Awalnya cuma ingin melihat-lihat aja di layar ponsel. Ternyata ada baju yang terlihat menarik. Padahal belum tentu dibutuhkan, tapi karena sedang tren dan harganya murah. Tak lama, baju itu sudah dimasukkan ke keranjang dan tombol checkout ditekan.
Situasi seperti ini semakin mudah ditemui di tengah kebiasaan anak muda menggunakan media sosial. Fashion sekarang tidak hanya ada di toko, tapi juga muncul di antara video hiburan, rekomendasi, dan postingan influencer. Dari sinilah keinginan beli bisa muncul, walaupun sebenarnya belum benar-benar butuh.
Perilaku membeli secara tiba tiba seperti ini disebut impulsive buying. Namun, keputusan membeli pakaian secara tiba-tiba tidak selalu soal sulit menahan diri. Ada berbagai alasan yang membuat seseorang akhirnya membelinya.
Konten Fashion Memicu Impulsive Buying
Seringnya melihat konten fashion di media sosial adalah salah satu penyebabnya. Wahyu (20), mahasiswa Ilmu Komunikasi, mengaku TikTok sangat memengaruhi cara dia melihat pakaian.
“Sangat pengaruh ya,” ujar Wahyu saat ditanya tentang pengaruh media sosial terhadap keputusan membelinya.
Ia merasa konten outfit dari kreator membuatnya mudah tertarik hingga merasa ‘lapar mata’
Sedangkan Rae (20) mahasiswa sistem informasi, biasanya mencari inspirasi outfit di TikTok sesuai gaya yang ingin dipakai, seperti chic, minimalist, atau cute outfit. Seringnya melihat konten seperti itu membuat pakaian yang sebelumnya tidak dicari menjadi menarik perhatian.
Media Sosial Membentuk Keinginan Membeli
Munculnya konten fashion di media sosial tidak selalu langsung membuat seseorang ingin membeli secara impulsif. Berdasarkan penelitian oleh Adistia, Ardana, dan Zumaroh dalam Jurnal Ekuilnomi tahun 2025, media sosial ternyata tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif Generasi Z dalam industri fashion.
Penelitian yang melibatkan 68 mahasiswa di Kota Metro tersebut menemukan bahwa diskon memiliki pengaruh signifikan terhadap pembelian impulsif.
Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi tempat untuk menemukan produk dan membangun ketertarikan, namun keputusan untuk membeli sering kali dipengaruhi oleh faktor lain.
Seperti Rae yang merasa produk yang ditampilkan influencer memang bisa membuat seseorang tertarik karena tampak menarik dan sesuai selera. Meski begitu, pengaruh influencer tidak membuat Rae selalu membeli produk yang sama. Saat ingin meniru gaya influencer atau idolanya, ia memilih mencari pakaian dengan gaya serupa dengan budget mahasiswa.
Pilihan Rae menunjukkan bahwa inspirasi dari media sosial tetap melalui proses pertimbangan.
Diskon Mendorong Pembelian Impulsif
Selain konten, promosi juga dapat mempercepat Keputusan seseorang untuk membeli. Harga murah dan diskon besar bisa menimbulkan kesan bahwa kesempatan tersebut sayang untuk dilewatkan. Wahyu pernah mengalaminya saat melihat promosi pakaian di TikTok.
“Promosinya kayak besar-besaran,” ujar Wahyu.
Ia mengaku kemudian terburu-buru melakukan checkout, tapi saat barang sampai, pakaian tersebut ternyata tidak sesuai dengan harapannya.
Pengalaman ini menunjukkan bagaimana promosi bisa mengubah ketertarikan menjadi keputusan pembelian yang lebih cepat. Ketika barang sudah menarik dan harganya dianggap menguntungkan, proses pertimbangan jadi lebih singkat.
Dorongan untuk membeli juga bisa datang dari lingkungan sosial. Bagi Wahyu, penampilan di kampus cukup penting, karena sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi ia sering melakukan presentasi dan bertemu banyak orang. Ia merasa penampilan yang kurang menarik bisa membuat seseorang terlihat kurang siap.
Sedangkan Rae tidak merasa harus mengikuti semua tren. Ia memilih menyesuaikan tren dengan gaya pribadinya supaya tidak memakai pakaian yang sama dengan banyak orang.
Pada akhirnya, impulsive buying tidak selalu terjadi hanya karena seseorang “kalap.” Konten media sosial, promosi, keinginan pribadi, dan lingkungan sosial bisa saling bertemu dalam satu keputusan membeli.
Saat fashion semakin sering muncul di layar ponsel, keinginan untuk membeli bisa muncul tanpa kita sadari. Dengan semakin banyak tren dan pilihan yang hadir setiap hari, apakah kita masih mampu membedakan antara apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang hanya sekadar menarik untuk dimiliki?
