
Mendaki gunung dulu lebih banyak dipahami sebagai aktivitas yang mengutamakan ketahanan fisik dan keselamatan. Prinsipnya sederhana, pakaian yang digunakan harus nyaman, kuat, dan mampu melindungi tubuh dari kondisi alam yang sulit diprediksi. Soal penampilan bukan menjadi pertimbangan utama, selama perlengkapan tersebut mampu menunjang perjalanan hingga kembali dengan aman.
Namun, beberapa tahun terakhir, cara anak muda melihat perlengkapan pendakian mulai mengalami perubahan. Pakaian gunung kini tidak hanya dipilih berdasarkan fungsi, tetapi juga tampilan. Jaket waterproof, celana kargo, hingga sepatu pendakian mulai dipertimbangkan dari segi model dan kesesuaian gaya.
Perubahan ini semakin terlihat sejak aktivitas pendakian banyak dibagikan melalui media sosial. Foto di puncak gunung, video perjalanan, hingga konten rekomendasi outfit membuat perlengkapan mendaki memiliki nilai visual baru. Gunung tidak hanya menjadi tempat untuk melakukan perjalanan, tetapi juga ruang bagi anak muda untuk menunjukkan karakter dan gaya mereka.
Dulu yang Penting Nyaman, Sekarang Harus Masuk Kamera
Sebelum tren outfit pendakian seramai sekarang, prioritas utama pendaki adalah aspek fungsional. Pakaian yang bisa menyerap keringat dengan baik dan sesuai dengan kondisi medan jadi pertimbangan mutlak.
Nimas, seorang pendaki muda, menceritakan pengalamannya saat pertama kali mendaki pada tahun 2022 lalu. Waktu itu, urusan visual sama sekali belum masuk dalam radar perhatiannya.
“Dulu kita pakai pakaian yang sekiranya pas naik gunung itu nyaman. Pertama itu nyaman, terus yang mudah menyerap keringat,” kata Nimas.
Bagi Nimas kala itu, pakaian gunung murni dianggap sebagai alat pendukung keselamatan. Pendaki tidak ambil pusing apakah baju mereka kelihatan serasi saat difoto atau tidak.
Namun, dominasi media sosial perlahan mengubah sudut pandang itu. Kehadiran konten-konten yang menampilkan estetika berpakaian saat mendaki mulai memengaruhi para pendaki baru.
“Aku dulu tidak kenal outfit sama sekali. Proses mengenal tren ini bertahap, lewat konten-konten yang lewat di media sosial,” tambahnya.
Gara-Gara FYP dan Lahirnya “Pendaki Visual”
Pergeseran budaya mendaki ini sebenarnya sejalan dengan melonjaknya angka pengguna media sosial kita. Kalau merujuk pada laporan Digital 2024 Indonesia dari We Are Social dan Meltwater, pengguna aktif media sosial di Indonesia sudah menembus angka 139 juta orang. Angka yang masif ini menjelaskan kenapa sebuah tren bisa menyebar secepat kilat.
Gara-gara algoritma yang terus menyodorkan konten serupa, gaya berpakaian tertentu akhirnya dianggap sebagai “standar baru” dalam mendaki. Dari sinilah lahir tren seperti warna-warna bumi, gaya gorpcore dan pakaian outdoor yang modis hingga kombinasi warna baju yang dipikirkan matang-matang sebelum pergi mendaki.
Khosy, seorang mahasiswa yang aktif mendaki, mengaku ikut masuk dalam pusaran tren ini setelah sering melihat konten serupa di lini masa miliknya.
“Awalnya cuma lihat satu konten, terus saya like. Lama-lama halaman FYP (For You Page) isinya konten outfit pendaki semua. Tanpa dicari pun, rekomendasi pakaian yang keren sudah muncul sendiri,” ungkap Khosy.
Di mata Khosy, perbedaan gaya antara pendaki zaman dulu dan sekarang kelihatan cukup kontras.
“Sekarang gayanya lebih ke culture. Kalau dulu identik dengan celana kargo standar dan kaos pendek, sekarang pilihan gayanya sudah jauh berbeda,” jelasnya.
Pakaian Sebagai Identitas, Tapi Keselamatan Tetap Utama
Melihat fenomena ini, Tsania, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Malang, menilai bahwa kemudahan akses informasi di era digital membuat generasi muda sangat adaptif dengan tren.
“Generasi sekarang sejak awal tumbuh dengan kemudahan akses informasi. Mereka sangat cepat melihat tren dan menerima paparan budaya luar melalui ruang digital,” urai Tsania.
Paparan informasi inilah yang membuat anak muda mudah mengadopsi gaya baru yang mereka lihat di internet. Pilihan pakaian pada akhirnya jadi alat komunikasi visual untuk menunjukkan komunitas atau karakter personal mereka.
Namun, estetika yang berlebihan juga membawa tantangan baru. Bagaimanapun indahnya sebuah tren, fungsi utama dari perlengkapan gunung adalah keselamatan. Karakteristik gunung yang sulit ditebak, perubahan suhu yang drastis, serta medan yang ekstrem tetap menuntut persiapan teknis yang matang.
Nimas sendiri menyayangkan sikap sebagian pendaki pemula yang dinilai terlalu fokus pada penampilan tanpa memahami risiko nyata di lapangan.
“Anak-anak sekarang ada kecenderungan FOMO (Fear of Missing Out). Kedua, mereka ngejar tenar dan tren outfit semata, tanpa memikirkan risiko keselamatan yang bisa terjadi di gunung,” kritik Nimas.
Bagi Nimas, menggunakan pakaian yang menarik sebenarnya sah-sah saja, asalkan spesifikasi teknisnya tetap memenuhi standar keselamatan.
Di sisi lain, fenomena ini juga ada hubungannya dengan konsumerisme. Badan Lingkungan PBB (UNEP) sempat menyoroti bagaimana lonjakan konsumsi pakaian memicu menumpuknya limbah tekstil global. Di dunia pendakian, hal ini terlihat ketika orang-orang membeli alat gunung bukan lagi karena butuh, tapi demi memenuhi gengsi visual semata.
Pada akhirnya, gunung akan tetap menjadi ruang terbuka yang menantang fisik. Tren fashion boleh saja datang dan pergi, tapi di atas gunung, keselamatan diri adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar oleh estetika foto semata. Tampil kece di kamera tentu bonus yang menyenangkan, asalkan pakaian yang dikenakan sudah sesuai dengan standar keamanan.
