Dari Polos hingga Bersablon, Perjalanan Seragam Bantengan Segoro Geni

Malang, Kaus menjadi bagian dari penampilan pemain Segoro Geni setiap kali tampil. Dari awalnya yang polos, seragam kelompok ini perlahan berkembang dengan tambahan desain dan sablon.

Mila (44), pemimpin kelompok kesenian Bantengan Segoro Geni, mengatakan bahwa seragam menjadi bagian dari penampilan kelompok setiap kali tampil. Sejak awal berdiri, seragam yang digunakan terus mengalami perkembangan, mulai dari desain hingga tambahan sablon.

“Bentuk dasarnya tetap kaos, tetapi model dan seragam terus dikembangkan sehingga sekarang memiliki beberapa variasi,” ujar Mila.

Bagi Segoro Geni, bentuk kostum dan kain yang digunakan juga menjadi salah satu hal yang membedakan kelompok mereka dengan kelompok Bantengan lainnya.

Dipesan dari Pembuat Khusus

Seragam tersebut tidak dibuat sendiri oleh anggota. Mila mengatakan, kostum biasanya dipesan kepada orang yang memang khusus membuatnya. Pada awal berdiri, Segoro Geni juga pernah memesan kostum kepada tetangga sekitar.

Setelah selesai dibuat, seragam digunakan dalam pertunjukan dan dirawat agar tetap bisa dipakai kembali.

Tidak ada batas waktu tertentu untuk penggunaan satu set kostum. Selama masih dalam kondisi baik dan tidak robek, seragam dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama.

Perawatan dilakukan setelah pertunjukan. Kostum dicuci, dijemur, kemudian disimpan sampai kembali dibutuhkan.

Cara sederhana itu membuat pakaian tidak langsung harus diganti setelah digunakan. Selama masih layak, seragam tetap dipakai pada pertunjukan berikutnya.

Dari Polos ke Bersablon

Perubahan seragam Segoro Geni berjalan secara bertahap. Pada awalnya, banyak kostum masih polos. Seiring waktu, desain mulai ditambahkan melalui sablon dan variasi model.

Akbar Maulana (26), koordinator koreografi sekaligus yang mengurus perlengkapan Segoro Geni, menjelaskan perkembangan tersebut.

“Pada awalnya banyak kostum yang masih polos. Seiring waktu, kostum mulai dikembangkan dan diberi desain atau sablon,” ujar Akbar.

Perubahan itu tidak berarti semua unsur harus diganti. Beberapa bagian tetap dipertahankan, sementara model dan desain dikembangkan mengikuti kebutuhan kelompok.

Bagi pemain, seragam kemudian menjadi bagian yang melekat selama pertunjukan. Dani Ageng (19), salah satu pemain Segoro Geni, mengatakan dirinya merasa nyaman dan aman ketika mengenakan kostum.

“Merasa nyaman dan aman ketika menggunakan kostum,” kata Dani.

Beberapa bagian kostum juga membutuhkan bantuan teman saat dikenakan. Setelah pertunjukan selesai, pakaian kembali melalui proses perawatan sebelum digunakan lagi.

Di balik seragam yang terlihat sederhana di atas panggung, ada proses yang tidak selalu terlihat penonton: dipesan, digunakan, dicuci, dijemur, disimpan, lalu kembali dikenakan.

Seragam Segoro Geni pun tidak berhenti pada satu bentuk. Ia terus dipakai, dirawat, dan dikembangkan bersama perjalanan kelompok.