Ketika Standar Outfit Pelari Menghalangi Langkah Pertama

Sore hari menjadi waktu yang sering dipilih Firda untuk berlari. Di tengah ramainya tren pelari yang muncul di media sosial, ia melihat aktivitas tersebut sebagai sesuatu yang lebih personal. Baginya, lari tidak dimulai dari sepatu mahal atau pakaian yang terlihat menarik.

Firda (21), mahasiswi Universitas Negeri Malang yang mulai mengenal lari sejak 2022, awalnya menjadikan olahraga tersebut sebagai bagian dari persiapannya mengikuti bimbingan jasmani. Saat itu, ia lebih fokus membangun kemampuan tubuh dibanding memikirkan perlengkapan.

“Kalau yang paling utama itu fisik. Karena tujuan utama dari lari ini kan meningkatkan kualitas diri,” ujar Firda.

Namun, perkembangan media sosial membuat cara sebagian orang melihat olahraga lari ikut berubah. Aktivitas yang dulu sederhana kini mulai berkaitan dengan tampilan dan identitas seseorang.

Ketika Outfit Menjadi Standar Tidak Tertulis

Bagi Firda, perlengkapan lari tetap memiliki fungsi. Sepatu yang sesuai dapat membantu kenyamanan dan mendukung performa seseorang saat berlari.

Ia pernah merasakan perbedaan ketika menggunakan sepatu yang tidak dirancang khusus untuk olahraga tersebut. Menurutnya, perlengkapan memang penting, tetapi tidak selalu harus mengikuti tren.

“Orang-orang sepatunya keren-keren, jadi ada sedikit rasa insecure juga,” kata Firda.

Rasa tersebut muncul ketika melihat pelari lain dengan perlengkapan yang dianggap lebih baik. Hal itu menunjukkan bahwa tekanan dalam olahraga lari tidak selalu berasal dari kemampuan fisik, tetapi juga dari cara seseorang melihat dirinya dibanding orang lain.

Meski begitu, Firda tetap mencoba kembali pada alasan awalnya berlari. Baginya, outfit seharusnya mendukung aktivitas, bukan menjadi syarat agar seseorang merasa pantas memulai.

Tren Digital dan Keinginan untuk Terlihat

Fenomena tersebut tidak terlepas dari perkembangan media sosial. Tsaniah (37) dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang melihat bagaimana platform digital dapat membentuk kebiasaan dan cara seseorang mengambil keputusan.

Menurutnya, algoritma membuat pengguna terus menerima konten yang sesuai dengan minat mereka. Paparan yang berulang dapat membuat tren terasa seperti kebutuhan.

“Kalau kita masih sering melihat konten media sosial, algoritma akan terus memberikan hal yang sesuai dengan apa yang kita cari,” ujar Tsaniah.

Dalam dunia fashion dan gaya hidup, kondisi tersebut dapat membuat seseorang mengikuti tren bukan hanya karena fungsi. Ada dorongan untuk diterima, terlihat sesuai, atau tidak merasa tertinggal dari lingkungan sekitar.

Pakaian dan perlengkapan akhirnya tidak hanya menjadi benda yang digunakan. Keduanya juga menjadi bagian dari cara seseorang membangun identitas.

Ketika Lari Berubah Menjadi Gaya Hidup

Perubahan cara pandang terhadap lari juga dirasakan Nopelta (20), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang mulai rutin berlari sejak SMA. Ia mengenal lari sebagai olahraga sederhana yang mudah dilakukan.

“Dulu saya tertarik itu karena hobi yang murah, terus efeknya sangat berdampak buat kesehatan,” ujar Nopelta.

Kini, ia melihat dunia lari berkembang dengan berbagai atribut tambahan seperti sepatu, jam olahraga, hingga outfit. Menurutnya, perkembangan tersebut tidak selalu buruk selama tetap disesuaikan dengan kebutuhan.

Perlengkapan bisa menjadi penyemangat, tetapi tujuan utama tetap berada pada proses berlari itu sendiri.

Lari pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang terlihat di media sosial. Ada alasan pribadi yang membuat seseorang memilih bergerak.

Ketika standar penampilan semakin kuat dibentuk oleh dunia digital, apakah seseorang benar-benar tidak ingin mulai berlari, atau hanya merasa belum cukup sesuai dengan gambaran pelari yang selama ini mereka lihat?