Batik di Lemari Anak Muda, Dipakai atau Cuma Disimpan?

Malang, Setiap 2 Oktober, batik kembali terlihat di antara pakaian yang sehari-hari lebih akrab dengan kaus, kemeja polos, atau jeans. Di kampus, kantor, hingga berbagai kegiatan, batik dikenakan untuk memperingati Hari Batik Nasional.

Namun, ketika peringatan itu selesai, ke mana batik pergi? Apakah tetap menjadi bagian dari pilihan berpakaian sehari-hari atau kembali tersimpan di dalam lemari?

Batik yang Menunggu Momen

Fira (20), mahasiswi, mengaku lebih sering mengenakan batik ketika ada kegiatan tertentu. Baginya, batik biasanya baru menjadi pilihan ketika terdapat acara, peringatan Hari Batik, atau dress code bersama teman.

“Biasanya kalau aku ada acara tertentu sih,” ujar Fira.

Ia menyebutkan beberapa situasi yang membuatnya mengenakan batik, mulai dari menghadiri event hingga ketika teman-temannya menentukan dress code untuk sebuah kegiatan.

“Ya, ada event atau mungkin Hari Batik. Terus, atau janjian mungkin sama teman-teman, buat saya ada kegiatan apa, dress code gitu ya,” katanya.

Batik bagi Fira memang sudah ada dalam pilihan pakaiannya, tetapi penggunaannya masih bergantung pada momen. Ketika tidak ada kegiatan yang mengharuskan atau mendorongnya mengenakan batik, pakaian tersebut belum menjadi pilihan utama.

Kebiasaan mengenakan batik di kalangan anak muda juga terlihat dalam penelitian Vidyana Yulianingrum dan sejumlah peneliti yang terbit dalam Philosophica: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya. Penelitian tersebut melibatkan 100 responden berusia 15–19 tahun dan sembilan responden wawancara untuk melihat ketertarikan generasi muda terhadap batik yang dipadukan dengan tren fashion. Hasilnya menunjukkan bahwa responden merasa bangga ketika mengenakan batik, tetapi belum memiliki kebiasaan menggunakan batik dalam keseharian.

Ketika Batik Mulai Mengikuti Zaman

Jika pemakaian batik masih menunggu momen tertentu, model menjadi salah satu hal yang membuat pakaian tradisional ini semakin dekat dengan gaya anak muda.

Lenny (20), mahasiswi, melihat batik kini hadir dalam bentuk yang lebih beragam. Menurutnya, batik tidak lagi hanya digunakan sebagai atasan, tetapi sudah hadir dalam bentuk rok, dress, hingga model yang lebih sederhana.

“Udah makin banyak ya model batik sekarang ya, kaya ga cuman atasan, kan sekarang bawahan kaya rok, jadi dress juga banyak” kata Lenny.

Meski begitu, keberagaman model belum otomatis membuat semua bentuk batik terasa relevan bagi anak muda. Lenny menilai batik lebih mudah diterima ketika hadir dalam model tertentu, terutama pada bawahan seperti rok.

Ketika mempertimbangkan batik, motif juga menjadi salah satu hal yang diperhatikannya. Lenny tertarik pada motif yang lebih modern dengan pilihan warna yang beragam. Ia sendiri lebih menyukai warna pastel dan soft dibandingkan warna yang terlalu mencolok.

Batik yang mengikuti perkembangan fashion juga terlihat dalam penelitian Syifa Mahala Adjani yang terbit dalam Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora pada 2024. Penelitian terhadap komunitas Remaja Nusantara di Jakarta menemukan bahwa Gen Z memadukan wastra batik dengan tren fashion kontemporer. Ketertarikan tersebut dipengaruhi oleh daya tarik estetika sekaligus nilai budaya yang melekat pada batik.

Saat Batik Jadi Pilihan Sehari-hari

Berbeda dari Fira yang lebih sering mengenakan batik ketika ada acara, Andrean (20), mahasiswa, justru melihat batik sebagai pakaian yang tetap cocok digunakan dalam keseharian.

Ketertarikannya pun tidak jauh dari apa yang dipertimbangkan Lenny. Andrean lebih menyukai batik dengan motif yang modern dan tidak terlalu ramai. Baginya, perkembangan motif membuat batik lebih mudah diterima sebagai bagian dari gaya berpakaian anak muda.

Pandangan Andrean menunjukkan bahwa batik tidak selalu harus menunggu sebuah acara untuk dikenakan. Ketika model dan motifnya sesuai dengan selera, batik dapat ditempatkan sejajar dengan pilihan pakaian sehari-hari lainnya.

Bagi Andrean, memakai batik juga memiliki arti yang lebih jauh dari sekadar persoalan pakaian. Sebagai produk Indonesia, mengenakan batik menurutnya menjadi salah satu cara untuk ikut melestarikan budaya sekaligus menunjukkan kecintaan terhadap tanah air.

Pada akhirnya, keberadaan batik di lemari anak muda tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering mereka mendapat kewajiban untuk mengenakannya. Ada yang masih menunggu undangan, dress code, atau peringatan tertentu. Ada pula yang mulai melihat batik sebagai pakaian sehari-hari selama model dan motifnya sesuai dengan selera.

Batik mungkin sudah berubah mengikuti zaman. Namun, perubahan itu baru benar-benar berarti ketika batik tidak lagi hanya keluar dari lemari pada 2 Oktober atau ketika ada aturan untuk mengenakannya.

Ketika tidak ada lagi kewajiban memakai batik, apakah tangan anak muda masih akan mencarinya di dalam lemari?