Dampak Kapitalisme dan Siklus Belanja Impulsif di Kalangan Mahasiswa 

Baju yang kita pakai hari ini bukan lagi sekadar pelindung tubuh, melainkan topeng gengsi yang sengaja diciptakan industri agar kita terus merasa kurang dan tidak pernah puas. menjadikan kita terus belanja secara impulsif.

Baju yang kita pakai hari ini bukan lagi cuma soal menutup tubuh atau biar nggak kedinginan. Sadar atau tidak, baju sudah jadi “alat ngomong” yang paling cepat di media sosial. Sayangnya, industri fashion memanfaatkan celah ini. Mereka sengaja bikin tren yang gonta-ganti dengan cepat supaya kita merasa selalu “kurang baju”. Akibatnya, demi bisa terlihat keren di feeds Instagram atau TikTok, banyak anak muda yang rela bayar mahal untuk belanja fashion. Fenomena ini bikin koridor kampus beralih fungsi dari tempat belajar menjadi panggung adu gaya demi berburu pujian.

Fenomena ini paling nyata terlihat di kalangan mahasiswa. Pusaran arus informasi digital yang begitu instan secara terus-menerus mendikte standar penampilan yang tinggi. Banyak anak muda merasa harus mengikuti tren yang bergerak cepat agar tidak dianggap kuno atau dikucilkan dari tongkrongan.

Krisis Identitas di Balik Layar Kaca

Dorongan untuk selalu beli baju baru nyatanya bukan lahir karena kita butuh, melainkan karena rasa takut ketinggalan zaman alias FOMO (Fear of Missing Out). Tekanan ini makin parah karena algoritma media sosial terus-menerus menyodori kita konten outfit harian (OOTD) seolah-olah gonta-ganti baju tiap minggu adalah hal yang normal.

Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus pengamat budaya digital, Tsania, menjelaskan bahwa kebiasaan belanja impulsif (asal beli) ini sebenarnya berakar dari rasa bingung anak muda dalam mencari jati diri di dunia maya.

“Banyak generasi Z sekarang yang masih bingung dengan identitasnya, sehingga mereka gampang terbawa arus dan akhirnya mengikuti tren. Media sosial dengan berbagai fiturnya secara tidak langsung menciptakan kebingungan identitas dan mendorong pencarian validasi sosial secara instan.”

Gengsi sosial pun akhirnya bergeser ke media sosial. Merek pakaian tertentu sekarang dianggap sebagai penentu kasta. Kalau bisa pakai brand yang lagi viral, langsung dicap sebagai anak skena yang modis dan gaul. Sebaliknya, mereka yang bertahan pakai baju polos atau produk lokal biasa tanpa merek, sering kali harus menahan rasa minder saat kumpul bareng teman.

Menjinakkan Belanja Impulsif: Berpikir Sebelum Membeli

Dampak dari permainan industri fashion ini tidak main-main. Ketika gaya di media sosial lebih dipikirkan ketimbang isi dompet, keuangan dan kesehatan mental mahasiswa yang jadi taruhannya. Keinginan “biar disangka keren” ini melemahkan kontrol keuangan, bikin stres saat gak bisa beli, dan menciptakan lingkaran setan belanja yang susah disetop.

Untuk mengatasi jebakan ini, kita sebagai pengguna media sosial harus mulai kritis. Saat melihat baju lucu di toko online, coba ajak diri sendiri ngobrol dulu: “Gue beneran butuh baju ini, atau cuma pengen dipuji orang pas pake ini?”

Membatasi diri, sesekali menjauh dari racun-racun belanja di media sosial, dan menyadari bahwa harga diri kita tidak ditentukan oleh merek baju adalah kunci utama. Berani menolak ikut-ikutan tren bukan berarti kita kuper alias kurang pergaulan.

Pada akhirnya, setiap baju yang kita beli cuma demi kelihatan keren di media sosial sebenarnya adalah bukti bahwa kita kalah dikendalikan oleh pasar. Berani bilang “nggak” pada tren dan merasa nyaman dengan pakaian yang sudah ada di lemari adalah bentuk kemerdekaan berpikir yang sesungguhnya. Sebab, di dunia yang sibuk mendikte kita harus jadi orang lain, berani tampil biasa saja dan hemat adalah sebuah kemewahan yang bikin hidup lebih tenang.

Pada akhirnya, berani bilang tidak pada tren fashion yang melelahkan adalah cara terbaik untuk merebut kembali kendali atas dompet, pikiran, dan diri kita sendiri.