Dari Talkshow ke Totebag, MODE-MODI Beri Ruang Kreativitas Siswa

Karya siswa SMA Negeri 1 Kedungpring berupa totebag dari kain perca.
(Foto: Dok Pribadi/Visentris)

Lamongan, Potongan kain perca berpindah dari satu meja ke meja lain ketika siswa SMAN 1 Kedungpring mengikuti workshop dalam kegiatan MODE-MODI, Selasa (6/10/2026). Kain tersebut digunakan untuk menghias totebag sesuai dengan ide masing-masing kelompok.

Beberapa bahan yang tersedia mulai dipilih untuk menyesuaikan desain yang dibuat. Siswa kemudian menempelkan kain perca, pita, hingga menambahkan gambar menggunakan spidol dan cat kain. Workshop tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan MODE-MODI setelah siswa mengikuti talkshow.

Kegiatan MODE-MODI atau Mode, Dialog, dan Kreasi tidak hanya menghadirkan pembahasan mengenai fashion. Siswa juga diajak mengenal jurnalistik dan melihat isu fashion dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari Talkshow ke Karya

Evie Rakhmalia (37), founder Negara Nagari yang bergerak dalam pembuatan dan penyewaan kostum sekaligus guru sejarah SMAN 1 Kedungpring, melihat kegiatan tersebut sebagai ruang untuk membahas fashion sekaligus mengembangkan kreativitas siswa.

“Konsepnya bagus, bisa mengangkat isu fashion sekaligus menguji kreativitas siswa,” ujar Evie.

Menurut Evie, kreativitas siswa terlihat ketika mereka harus mengolah bahan yang sederhana menjadi sebuah karya. Kain perca yang digunakan dalam workshop tidak hanya menjadi bahan tambahan, tetapi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk menentukan sendiri bentuk dan hiasan totebag yang dibuat.

Kegiatan tersebut juga menjadi cara untuk memperluas pembahasan fashion di lingkungan sekolah. Fashion tidak hanya dibicarakan dari sisi pakaian yang digunakan sehari-hari, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kreativitas dan cara seseorang menghasilkan sebuah karya.

Faiq (16), peserta MODE-MODI sekaligus Ketua OSIS SMAN 1 Kedungpring, mengatakan kegiatan tersebut menarik karena pembahasan yang diberikan dekat dengan kehidupan siswa.

“Isu fashion ini dekat sama kehidupan kita, terus kreativitas siswa juga ikut diuji,” kata Faiq.

Bagi Faiq, pembahasan jurnalistik dalam kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka dapat mengetahui bagaimana jurnalistik berkembang di tengah perubahan media dan kebiasaan masyarakat dalam menerima informasi.

Membuka Ruang untuk Siswa

Nayla Azura (21), panitia MODE-MODI, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyampaikan materi kepada siswa. Peserta juga diberi kesempatan untuk ikut terlibat melalui diskusi dan kegiatan kreatif.

“Bukan cuma soal fashion, kita juga ingin siswa bisa ikut terlibat langsung di kegiatannya,” ujar Nayla.

Keterlibatan siswa terlihat dari dua bagian kegiatan. Pada sesi talkshow, siswa mendapat ruang untuk mendengarkan dan berdiskusi mengenai jurnalistik serta isu fashion. Setelah itu, mereka beralih ke kegiatan praktik melalui workshop menghias totebag.

Penggunaan kain perca juga membuat kegiatan tidak berhenti pada pembahasan. Siswa perlu memikirkan cara memanfaatkan bahan yang tersedia menjadi bagian dari desain totebag. Setiap kelompok kemudian menghasilkan karya dengan bentuk dan hiasan yang berbeda sesuai dengan ide mereka.

MODE-MODI akhirnya tidak hanya mempertemukan siswa dengan pembahasan fashion dan jurnalistik. Kegiatan tersebut juga memberi ruang bagi siswa untuk mencoba menyampaikan gagasan melalui karya yang mereka buat sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *