Batik di Tengah Tren Fashion, Begini Cara Mahasiswa Memadupadankannya

Batik kerap muncul dalam momen-momen tertentu, mulai dari peringatan Hari Batik Nasional hingga acara formal di lingkungan kampus. Setelah acara selesai, tidak sedikit pakaian batik yang kembali tersimpan di dalam lemari dan menunggu kesempatan berikutnya untuk dipakai.

Padahal, batik tidak harus selalu hadir dalam tampilan yang formal. Mahasiswa bisa mengolah satu pakaian batik menjadi berbagai gaya melalui teknik mix and match. Cara ini membuat batik lebih mudah masuk ke dalam keseharian sekaligus memberi kesempatan bagi pakaian lama untuk kembali digunakan.

Di tengah tren fashion yang terus berganti, kemampuan memadukan pakaian justru dapat menjadi pilihan yang lebih bijak daripada terus membeli pakaian baru.

Mix and Match Batik untuk Mengikuti Tren Fashion

Tren fashion membuat gaya berpakaian berubah dengan cepat. Model pakaian yang populer hari ini bisa saja berganti beberapa bulan kemudian. Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa perlu memperbarui isi lemari agar penampilannya tetap terlihat mengikuti zaman.

Namun, mengikuti tren tidak selalu berarti membeli pakaian baru. Mahasiswa dapat memanfaatkan pakaian yang sudah dimiliki dan mengubah tampilannya melalui kombinasi yang berbeda.

Batik, misalnya, dapat menjadi atasan yang mahasiswa padukan dengan celana jeans untuk menciptakan tampilan kasual. Untuk gaya yang lebih rapi, mahasiswa bisa memilih celana bahan dengan warna netral. Sementara itu, penggunaan rok atau aksesori tertentu dapat memberikan karakter berbeda pada pakaian batik yang sama.

“Karena batik ini bisa dicustom kaya misal anak sekarang itu kaya punya outfit, kaya outfit skena. Misalnya saya batik saya kan rata-rata warna hitam jadi saya kombinasi sama jelana kulot hitam gitu” tegas andrean.

Permainan warna juga berperan penting. Motif batik yang cukup kuat dapat mahasiswa seimbangkan dengan bawahan berwarna polos. Sebaliknya, Leny memilih batik dengan warna yang lebih sederhana dapat menjadi dasar untuk mengeksplorasi aksesori atau item fashion lain.

“kalau aku sendiri kalau cari batik warnanya yang agak-agak soft.” Ujar Leny.

Dengan cara tersebut, satu pakaian tidak berhenti pada satu gaya. Mahasiswa dapat terus menemukan kemungkinan baru dari pakaian yang sudah ada di lemari.

Tren Fashion Tidak Harus Berujung Belanja Pakaian Baru

Media sosial membuat tren fashion bergerak semakin cepat. Berbagai gaya berpakaian muncul setiap hari melalui TikTok, Instagram, dan platform lainnya. Konten influencer juga dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi pada saat yang sama juga mendorong keinginan untuk terus mengikuti tren.

“Media sosial itu ngaruh banget ke anak muda sekarang, apalagi klo gandeng influencer yang terkenal, jadi anak muda makin tertarik.” Ujar Leny.

Mahasiswa dapat mengambil sisi inspirasinya tanpa harus selalu mengikuti pola konsumsinya.

Ketika menemukan gaya yang menarik di media sosial, misalnya, seseorang bisa melihat kembali isi lemari sebelum memutuskan membeli pakaian baru. Bisa jadi, pakaian yang dibutuhkan sebenarnya sudah tersedia dalam bentuk item lain yang dapat dipadukan.

Cara berpikir ini mengubah pertanyaan dari “Apa yang harus saya beli?” menjadi “Apa yang sudah saya punya dan bagaimana saya bisa memakainya?”

Batik memiliki peluang besar dalam pola tersebut. Motifnya memang memiliki karakter yang kuat, tetapi mahasiswa dapat mengubah kesan keseluruhan melalui pilihan bawahan, alas kaki, tas, hingga aksesori.

Dengan begitu, mahasiswa tetap dapat bereksperimen dengan gaya tanpa menjadikan pembelian pakaian sebagai satu-satunya cara untuk mengikuti tren.

Memakai Kembali Pakaian Jadi Bagian dari Sustainable Fashion

Sustainable fashion tidak hanya berbicara tentang bahan pakaian atau proses produksi. Cara seseorang memperlakukan pakaian setelah membelinya juga menjadi bagian penting dari persoalan tersebut.

Salah satu langkah sederhana adalah memperpanjang masa pakai pakaian. Semakin sering seseorang menggunakan pakaian yang sudah dimiliki, semakin besar peluang pakaian tersebut memiliki umur pakai yang lebih panjang.

Di sinilah kebiasaan mix and match memiliki peran. Pakaian yang mulai terasa monoton dapat memperoleh tampilan baru ketika seseorang mengubah cara memadukannya. Satu kemeja batik tidak harus selalu hadir dengan bawahan yang sama. Begitu pula celana atau rok yang sama dapat menghasilkan tampilan berbeda ketika seseorang mengganti atasannya, seperti yang biasa dilakukan oleh Safira.

“kalau aku biasanya kalau udah bosen sama modelnya aku bakal mix and match sih, aku jadiin outer gitu” tegasnya.

Cara ini juga membantu mengurangi dorongan untuk membeli pakaian hanya karena merasa tidak memiliki pilihan untuk berpakaian berbeda.

Bukan berarti membeli pakaian baru selalu menjadi pilihan yang salah. Kebutuhan, ukuran, kondisi pakaian, dan fungsi tetap menjadi pertimbangan. Namun, sebelum menambah isi lemari, seseorang dapat memeriksa kembali pakaian yang sudah tersedia.

Cara Mahasiswa Membuat Batik Tetap Relevan

Batik memiliki identitas visual yang kuat sehingga sebagian orang mungkin menganggapnya lebih cocok untuk acara formal atau momen tertentu. Padahal, pilihan styling dapat mengubah kesan tersebut.

Mahasiswa dapat mulai dari pakaian batik yang paling sering tersedia di lemari, seperti kemeja atau atasan. Untuk tampilan sehari-hari, batik dapat mahasiswa kombinasikan dengan item basic seperti jeans, celana bahan, atau rok polos. Pilihan sepatu dan aksesori kemudian dapat menyesuaikan suasana yang ingin dibangun.

Tidak perlu membuat kombinasi yang rumit. Justru, penggunaan pakaian basic dapat membuat motif batik menjadi pusat perhatian tanpa membuat keseluruhan tampilan terasa berlebihan.

Mahasiswa juga dapat memanfaatkan prinsip warna. Memilih warna bawahan yang terdapat pada motif batik dapat membuat tampilan terasa lebih menyatu. Sementara itu, warna netral seperti hitam, putih, abu-abu, atau beige dapat menjadi pilihan ketika ingin membuat batik terlihat lebih sederhana.

Eksperimen kecil seperti mengganti bawahan, membuka kancing kemeja batik dan mengenakannya sebagai outer, atau menambahkan aksesori dapat menciptakan tampilan berbeda dari pakaian yang sama.

Batik Bisa Mengikuti Tren Tanpa Kehilangan Identitas

Mengikuti tren fashion tidak selalu berarti meninggalkan pakaian lama. Justru, tren dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi kembali pakaian yang sudah dimiliki.

Batik dapat mengikuti perubahan gaya ketika pemakainya mampu membaca tren dan menerapkannya sesuai karakter pribadi. Dengan begitu, batik tidak hanya muncul sebagai pakaian wajib pada Hari Batik Nasional, tetapi juga memiliki tempat dalam keseharian mahasiswa.

Pada akhirnya, keberlanjutan dalam berpakaian dapat dimulai dari keputusan sederhana: memakai pakaian yang sudah ada dengan lebih maksimal. Mix and match memberi ruang bagi mahasiswa untuk bereksperimen dengan gaya sekaligus memperpanjang penggunaan pakaian.