
Malang, Menjadi mahasiswa berarti belajar mengatur prioritas, termasuk soal penampilan. Di tengah tekanan tren yang terus berputar, pengeluaran fashion bisa membengkak tanpa disadari. Padahal, tampil baik tidak harus identik dengan boros. Kuncinya bukan berhenti belanja, tapi belajar belanja dengan kepala dingin. Dan itu dimulai dari satu hal yang sering diabaikan yaitu pengelolaan keuangan yang sadar.
Mengapa Pengelolaan Keuangan Penting bagi Mahasiswa?
Uang saku yang terbatas membuat setiap keputusan belanja punya konsekuensi nyata. Ketika pengeluaran fashion tidak direncanakan, yang terdampak bukan hanya dompet tapi juga konsentrasi belajar.
Data Mandiri Institute menunjukkan bahwa pengeluaran fashion Gen Z hampir menyamai kebutuhan pokok, mencapai 48 persen dari total pengeluaran. Angka itu memperlihatkan bagaimana kebutuhan dan keinginan sering bercampur, apalagi ketika tren datang silih berganti.
Puspita (21), seorang mahasiswi yang mengaku sering tergoda diskon, merasakannya sendiri. Ia pernah membeli abaya bukan karena butuh, tapi karena tren di TikTok sedang ramai.
“Aku beli abaya waktu itu karena FOMO. Jujur, aku bukan tipikal orang yang sering pakai gamis ke mana-mana, jadi abayanya cuma dipakai waktu-waktu tertentu aja,” akuinya.
Kesadaran akan perbedaan kebutuhan dan keinginan adalah langkah pertama. Kebutuhan adalah apa yang benar-benar dipakai. Keinginan adalah apa yang terlihat bagus di layar, tapi mungkin hanya dipakai sekali.
Strategi Mengelola Anggaran Belanja Fashion
Langkah pertama yang paling sederhana adalah menetapkan batas anggaran fashion per bulan dan patuhi. Angka yang realistis untuk mahasiswa adalah 10 hingga 15 persen dari total uang saku. Jika uang saku Rp1.500.000, artinya maksimal Rp150.000 hingga Rp225.000 untuk fashion setiap bulan.
Sebelum membeli, selalu tanyakan tiga hal, apakah item ini bisa dipadupadankan dengan minimal tiga pakaian yang sudah dimiliki? Apakah akan dipakai lebih dari sepuluh kali? Apakah keputusan ini sama jika dipikirkan dua hari kemudian? Jika jawabannya tidak, tunda dulu.
Puspita punya caranya sendiri untuk menahan diri dari godaan itu.
“Kalau aku FOMO lihat sesuatu, aku masih mikir-mikir lagi kira-kira aku butuh enggak ya? Ini bakal kepakai enggak ya?” ujarnya.
Nur (22) bahkan ia sudah merencanakan outfit hariannya dari awal minggu agar tidak tergoda membeli sesuatu yang sebenarnya sudah dimiliki.
“Kalau bisa dalam seminggu beda-beda sih. Misal, hari Senin pengen hitam, besoknya biru-putih,” ujarnya. “Kalau minggu depan mau pakai cokelat lagi, enggak apa-apa, tapi di hari yang lain.”
Strategi mengatur anggaran memang tidak berhenti pada sekadar menahan diri. Ada juga cara lain yang bisa membantu mahasiswa tetap tampil stylish tanpa harus menguras dompet
Sumber dan Alternatif Belanja Fashion yang Ramah Anggaran
Salah satu pilihan adalah memanfaatkan thrifting atau toko preloved, yang kini banyak tersedia baik secara offline maupun online. Selain harganya lebih terjangkau, thrifting juga memberi kesempatan menemukan item unik yang tidak selalu ada di pasaran.
Terakhir, jangan lupakan brand lokal yang kini semakin kreatif menghadirkan produk berkualitas dengan harga ramah mahasiswa. Membeli dari brand lokal bukan hanya hemat, tapi juga mendukung keberlanjutan ekonomi kreatif di sekitar kita.
Pilihan belanja hemat bukan hanya soal mencari harga murah, tetapi juga tentang cara kita memaknai fashion dalam kehidupan sehari‑hari. Dengan thrifting, atau mendukung brand lokal, mahasiswa bisa tetap tampil percaya diri tanpa harus mengorbankan anggaran.
Fashion memang bergerak cepat, tapi keputusan kita bisa lebih pelan dan bijak. Lalu, di tengah derasnya tren dan godaan diskon, sudahkah kita benar‑benar tahu mana yang kita butuhkan, dan mana yang sekadar keinginan?
