Seberapa Cepat Fashion Anak Muda Berganti?

Model yang hari ini digunakan di kalangan anak muda, beberapa minggu kemudian akan jarang terlihat di media sosial. Model hijab, motif pakaian ,hingga gaya berpakaian tertentu akan bergeser ketika tren baru muncul. Perubahan itu berjalan begitu cepat, terutama di kalangan anak muda yang setiap hari bersentuhan dengan media sosial.

Beberapa mahasiswa mengikuti tren fashion sebagai bagian dari cara menunjukkan ekspresi diri. Namun di sisi lain, tren yang cepat berganti menjadikan keputusan membeli produk fashion juga cepat berubah. Pakaian yang awalnya secara fungsi digunakan untuk kebutuhan, kini dibeli hanya untuk mengikuti arus tren

Rifry, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang, salah satu orang yang merasakan dampak cepatnya perubahan tren fashion. Ia mengamati pergantian tren, terutama fashion perempuan, dapat terjadi dalam waktu singkat.

“Kalau menurut saya, untuk perempuan tren fashion cepat sekali berubah. Bisa dalam hitungan minggu, tidak harus sampai sebulan,” ujar Rifry.

Ia mencontohkan perubahan tren hijab. Model hijab yang awalnya banyak digunakan bisa dengan mudah bergeser dan tergantikan oleh gaya baru yang di anggap lebih menarik dan praktis

Meski Rifry mengikuti perkembangan fashion, ia tidak selalu mengikuti hingga membeli barang yang lagi ramai digunakan. Ia mengaku sesekali pernah membeli pakaian karena melihat rekomendasi dan  orang lain menggunakannya terlihat cocok, tetapi hasilnya tidak selalu sesuai ketika dipakai sendiri.

“Saya dulu itu cukup sering mengikuti tren. Pas saya lihat orang menggunakan outfit yang lucu. Saya langsung beli, ternyata waktu saya pakai malah ga cocok dengan saya,” ucapnya.

Hal itu membuatnya lebih selektif ketika memilih produk fashion sebelum membeli. Baginya, outfit tetap penting karena menjadi bagian dari penampilan seseorang, namun keputusan membeli harus disesuaikan dengan kebutuhan.

Media Sosial Mempercepat Perputaran Tren

Tren fashion saat ini sangat erat dengan perkembangan media sosial. Seseorang akan sangat mudah menemukan rekomendasi gaya berpenampilan dalam media sosial. Berbeda dengan dulu yang membutuhkan waktu lama untuk sekedar tahu bagaimana gaya atau tren yang sedang berlangsung

Bu Tsania, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, mengamati perbedaan yang besar dari generasi sekarang dengan generasi sebelumnya.

“Generasi kalian sejak awal sudah dimudahkan semuanya karna perkembangan zaman,” ucapnya.

Menurutnya, kemudahan akses menjadikan anak muda lebih sering melihat berbagai pilihan gaya. Ketika tren muncul, masyarakat dapat langsung mengetahui, mencari produk serupa, bahkan membelinya.

Perubahan itu semakin cepat dengan adanya online shop. Produk fashion dari berbagai negara kini mudah ditemukan bahkan didapatkan dengan harga yang lebih rendah.

“harga murah dan promo menjadikan pola membeli terus-menerus,” kata Bu Tsania.

Media sosial bekerja melalui algoritma. Ketika seseorang melihat konten fashion, rekomendasi serupa akan terus muncul dalam media sosialnya. Awalnya pengguna hanya mencari inspirasi, tetapi kemudian diarahkan melihat berbagai produk.

“Kita merasa hanya ingin mencari-cari, tetapi malah diarahkan untuk membeli sesuatu,” ujar Bu Tsania.

Ketika Fashion Berkaitan dengan Identitas

Bagi anak muda, pakaian tidak hanya soal fungsi. Cara berpakaian sering menjadi bagian personal branding.

Bu Tsania melihat fenomena tersebut berkaitan dengan pencarian identitas generasi muda. Menurutnya, sebagian anak muda masih mencari gaya yang paling sesuai dengan dirinya.

“Gen Z sekarang yang masih banyak yang bingung dengan identitasnya. Jadi mereka mengikuti banyak tren yang ada. Seperti tren fashion A ikut A, ada tren fashion B ikut B,” katanya.

Keinginan mengikuti tren juga muncul dari lingkungan sosial sekitar. Media sosial menjadikan seseorang dapat melihat bagaimana orang lain menampilkan dirinya. Outfit tertentu dianggap sebagai bagian dari citra yang perlu dibangun.

Fenomena ini diperkuat dengan hadirnya influencer. Mereka memperkenalkan produk baru hanya melalui unggahan atau konten singkat.

Bu Tsania menyebut influencer memiliki dampak yang beragam.

Influencer itu seperti dua mata pisau,” ujarnya.

Di satu sisi, influencer dapat memudahkan menyampaikan informasi fashion lebih luas. Namun ketika tren konsumsi terus didorong, masyarakat akan terdorong membeli lebih banyak produk fashion.

Lemari Penuh dan Siklus Konsumsi

Kecepatan tren fashion membuat sebagian anak muda mengalami perubahan kebiasaan membeli pakaian. Barang baru datang, sementara pakaian lama masih tersimpan.

Rifry pernah mengalami kondisi ketika jumlah pakaian di lemari mulai terlalu banyak. Ia kemudian memilih memberikan pakaian yang masih layak kepada keluarga atau menjualnya kembali.

“Saya tidak pernah membuang. Biasanya saya jual lagi melalui tren prelove. Kalau masih ada barang yang belum terjual, saya berikan kepada orang yang membutuhkan,” katanya.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuat dirinya lebih berhati-hati dalam membeli pakaian.

Fenomena pakaian yang cepat berganti juga berkaitan dengan isu fast fashion. Bu Tsania menjelaskan bahwa kemudahan membeli pakaian murah dapat meningkatkan jumlah limbah tekstil.

“Kalau FOMO-nya adalah fast fashion, misalnya ada baju harga tiga puluh lima ribu atau empat puluh lima ribu, lalu sekali beli langsung beli lima. Berapa kali dipakai? Kalau rusak jadi sampah,” jelasnya.

Meski begitu, mengikuti tren tidak selalu berarti negatif. Beberapa tren justru memberi manfaat karena membuat pakaian lebih praktis digunakan.

Rifry mengatakan salah satu tren yang ia coba adalah hijab pashmina kaos karena lebih mudah digunakan.

“Kalau sedang buru-buru tidak perlu ribet menyetrika juga,” ujarnya.

Perubahan fashion akan terus berjalan. Tren lama bisa kembali muncul, tren baru bisa datang menggantikan. Di tengah siklus tersebut, pilihan anak muda dalam menggunakan fashion menjadi hal yang menentukan, apakah pakaian hanya menjadi bagian dari tren sementara atau benar-benar mencerminkan kebutuhan dan karakter diri.