
Malang, Bentuk kepala dan kostum Rampak Barong menjadi bagian yang langsung menarik perhatian ketika pertunjukan dimulai. Perlengkapan berukuran besar itu ikut bergerak mengikuti pemain di atas panggung. Di balik penampilan tersebut, ada perlengkapan yang perlu disiapkan dan dirawat agar tetap bisa digunakan saat tampil.
Bagi Andi (28), ketua tim rampak barong, perlengkapan tersebut merupakan kebutuhan yang ia tanggung sendiri. Ia mulai mengikuti Rampak Barong sejak duduk di bangku SMP sekitar 2011. Ketertarikannya berawal dari hobi dan lingkungan desanya yang aktif dalam berkesenian.
“Sekarang sekitar Rp1 juta kalau yang bagus. Dulu saya pernah beli sekitar Rp2 juta,” kata Andi.
Saat ini, Andi mengeluarkan sekitar Rp1 juta untuk satu set perlengkapan yang menurutnya sudah bagus. Sebelumnya, ia pernah membeli perlengkapan dengan harga sekitar Rp2 juta.
Terdapat perubahan harga sebuah kostum itu tiap tahunnya. Yang awalnya harga kisaran Rp2 juta kini harga cukup menurun hingga Rp1jt.
Perlengkapan yang Dibawa dari Tulungagung
Andi tidak membuat sendiri perlengkapan yang digunakannya. Ia membelinya dari Tulungagung dan mengirimkannya ke tempat tinggalnya. Perlengkapan tersebut kemudian digunakan setiap kali ia mengikuti pertunjukan.
Bentuk dan karakter perlengkapan Rampak Barong yang digunakan Andi juga tidak banyak berubah. Setelah dipakai tampil, perlengkapan tersebut perlu dirawat agar tetap bisa digunakan. Salah satunya dengan menjemurnya untuk menjaga bagian bulu agar tidak mudah rontok.
Biaya tersebut juga tidak ditanggung sponsor. Andi dan timnya membeli dan merawat perlengkapannya sendiri. Kebutuhan itu menjadi bagian dari persiapan yang ia lakukan sebelum kembali tampil di atas panggung.
Pengalaman Andi menunjukkan bahwa kegiatan berkesenian tidak hanya berlangsung ketika pemain berada di depan penonton. Ada perlengkapan yang harus dimiliki, biaya yang perlu dikeluarkan, dan perawatan yang dilakukan setelah pertunjukan selesai.
Bagi Agus (48), Ketua Pelaksana Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu, kebutuhan pelaku seni juga berkaitan dengan ruang untuk terus tampil. Menurutnya, kesempatan menunjukkan kreativitas tidak kalah penting dari bayaran yang diterima pemain.
“Kalau hanya sekadar tampil dan dibayar, bagi mereka itu sudah biasa,” ujar Agus.
Menurut Agus, festival menjadi ruang bagi pelaku seni untuk menunjukkan berbagai bagian dari pertunjukan, mulai dari musik, lagu, tarian hingga kostum. Ia menilai keberadaan ruang tersebut penting agar pelaku seni tetap memiliki kesempatan untuk menjalankan aktivitas berkesenian.
Ketika Panggung Mempertemukan Pemain dan Penonton
Ruang tampil yang disediakan kemudian mempertemukan pelaku seni dengan masyarakat yang datang menyaksikan pertunjukan. Salah satunya Anas (20), penonton yang datang bersama teman-temannya.
Anas mengetahui acara Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu melalui Instagram. Ia datang karena sebelumnya belum pernah melihat Rampak Barong secara langsung.
“Karena belum pernah lihat langsung, jadi penasaran,” kata Anas.
Rasa penasaran itu muncul ketika ia melihat langsung berbagai bentuk perlengkapan yang digunakan dalam pertunjukan. Baginya, kostum Rampak Barong menjadi salah satu bagian yang menarik karena memiliki bentuk yang sebelumnya belum pernah ia lihat secara langsung.
Sebelum pertunjukan dimulai, suasana di sekitar panggung sudah ramai. Musik dimainkan dan pembawa acara mengajak anak-anak untuk ikut bermain di depan panggung. Ketika pemain Rampak Barong mulai tampil, perhatian Anas kemudian tertuju pada atraksi dan kostum yang dibawa ke atas panggung.
Menurut Anas, pertunjukan seperti ini membuat masyarakat dapat mengenal kembali kesenian tradisional yang memiliki beragam bentuk dan perlengkapan. Ia juga melihat perlunya kesenian tersebut terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Harapannya budaya-budaya ini terus dikembangkan dan dilestarikan, terus dipopulerkan di zaman sekarang supaya tidak terkikis oleh waktu,” ujar Anas.
Di satu sisi, pemain seperti Andi perlu menyiapkan perlengkapan dengan biaya sendiri agar tetap bisa tampil. Di sisi lain, pelaku seni membutuhkan ruang untuk membawa perlengkapan, kreativitas, dan pertunjukan mereka ke hadapan masyarakat.
Di atas panggung, penonton mungkin hanya melihat kostum yang bergerak mengikuti irama. Di baliknya, ada perlengkapan yang dibeli, dirawat, dan dibawa kembali setiap kali pertunjukan berlangsung. Ketika biaya dan ruang tampil menjadi bagian dari perjalanan berkesenian, sejauh mana masyarakat melihat apa yang ikut dibawa pemain sebelum mereka naik ke panggung?
