Outfit Repeating, Cara Berpakaian Masa Kini

Malang – Tren fashion berganti cepat, promo datang silih berganti, dan keranjang belanja online hampir tidak pernah kosong. Di tengah semua itu, sebagian mahasiswa justru memilih sebaliknya. Memakai baju yang sama berulang kali, mengatur lemari seadanya, dan tidak terlalu memikirkan apa yang dipakai besok. Pilihan yang terdengar sederhana, tapi tidak selalu mudah dijalankan di lingkungan yang terus mendorong untuk tampil baru. Namun, itulah yang saat ini dilakukan oleh mahasiswa yaitu, outfit repeating.

Dari Impulsif Belanja Fashion ke Outfit Repeating

Arina (23), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, punya kebiasaan yang banyak orang kenali. Setiap hari membuka Shopee, bukan selalu untuk membeli, tapi selalu ada yang masuk keranjang. Barang tersimpan, kadang terlupakan, kadang akhirnya dipesan juga. Dulu, tawaran untuk beli baju selalu ia iyakan tanpa pikir panjang.

Tapi lama-lama ada yang bergeser. Bukan dari konten edukasi atau artikel soal konsumsi. Perubahan itu datang dari orang yang paling dekat dengannya. Kakaknya sudah lama jadi outfit repeater, dan Arin selalu mengagumi itu dari jauh.

“Dia tuh keren. Keren dalam artian, dia tuh bisa bertahan dengan apa yang dia punya,” katanya.

Cara pandang itu perlahan meresap. Ia mulai berpikir dua kali sebelum checkout, mempertimbangkan apakah yang ingin dibeli benar-benar cocok dengan apa yang sudah ada.

“Sekarang kalau mau beli baju kayak kepikiran aja. Kira-kira kalau aku beli celana ini, cocok enggak ya sama baju yang lain yang udah ada,” ujarnya.

Sekarang ia sedang belajar hal yang sama, perlahan menahan diri dan mulai menerapkan outfit repeating.

Cara Mengatur Outfit Repeating dengan Sistem Penjadwalan

Berbeda dengan Arina yang berubah karena inspirasi dari orang terdekat, Rifry (20), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, menemukan outfit repeating dari kebutuhan yang sangat praktis. Jadwal kuliah yang padat tidak menyisakan banyak waktu untuk berdiri lama di depan lemari setiap pagi. Maka dari minggu sebelumnya, ia sudah menentukan outfit apa yang akan dipakai setiap hari.

Sempat ada rasa tidak sreg ketika outfit yang sama muncul di dua acara yang berdekatan. Tapi perasaan itu tidak bertahan lama. Ia mulai melihat celah yang bisa disiasati.

“Bisalah disiasati dengan mix and match. Misalnya kemejanya udah pernah dipakai, bawahannya aja diganti, atau tambah aksesori,” ujarnya.

Dari kebiasaan praktis itu, ia sampai pada kesimpulan yang lebih besar. Menurutnya outfit repeating justru menunjukkan kalau seseorang bisa lebih bijak dan tidak begitu konsumtif, karena pakaian yang dimiliki benar-benar dimaksimalkan penggunaannya

Outfit Repeating yang Terbentuk dari Kebiasaan

Tidak semua orang perlu inspirasi atau sistem untuk sampai di sana. Fachra (19), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, melakukannya tanpa proses panjang. Tidak ada anggaran khusus untuk fashion, tidak ada jadwal outfit, dan tidak ada momen yang mengubah cara pandangnya. Ia hanya tidak terlalu memikirkannya.

Beli baju pun tidak pernah jadi prioritas.

“Kadang aja kalau pengen tuh baru misahin dari uang jajan atau dari sisa-sisa uang iuran,” ujarnya.

Kalau tidak ada sisa, tidak ada yang dibeli. Dan kalau bajunya belum terlalu kotor, ia pakai lagi.

“Sebenarnya nggak apa-apa sih pakai baju kayak beberapa kali, tapi yang penting tuh kayak belum kotor,” katanya.

Di lingkungannya pun tidak ada tekanan untuk selalu tampil dengan baju baru. Outfit repeating baginya bukan pilihan sadar yang diperjuangkan. Ia terbentuk begitu saja, dari kebiasaan sehari-hari yang tidak pernah terlalu dipikirkan.

Outfit Repeating, Pilihan Sadar di Tengah Tren Belanja

Pada akhirnya, outfit repeating hadir dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang memulainya karena terinspirasi orang terdekat, ada yang menjadikannya cara praktis mengatur keseharian, dan ada pula yang melakukannya tanpa sadar karena memang tidak menjadikan fashion sebagai prioritas. Meski berangkat dari pengalaman yang berbeda. Semuanya menunjukkan satu hal yang sama, yaitu pakaian tidak selalu harus baru untuk tetap bisa digunakan dan dinikmati. Di tengah tren yang terus berganti dan budaya checkout yang semakin mudah, mungkin pertanyaannya bukan lagi seberapa sering kita membeli pakaian baru, tetapi apakah kita sudah benar-benar memaksimalkan pakaian yang sudah kita miliki?