Perputaran Siklus Mode, Tren Lama Yang Kembali Ke Permukaan

Tren fashion tahun 90an

Tren fashion tidak pernah benar-benar pergi. Gaya yang sempat memenuhi jalanan dan media sosial dapat menghilang selama beberapa tahun, lalu kembali muncul dengan wajah baru. Celana low-rise, jorts, tracksuit, tas bahu kecil hingga gaya minimalis 90-an kembali menarik perhatian pada 2026.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa dunia mode memiliki siklus. Fashion terus bergerak maju, tetapi referensinya sering kali kembali ke masa lalu. Generasi muda mengambil elemen dari era sebelumnya, mengolahnya dengan gaya personal, lalu membawanya kembali ke ruang publik.

Laporan tren 2026 dari Depop menunjukkan bahwa 65 persen responden tertarik pada gaya atau barang dari era sebelumnya. Sebanyak delapan dari sepuluh responden juga mengaku mencampurkan referensi dari berbagai era dalam satu outfit. Temuan ini menunjukkan bahwa fashion masa lalu masih memiliki tempat dalam selera konsumen saat ini.

Tren Lama Kembali Lewat Gaya Anak Muda

Generasi muda punya peran besar dalam menghidupkan kembali fashion lama. Media sosial membuat mereka dapat menemukan referensi dari berbagai dekade tanpa harus mengalami langsung era tersebut.

Pada 2026, pengaruh gaya 1990-an dan awal 2000-an masih terlihat kuat. Circana mencatat low-rise denim sebagai jenis denim perempuan dengan pertumbuhan tercepat pada Januari hingga Mei 2026. Dalam periode 12 bulan yang berakhir Mei 2026, penjualan denim capri meningkat 7 persen, sedangkan tas bahu kecil naik 24 persen.

Angka tersebut memperlihatkan bagaimana elemen fashion lama kembali masuk ke pasar modern. Konsumen tidak sekadar melihat foto atau video bergaya vintage, tetapi juga menunjukkan minat terhadap siluet dan aksesori yang pernah populer.

Generasi sekarang juga tidak selalu menyalin gaya lama secara utuh. Mereka mengambil elemen tertentu, kemudian menggabungkannya dengan pakaian yang lebih sesuai dengan karakter dan kebutuhan masa kini.

Tren Y2K Belum Benar-Benar Pergi

Salah satu contoh paling jelas terlihat dari kembalinya gaya Y2K. Low-rise jeans, baby doll top, celana flare, tracksuit, dan aksesori khas awal 2000-an kembali muncul dalam gaya anak muda.

Menariknya, sebagian Gen Z bahkan tidak mengalami langsung era Y2K. Mereka mengenal periode tersebut melalui film, musik, arsip foto, selebritas, hingga konten media sosial.

Situasi ini membuat nostalgia dalam fashion tidak selalu berasal dari pengalaman pribadi. Generasi muda dapat membangun ketertarikan terhadap suatu era melalui berbagai referensi digital yang mereka temukan setiap hari.

Fashion kemudian mempertemukan dua generasi dalam satu gaya. Bagi sebagian orang, sebuah pakaian membawa kenangan masa lalu. Bagi generasi lain, pakaian yang sama justru terlihat sebagai tren baru.

Media Sosial Mempercepat Perputaran Tren

Media sosial membuat siklus fashion bergerak semakin cepat. TikTok, Instagram, Pinterest, dan platform visual lainnya memungkinkan referensi lama muncul kembali di hadapan jutaan pengguna.

Pinterest mencatat peningkatan pencarian untuk berbagai gaya bernuansa retro sepanjang 2026. Pencarian outfit bergaya 90-an minimalis meningkat 698 persen, sedangkan pencarian denim jorts outfit naik 330 persen. Pencarian vintage jorts juga meningkat 76 persen.

Diva, mahasiswa yang menjadi salah satu narasumber, mengaku menemukan inspirasi fashion melalui TikTok. Ia menyimpan konten yang menurutnya menarik untuk menjadi referensi ketika memilih pakaian.

“Konten-konten di TikTok sih karena biasanya kalau misalnya ada muncul konten di TikTok gitu kayak kulihat, ih bagus, kayaknya pengen coba aku save,” ujar Diva.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pengguna tidak hanya mencari pakaian baru. Mereka juga mencari inspirasi untuk menghidupkan kembali bentuk dan estetika yang pernah populer.

Kenaikan pencarian how to make shorts out of jeans sebesar 186 persen juga menarik perhatian. Tren tersebut menunjukkan adanya minat untuk mengubah pakaian yang sudah tersedia menjadi item yang lebih sesuai dengan gaya saat ini.

Mix and Match Membuat Tren Lama Lebih Relevan

Kembalinya tren lama tidak berarti seseorang harus membeli seluruh isi lemari baru. Mix and match justru cara sederhana untuk membawa kembali gaya tersebut.

Satu pakaian dapat menciptakan tampilan berbeda ketika seseorang mengganti atasan, bawahan, sepatu, atau aksesori. Celana lama yang sempat jarang dipakai dapat kembali masuk dalam rotasi outfit ketika pemiliknya menemukan kombinasi yang lebih sesuai dengan tren sekarang.

Khilda, narasumber lainnya, mengatakan bahwa ia mencari kombinasi baru ketika memiliki pakaian yang jarang digunakan. Ia tidak langsung membuang pakaian tersebut hanya karena sulit dipadukan.

“Kalau misalnya jarang dipakai tapi masih bisa aku pakai, itu biasanya aku cari mix and match-nya,” ujar Khilda. Ia kemudian mencari celana yang cocok agar pakaian tersebut dapat kembali digunakan.

Laporan Depop 2026 juga menunjukkan kecenderungan anak muda untuk mencampurkan referensi dari berbagai era. Mereka tidak terpaku pada satu periode, tetapi menggabungkan berbagai elemen untuk membentuk gaya yang lebih personal.

Cara tersebut membuat fashion terasa lebih fleksibel. Seseorang dapat mengikuti tren tanpa harus selalu membeli pakaian baru.

Tren Berputar, Gaya Tetap Personal

Perputaran tren menunjukkan bahwa fashion tidak selalu menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru. Banyak gaya hanya mengalami perubahan bentuk, warna, material, atau cara pemakaian sebelum kembali populer beberapa tahun kemudian.

Kondisi tersebut dapat mendorong konsumen untuk melihat kembali pakaian yang sudah mereka miliki. Alih-alih langsung membeli ketika tren berubah, mereka dapat mencoba kombinasi baru dan menemukan fungsi lain dari pakaian lama.

Fashion akhirnya tidak hanya berbicara tentang apa yang sedang populer. Cara seseorang mengolah pakaian juga menentukan bagaimana sebuah tren menemukan kehidupan baru.

Tren akan terus berputar. Gaya 90-an dapat kembali populer, Y2K dapat bertahan, sementara era lain mungkin segera menemukan momennya. Namun, seseorang tidak harus mengikuti setiap perubahan tersebut.

Satu pakaian dapat hadir dalam berbagai gaya pada waktu yang berbeda. Dengan kreativitas dan mix and match, pakaian lama dapat kembali relevan tanpa kehilangan karakter.

Pada akhirnya, tren mungkin terus berubah, tetapi gaya seseorang tetap memiliki ruang untuk menjadi personal. Fashion bukan hanya tentang mengejar apa yang sedang ramai, melainkan tentang bagaimana seseorang menemukan cara baru untuk memakai apa yang sudah dimiliki.