Ketika Busana Menghidupkan Kembali Suasana Tempo Dulu

Pemangku adat pesona budaya Pandanwangi
(Foto: Dok Pribadi/Visentris)

Malang, Pakaian bernuansa tempo dulu menjadi salah satu bagian yang membentuk suasana Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu. Bukan hanya dekorasi dan benda lama, panitia, pedagang, hingga sebagian warga yang datang turut mengenakan busana bernuansa masa lalu.

Bagi Anas (20), pengunjung acara, pakaian tersebut menjadi salah satu hal yang langsung menarik perhatiannya ketika tiba di lokasi. Ia melihat nuansa tempo dulu tidak hanya hadir melalui bangunan dan dekorasi, tetapi juga dari orang-orang yang berada di dalamnya.

“Hal pertama yang langsung saya perhatikan adalah suasana tempatnya, dekorasinya, serta busana bernuansa tempo dulu yang dikenakan oleh panitia, warga sekitar, sampai para pedagang,” ujar Anas.

Penonton menyaksikan Rampak Barong.
(Foto: Dok. Pribadi/Visentris)

Busana Menjadi Bagian dari Suasana

Konsep “Tempo Dulu” memang tidak hanya dibangun melalui benda-benda lama. Agus (48), Ketua Pelaksana Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu, menjelaskan bahwa penggunaan busana bernuansa masa lalu merupakan bagian dari tema acara.

“Dikarenakan temanya diambil dengan judul Tempo Dulu, jadi warga, panitia, pedagang, dan sebagian warga yang berkunjung juga mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu,” kata Agus.

Kehadiran busana tersebut membuat konsep acara terasa lebih menyeluruh. Pakaian tidak berdiri sendiri sebagai pelengkap penampilan, tetapi menjadi bagian dari visual yang menyatukan panitia, pedagang, warga, dan ruang acara.

Bagi generasi yang tumbuh dengan tren pakaian modern, bentuk busana masa lalu juga dapat menjadi pengalaman visual yang tidak selalu ditemukan dalam keseharian. Anas mengaku tertarik melihat bagaimana unsur masa lalu diterjemahkan ke dalam ruang acara.

Ia juga menemukan hal lain yang sebelumnya belum pernah dilihat secara langsung, seperti lampu minyak klasik dan televisi jadul. Pengalaman tersebut membuat gambaran tentang masa lalu tidak hanya datang dari cerita, tetapi dari benda dan visual yang bisa diamati secara langsung.

Ketika Fashion Menjadi Ingatan

Anas awalnya datang karena penasaran dengan konsep “Tempo Dulu”. Sebelum datang, ia hanya melihat satu atau dua unggahan acara di media sosial. Setelah melihat langsung, pandangannya terhadap kehidupan masa lalu berubah.

“Dulu saya sempat mengira kehidupan atau budaya masa lalu itu agak kaku. Tapi setelah melihat dan merasakannya langsung di sini, ternyata sama sekali tidak kaku,” ujar Anas.

Menurutnya, kehidupan masa lalu justru memiliki nilai estetika tersendiri yang mulai jarang ditemukan di era sekarang.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pakaian dapat menjadi lebih dari sekadar sesuatu yang dikenakan. Dalam sebuah ruang budaya, busana dapat membantu membangun suasana, memperkenalkan bentuk visual dari suatu zaman, sekaligus menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kehidupan masa lalu.

Upaya mengenalkan budaya kepada generasi muda juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Malang. Pemkot Malang menyebut generasi muda perlu dilibatkan dalam pelestarian seni dan budaya, terutama di tengah perkembangan modernisasi dan digitalisasi.

Pada akhirnya, busana tempo dulu di Pandanwangi bukan sekadar bagian dari penampilan acara. Ia menjadi salah satu cara untuk membuat masa lalu terlihat kembali di tengah kehidupan modern. Jika pakaian mampu membawa kembali gambaran sebuah zaman, apakah fashion juga bisa menjadi cara untuk menjaga ingatan budaya agar tidak ikut hilang ditelan zaman?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *