
Malang – Pertunjukan Rampak Barong menjadi pembuka rangkaian kesenian dalam acara Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu di Lapangan Jambangan, Pandanwangi, Kota Malang, Sabtu (26/9/2026) malam.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian awal dari rangkaian kesenian yang disiapkan panitia. Setelah Rampak Barong, rangkaian dilanjutkan dengan Bantengan, Jaranan, dan Pencak Dor.
Memberi Ruang bagi Pelaku Seni
Ketua Pelaksana Pesona Budaya Pandanwangi Tempo Dulu, Agus (43), mengatakan acara tersebut tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pelaku seni untuk menunjukkan kreativitasnya.
“Kalau difestivalkan, kreativitas mereka bisa dilihat dan diapresiasi, mulai dari musik, lagu, tari-tarian sampai kostumnya. Itu menjadi nilai tersendiri bagi para pelaku kesenian,” ujar Agus.
Selain rangkaian kesenian, panitia juga menyiapkan festival Bantengan selama tiga hari. Festival tersebut diikuti 30 kelompok dari wilayah Malang Raya, dengan 10 kelompok tampil setiap harinya. Masing-masing kelompok mendapat waktu sekitar 20 menit.
Agus mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum kolaborasi antara seniman, UMKM, dan berbagai pihak yang terlibat dalam acara. Festival Bantengan juga digelar dalam rangka menyambut Hari Provinsi Jawa Timur dengan menggandeng Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT).

Rampak Barong Tetap Dipertahankan
Salah satu pemain Rampak Barong, Andi (28), mengatakan dirinya telah mengikuti kesenian tersebut sejak SMP atau sekitar 2011. Ia tertarik karena hobi dan sejak di desa sudah aktif mengikuti kegiatan seni.
Andi mengaku cukup sering tampil dalam berbagai acara, terutama di wilayah Malang. Menurutnya, bentuk dan ciri khas Rampak Barong yang digunakan saat ini masih kurang lebih sama seperti sebelumnya.
Untuk perlengkapan, Andi mengatakan semuanya diperoleh secara mandiri dan dibeli dari pembuat di Tulungagung.
Jadi Pengalaman Pertama Penonton
Bagi Anas (20), pertunjukan tersebut menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan Rampak Barong secara langsung. Ia mengetahui acara tersebut melalui media sosial, terutama Instagram.
Anas datang bersama teman-temannya karena penasaran dengan pertunjukan yang sebelumnya belum pernah ia lihat secara langsung.
“Karena ini pertama kalinya saya melihat Rampak Barong, saya jadi tertarik dengan atraksi dan berbagai suguhan yang ditampilkan,” kata Anas.
Ia juga menilai kostum dan perlengkapan yang digunakan pemain menjadi salah satu daya tarik pertunjukan. Menurutnya, kesenian seperti Rampak Barong perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar budaya Indonesia tidak tergerus perkembangan zaman.
“Saya berharap budaya-budaya seperti ini terus dikembangkan, dilestarikan, dan dipopulerkan di masa modern agar tidak tergerus oleh zaman,” ujar Anas.
