
Bagi sebagian pelari, sepasang sepatu menjadi barang pertama yang disiapkan sebelum mulai bergerak. Ada yang memilihnya karena nyaman digunakan. Ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari identitas ketika berada di lingkungan pelari.
Nopelta (20), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, masih mengingat awal ia mengenal olahraga lari. Saat SMA, ia memilih berlari karena aktivitas tersebut sederhana dan tidak membutuhkan banyak biaya.
Baginya, lari saat itu hanya membutuhkan niat dan sepasang sepatu yang bisa digunakan. Ia tidak memikirkan merek tertentu atau perlengkapan yang terlihat menarik. Lari hanya menjadi cara untuk menjaga kesehatan sekaligus menikmati aktivitas fisik.
“Dulu saya tertarik itu karena hobi yang murah, terus efeknya sangat berdampak buat kesehatan,” ujar Nopelta.
Dunia lari kini mulai mengalami perubahan. Aktivitas yang awalnya identik dengan kesederhanaan mulai berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Sepatu tidak lagi hanya menjadi alat pendukung olahraga. Dalam beberapa situasi, sepatu mulai menjadi penanda selera, kemampuan membeli, hingga posisi seseorang di lingkungan pelari.
Dari Fungsi Menuju Simbol
Perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya perhatian terhadap merek dan jenis sepatu. Teknologi seperti bantalan khusus hingga karbon membuat sepatu memiliki nilai lebih dari sekadar alas kaki.
Firda (22), mahasiswa Universitas Negeri Malang yang aktif berlari sejak 2022, melihat perubahan tersebut di lingkungan pelari. Ia menganggap sepatu tetap memiliki peran penting karena berhubungan dengan kenyamanan dan performa.
Ia pernah merasakan perbedaan ketika menggunakan sepatu yang tidak sesuai untuk berlari. Namun, ia juga melihat adanya kecenderungan sebagian orang menjadikan sepatu sebagai bagian dari citra diri.
Menurutnya, perkembangan tren membuat sebagian pelari mulai memperhatikan bagaimana mereka terlihat. Kebiasaan membagikan aktivitasnya melalui media sosial juga mempengaruhi cara pandang setiap pelari di media sosial.
“Orang-orang sepatunya keren-keren, jadi ada sedikit rasa insecure juga,” kata Firda.
Perasaan tersebut muncul ketika sepatu mulai menjadi sesuatu yang terlihat dan dibandingkan. Bukan hanya tentang kualitas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang ingin dipandang oleh orang lain.
Sepatu yang digunakan akhirnya tidak berhenti pada fungsi. Ia bisa menjadi cara seseorang menunjukkan selera, mengikuti lingkungan, atau merasa lebih percaya diri.
Ketika Merek Membentuk Persepsi
Tsaniah selaku dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (37) melihat fenomena ini sebagai bagian dari perubahan perilaku konsumsi di era digital. Menurutnya, media sosial membuat hubungan seseorang dengan barang semakin kuat.
Konten yang muncul secara terus-menerus dapat membuat sebuah produk terlihat lebih penting. Barang yang awalnya hanya memiliki fungsi bisa berubah menjadi simbol gaya hidup.
“Kalau kita masih sering melihat konten media sosial, algoritma akan terus memberikan hal yang sesuai dengan apa yang kita cari,” ujar Tsaniah.
Dalam konteks lari sepatu tertentu dapat membawa persepsi tertentu. Merek yang sering muncul dapat dianggap lebih unggul meskipun kebutuhan setiap pelari berbeda.
Hal ini menjadikan perubahan keputusan membeli tidak selalu berasal dari kebutuhan olahraga. Terkadang ada dorongan untuk mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
Menurut Tsaniah, kondisi tersebut berkaitan dengan cara anak muda membangun identitas. Apa yang digunakan seseorang dapat menjadi bagian dari cara mereka memperkenalkan diri kepada orang lain.
Pelari Dilihat dari Sepatunya
Nopelta melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari perkembangan budaya lari. Menurutnya sekarang perlengkapan seperti sepatu, jam olahraga, dan outfit semakin menjadi perhatian.
Ia percaya kualitas seorang pelari tidak hanya terlihat dari apa yang digunakan. Perlengkapan dapat membantu, tetapi kemampuan tetap dibentuk melalui latihan dan konsistensi.
Sepatu mahal tidak langsung membuat seseorang menjadi pelari yang lebih baik. Begitu juga sepatu sederhana tidak menentukan seseorang tidak serius dalam olahraga tersebut.
Perubahan dunia lari menunjukkan bahwa sebuah benda dapat memiliki makna lebih besar dari fungsi awalnya. Sepatu yang seharusnya membantu langkah seseorang kini juga dapat menjadi cara untuk menunjukkan siapa dirinya.
Di tengah tren yang membuat barang semakin mudah dikaitkan dengan identitas, apakah sepatu benar-benar mencerminkan kemampuan seseorang, atau hanya menjadi simbol yang terbentuk dari cara kita melihat dan menilai orang lain?
