Istilah sepatu tempur sempat cukup populer di kalangan anak muda, terutama mahasiswa. Sebutan tersebut tidak mengacu pada merek atau model tertentu, melainkan pada fungsi dan intensitas pemakaiannya. Semakin sering sebuah sepatu digunakan dalam berbagai kegiatan, semakin layak pula sepatu tersebut mendapat predikat sebagai sepatu tempur.
Warna putih pada sepasang sepatu milik Fajar perlahan memudar. Beberapa bagian terlihat kusam, sementara lipatan di sisi depan sepatu menunjukkan bahwa alas kaki itu telah digunakan dalam waktu yang cukup lama. Meski kondisinya tidak lagi seperti baru, mahasiswa semester akhir di Kota Malang tersebut masih setia mengenakannya hampir setiap hari.
Sepatu itu menemaninya ke berbagai tempat. Mulai dari ruang kelas, kegiatan organisasi, rapat kepanitiaan, hingga perjalanan liputan untuk tugas kuliah. Di kalangan mahasiswa, sepatu seperti itu sering disebut sebagai “sepatu tempur”, istilah yang merujuk pada sepatu yang digunakan secara terus-menerus untuk berbagai aktivitas hingga jarang dicuci atau diganti.
“Sudah hampir dua tahun pakai sepatu ini. Dipakai ke kampus, nongkrong, sampai acara organisasi. Kadang mau dicuci tapi besoknya sudah dipakai lagi,” kata Fajar sambil tertawa.
Bagi sebagian mahasiswa, keberadaan sepatu tempur tidak terlepas dari padatnya aktivitas yang mereka jalani. Kesibukan kuliah, organisasi, magang, hingga pekerjaan paruh waktu membuat mereka membutuhkan alas kaki yang nyaman dan praktis untuk digunakan setiap hari.
Tidak sedikit yang mengaku memiliki lebih dari satu pasang sepatu, tetapi tetap menjadikan satu pasang tertentu sebagai andalan. Faktor kenyamanan menjadi alasan utama. Setelah digunakan dalam waktu yang lama, sepatu biasanya menyesuaikan bentuk kaki pemakainya sehingga terasa lebih nyaman dibandingkan sepatu baru.
Selain soal kenyamanan, faktor ekonomi juga ikut memengaruhi. Di tengah kebutuhan kuliah yang beragam, banyak mahasiswa memilih memaksimalkan penggunaan barang yang masih layak pakai dibandingkan membeli yang baru.
Hal tersebut diakui oleh Farid (21), mahasiswa asal Bogor. Menurutnya, membeli sepatu baru bukan menjadi prioritas selama sepatu lama masih dapat digunakan dengan baik.
“Kalau masih nyaman dipakai ya saya pakai terus. Daripada beli sepatu baru, uangnya bisa dipakai buat kebutuhan kuliah atau yang lain,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Alas Kaki
Di balik tampilannya yang kusam, sepatu tempur sering kali menyimpan berbagai cerita bagi pemiliknya. Tidak sedikit mahasiswa yang mengaitkan sepatu tersebut dengan perjalanan dan pengalaman yang pernah mereka lalui selama masa kuliah.
Sepatu yang sama mungkin pernah digunakan saat mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa, menjalankan program kerja organisasi, melakukan penelitian lapangan, hingga menghadiri acara wisuda teman-temannya. Tanpa disadari, benda sederhana itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk pengalaman seseorang selama menempuh pendidikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan barang yang digunakan sehari-hari tidak selalu bersifat fungsional. Dalam banyak kasus, terdapat nilai emosional yang membuat seseorang enggan mengganti barang tersebut meskipun usianya sudah cukup lama.
Pengamat perilaku konsumen menilai bahwa keterikatan terhadap barang yang sering digunakan merupakan hal yang umum terjadi. Intensitas penggunaan yang tinggi dapat menciptakan hubungan emosional karena barang tersebut menjadi bagian dari berbagai pengalaman hidup pemiliknya.
Antara Kenyamanan dan Kebersihan
Meski demikian, penggunaan sepatu tempur yang terlalu lama juga menimbulkan berbagai kritik. Sebagian orang menilai kebiasaan jarang mencuci sepatu dapat mengurangi kenyamanan serta berdampak pada kebersihan.
Seiring meningkatnya kesadaran akan perawatan alas kaki, berbagai jasa laundry sepatu mulai bermunculan di berbagai kota. Kehadiran layanan tersebut memberikan alternatif bagi pengguna untuk menjaga kebersihan sepatu tanpa harus mengganti dengan yang baru.
Namun bagi sebagian mahasiswa, mencuci sepatu bukan perkara yang mudah. Waktu yang terbatas serta aktivitas yang padat sering kali membuat mereka menunda perawatan hingga kondisi sepatu benar-benar terlihat kotor.
Meski tren sepatu tempur tidak lagi sepopuler beberapa tahun lalu, istilah tersebut masih bertahan dalam percakapan mahasiswa. Bahkan, bagi sebagian orang, memiliki sepatu tempur masih menjadi simbol kesibukan dan mobilitas yang tinggi.
Pada akhirnya, sepatu tempur bukan hanya soal alas kaki yang jarang dicuci atau digunakan setiap hari. Di balik warna yang memudar dan noda yang menempel, terdapat berbagai cerita tentang perjuangan menyelesaikan tugas, menghadiri rapat organisasi, mengejar tenggat waktu, hingga menikmati masa-masa kuliah bersama teman-teman.
Bagi banyak mahasiswa, sepatu tempur mungkin memang tidak lagi terlihat sempurna. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah tersimpan jejak perjalanan yang tidak dapat digantikan oleh sepasang sepatu baru.
