting masih mengiris kain. Para penjahit di sini sudah menjalankan ritme itu bertahun-tahun, jauh sebelum algoritma ikut menentukan selera. Yang berubah bukan cara mereka bekerja, namun siapa yang datang, seberapa sering, dan untuk apa.
Dulu, orang ke penjahit untuk menyalurkan selera fashion mereka. Sekarang, sebagian inspirasi datang dari layar ponsel, dari unggahan media sosial yang berganti setiap hari. Di balik pergeseran itu, ada sebuah profesi yang perlahan kehilangan tempatnya.
Dari Jarum ke Jempol
Pergeseran itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, seiring toko-toko online semakin mudah diakses dan tren fashion yang makin cepat berganti. Data Statista Market Insight mencatat pendapatan pasar fashion e-commerce Indonesia mencapai 7,72 miliar dolar AS pada 2024. Angka yang sulit dibayangkan dari balik kios jahit di lantai dua Pasar Besar Malang.
Kemudahan itu mengubah bagaimana orang sekarang berpakaian. Orang kini tidak lagi perlu menunggu jahitan selesai ketika pilihan fashion begitu melimpah di layar ponsel.
Anis, sudah 19 tahun menekuni profesi penjahit di Pasar Besar Malang. Selama itu pula, ia merasakan perubahan kebiasaan pelanggannya. Yang dulu datang membawa kain dan ide, kini lebih sering datang membawa pakaian jadi yang kebesaran untuk dipermak.
“Peminatnya kalau dari sepuluh tahun yang lalu sama sekarang, jelas jauh berbeda,” katanya.
Menjahit di Tengah Arus Cepat
Dampaknya tidak hanya dirasakan satu dua orang. Secara nasional, dari sekitar 8.000 unit usaha konveksi sebelum pandemi 2019, kini hanya tersisa sekitar 3.000 hingga 3.500 unit.
Titik, penjahit yang mulai bekerja sejak tahun tujuh puluhan itu, masih setia di lantai dua Pasar Besar Malang. Dari kiosnya, ia menyaksikan pergeseran yang nyata dari tahun ke tahun.
“Sekarang orang lebih sering beli baru daripada memperbaiki pakaian lama,” ujar Titik.
Model yang cepat berganti dan pengaruh media sosial, menurutnya, mendorong kebiasaan itu.
Di kios lain, Ali yang juga penjahit di Pasar Besar Malang, memiliki cara pandang yang berbeda.
“Kalau saya enggak mengikuti, bisa tekor,” ungkapnya kepada tim Visentris.
Ia sadar, tren silih berganti, tapi baginya menjahit tetap jalan hidup. Di tengah arus cepat, ia memilih bertahan dengan jarum dan benang.
Benang yang Menyambung Makna
Di balik deru mesin jahit tua, ada kisah tentang ketekunan yang melawan arus cepat. Setiap hasil jahitan para penjahit di Pasar Besar Malang jadi pengingat bahwa pakaian bukan sekadar benda, melainkan cerita tentang waktu, usaha, dan identitas.
Tren berganti secepat gulir layar ponsel. Di tengah menurunnya minat menjahit custom, para penjahit ini tetap bertahan. Pertanyaannya, apakah kita masih memberi ruang bagi fashion untuk punya makna, atau hanya menjadikannya sesuatu yang dipakai sekali lalu dilupakan?
