MALANG, Belanja fashion kini tidak lagi mengharuskan konsumen datang ke toko. Melalui TikTok Shop, marketplace, dan berbagai platform digital, pakaian dapat ditemukan hanya dengan menggulir layar. Kemudahan tersebut membuat proses menemukan, memasukkan barang ke keranjang, hingga membeli pakaian berlangsung semakin cepat.

Di balik kemudahan itu, muncul persoalan lain seberapa besar dampak kebiasaan belanja fashion secara online terhadap konsumsi dan limbah pakaian?
Dampaknya tidak hanya dapat dilihat dari jumlah pakaian yang dibeli, tetapi juga dari apa yang terjadi setelah pakaian sampai di tangan konsumen. Ketika pakaian jarang digunakan atau akhirnya tidak lagi diinginkan, siklus konsumsi tersebut dapat berujung pada bertambahnya limbah tekstil.
Ketika Media Sosial Mendorong Keinginan Belanja
Bagi Diva, mahasiswa yang menjadi salah satu narasumber, media sosial turut memengaruhi ketertarikannya terhadap fashion. Ia mengatakan konten TikTok sering membuatnya ingin mencoba gaya berpakaian tertentu.
“Konten-konten di TikTok sih karena biasanya kalau misalnya ada muncul konten di TikTok gitu kayak kulihat, ih bagus, kayaknya pengen coba,” ujarnya.
Konten yang menarik kemudian disimpan sebagai referensi. Ketertarikan tersebut tidak selalu langsung berakhir pada pembelian, tetapi dapat menjadi awal dari proses belanja.
Diva mengatakan ia biasanya memasukkan barang ke keranjang terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli.
Pengalaman serupa dialami Khilda. Ia mengaku cukup sering melihat konten outfit di TikTok, terutama karena algoritma menampilkan konten berdasarkan hal yang sebelumnya ia cari.
Ketika menemukan pakaian yang menarik, ia cenderung memasukkannya ke keranjang terlebih dahulu.
“Masukin keranjang dulu deh gitu, check out-nya tunggu ada rezeki,” kata Khilda.
Artinya, media sosial tidak selalu secara langsung membuat seseorang membeli. Namun, paparan berulang terhadap produk fashion dapat menciptakan keinginan baru dan memperpendek jarak antara melihat produk dan mempertimbangkan pembelian.
Promo dan Harga Menjadi Pertimbangan
Kemudahan belanja online juga berjalan beriringan dengan berbagai promosi. Diskon, flash sale, dan gratis ongkos kirim menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Khilda mengatakan harga menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih pakaian. Jika dua produk dianggap memenuhi kriteria yang sama, ia cenderung memilih produk dengan harga lebih murah.
Diva juga memiliki pertimbangan serupa. Ia mengatakan tidak hanya melihat harga, tetapi membandingkannya dengan kualitas barang.
“Kalau kualitasnya bagus, pilih yang lebih murah,” ujarnya.
Harga yang lebih terjangkau dapat membuat konsumen memiliki lebih banyak kesempatan untuk membeli pakaian. Namun, harga murah tidak otomatis berarti pakaian tersebut akan lebih sering digunakan.
Ketika Pakaian Tidak Lagi Digunakan
Persoalan muncul ketika pakaian yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi atau tidak lagi digunakan.
Khilda mengatakan beberapa pakaian yang dibelinya akhirnya jarang digunakan. Salah satu penyebabnya adalah ukuran celana yang tidak sesuai setelah dibawa ke penjahit.
“Kadang ada celana yang di size-nya itu kayaknya masuk, tapi pas coba tidak. Kepanjangan terus pas dipotong ke penjahit kependekan jadi enggak kepakai,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pakaian yang secara fisik masih ada tidak lagi memiliki fungsi bagi pemiliknya. Khilda bahkan merasa pembelian tersebut menjadi sesuatu yang disayangkan.
Diva juga mengaku memiliki sejumlah pakaian yang jarang digunakan karena ukurannya sudah tidak sesuai. Sebagian pakaian tersebut kemudian diberikan kepada sepupunya.
Jalur seperti pemberian kepada orang lain dapat memperpanjang masa penggunaan pakaian. Namun, tidak semua pakaian memiliki jalur penggunaan berikutnya.
Dampak yang Lebih Besar dari Sekadar Lemari
Secara global, persoalan limbah tekstil telah menjadi perhatian lingkungan. United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun. UNEP juga menyebut produksi pakaian meningkat dua kali lipat pada 2000–2015, sementara lama penggunaan pakaian menurun 36 persen.
UNEP memperkirakan sektor tekstil menghasilkan sekitar 2–8 persen emisi gas rumah kaca global dan menggunakan air dalam jumlah sangat besar. Pada 2023, hanya sekitar 8 persen serat tekstil yang berasal dari sumber daur ulang.
Di Indonesia, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat kategori “kain” sebagai salah satu komposisi sampah. Namun, kategori tersebut tidak secara khusus membedakan pakaian yang dibeli secara online dari tekstil lainnya.
Data SIPSN 2025 dari 278 kabupaten/kota juga menunjukkan timbulan sampah mencapai sekitar 29,2 juta ton per tahun, dengan 67,1 persen tercatat sebagai sampah tidak terkelola. Angka ini mencakup seluruh jenis sampah, bukan khusus tekstil.
Karena itu, dampak belanja fashion online tidak cukup diukur dari berapa kali seseorang menekan tombol checkout. Persoalannya terletak pada keseluruhan siklus: seberapa sering konsumen terdorong membeli, seberapa lama pakaian digunakan, dan ke mana pakaian tersebut pergi ketika sudah tidak lagi dibutuhkan.
Belanja online memang membuat fashion lebih mudah dijangkau. Namun, kemudahan membeli juga membuat konsumen semakin dekat dengan siklus konsumsi yang lebih cepat. Tantangannya kemudian bukan hanya bagaimana mengurangi pembelian, tetapi bagaimana memastikan pakaian yang sudah diproduksi dan dibeli dapat digunakan selama mungkin sebelum akhirnya menjadi limbah.
