MALANG, visentris.com – Lemari pakaian di kamar kos mahasiswa kerap menyimpan cerita yang kontradiktif. Di satu sisi, lemari itu tampak padat dan sesak. Namun di sisi lain, sang pemilik sering berulang kali mengeluhkan kalimat klasik: ”Duh, bingung mau pakai baju apa, enggak punya baju!”

Tumpukan kain itu bukan sekadar lipatan tekstil. Di sana mengendap ratusan ribu hingga jutaan rupiah nominal uang yang membatu uang dari baju yang dibeli, namun berujung jarang atau bahkan tak pernah dipakai lagi.
Jebakan Outfit Sekali Posting
Bagi Elsa, mahasiswa di Malang, pakaian bukan sekadar penutup tubuh. Pakaian adalah cara mengekspresikan diri sekaligus menunjang rasa percaya diri. Sejak era pandemi COVID-19, ia mulai aktif di media sosial, terpengaruh tren fashion feminim hingga algoritma konten feed check di TikTok.
Namun, gengsi visual di linimasa kerap memakan korban. Elsa mengaku enggan memakai pakaian yang sama dalam jangka waktu berdekatan jika harus bertemu orang yang sama. Apalagi untuk urusan mengunggah foto di Instagram.
“Kalau keluar itu kayak kebanyakan cewek felt nggak punya baju, karena sudah sering dipakai. Kalau foto mau di posting tapi bajunya sudah pernah dipakai dan dilihat orang, ya enggak jadi diposting,” kata Elsa.
Keterikatan pada tren dan momen tertentu membuat sejumlah pakaiannya mangkrak. Salah satunya gaun bertema khusus Idulfitri yang dibelinya seharga ratusan ribu rupiah.
“Baju lebaran itu cuma dipakai sekali waktu acara foto keluarga. Setelah itu ya disimpan aja di lemari, nggak pernah dipakai lagi. Kalau dihitung, ada sekitar empat pieces pakaian di asrama yang benar-benar jarang dipakai. Nilainya sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribuan,” terangnya.
Janji Manis Keranjang Kuning dan Salah Ukuran
Pengalaman senada dialami Khilda. Sebagai mahasiswa, ia kerap tergiur dengan diskon, flash sale, hingga promo gratis ongkir di platform e-commerce. Namun, belanja secara daring menyimpang risiko kekecewaan.
“Paling banyak menumpuk itu celana. Kadang pas datang nggak sesuai ekspektasi. Atau sizenya pas, tapi pas dipotong ke penjahit malah kependekan. Akhirnya nggak kepakai sama sekali,” tutur Khilda.
Tak tanggung-tanggung, Khilda memperkirakan ada belasan potong celana dan pakaian yang mengendap di dalam lemarinya. Jika rata-rata satu celana dibeli seharga Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu, ada nominal sekitar Rp 1 juta lebih yang ‘terjebak’ di lemarinya.
“Sering merasa sia-sia kalau lagi rapikan lemari. Beli ini harganya lumayan, tapi pas dicoba malah nggak pas. Kalau bisa diulang waktu, rasanya nggak pengen beli atau potong celana itu,” keluhnya.
Mengendap Hingga Rp 1,5 Juta
Sementara itu, Diva berusaha meminimalisasi risiko dengan memilih gaya clean outfit dan warna-warna netral yang polos (timeless). Meski tergolong hemat dan membeli pakaian dalam kurun waktu tiga bulan sekali, lemarinya tetap tidak luput dari tumpukan baju tak terpakai.
Perubahan ukuran tubuh hingga lupa kalau pernah membeli baju menjadi alasan utama.
“Ada lebih dari 10 potong baju yang jarang sampai nggak pernah dipakai lagi karena kekecilan atau lupa punya baju itu. Kalau ditotal-total nilainya bisa Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta,” ungkap Diva.
Pilih Pre-Loved Hingga Kirim ke Kampung Halaman
Uang yang melayang memang tak bisa kembali utuh. Namun para mahasiswa ini memiliki caranya masing-masing agar pakaian tersebut tidak berakhir menjadi limbah tekstil yang terbuang sia-sia.
Khilda rutin menyortir lemarinya setahun sekali. Baju dan celana yang masih layak pakai ia kemas dalam dus lalu dikirim ke kampung halamannya di Bima untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Sementara Elsa dan Diva memilih menjualnya kembali (pre-loved) atau membagikannya ke teman dan saudara dekat.
Lemari pakaian pada akhirnya menjadi cermin nyata. Di sana terhitung jelas, berapa lembar rupiah yang terbuang demi menuruti impulsivitas dan gengsi gaya hidup sementara.
