Ketika aspal jalanan kalah pikat oleh visual feed, di situlah kesehatan esensial bergeser menjadi sekadar panggung pamer modal.

MALANG — Olahraga lari kini tak lagi sekadar tentang memacu jantung, mengatur ritme napas, atau membasahi kaus dengan keringat murni. Di era di mana eksistensi divalidasi oleh estetika digital, lari telah bermutasi menjadi sebuah subkultur visual yang mahal. Fenomena ini melahirkan sebuah realitas baru yang bisa kita sebut sebagai Hyper-Visual Tax (Pajak Hiper-Visual) sebuah harga tinggi yang harus dibayar oleh para pelari pemula demi bisa ‘terlihat’ setara di media sosial, terlepas dari apakah fungsi esensial dari atribut tersebut benar-benar mereka butuhkan atau tidak.
Jika Anda datang ke area car free day atau lintasan lari kota-kota besar belakangan ini, pemandangannya kian seragam. Pelari pemula sudah tampil dengan proteksi dan kurasi gaya layaknya atlet maraton profesional. Mulai dari kacamata hitam aerodinamis berspesifikasi tinggi, smartwatch premium, running vest penuh kompartemen, hingga super shoes bersol karbon tebal. Di tahun 2026 ini, sebagian besar orang di media sosial memang tampak lebih tertarik pada branding sebagai “pelari culture” daripada fokus pada kapasitas dirinya. Banyak pelari baru yang cenderung lebih mementingkan aspek visual, outfit, serta citra (image) yang mereka bangun di ruang digital ketimbang komitmen latihan itu sendiri.
Faktanya, ada pergeseran motivasi yang masif di kalangan generasi muda yang lahir dan tumbuh besar di tengah pusaran arus informasi digital yang begitu instan. Dorongan untuk bugar kini kerap kali terdistorsi oleh kecemasan sosial akut akibat Fear of Missing Out (FOMO) yang diakibatkan oleh paparan algoritma media sosial secara terus-menerus. Paradigma yang berkembang di masyarakat hari ini mendikte bahwa lari adalah aktivitas yang “keren”. Akibatnya, lintasan lari beralih fungsi menjadi ruang berburu validasi sosial, di mana seseorang merasa harus mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal atau dikucilkan dari kelompoknya.
Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus pengamat budaya digital, Tsania, menjelaskan bahwa fenomena ini berakar dari krisis identitas yang dialami oleh generasi Z di ruang digital.
“Banyak generasi Z sekarang yang masih bingung dengan identitasnya, sehingga mereka gampang terbawa arus dan akhirnya mengikuti tren. Media sosial dengan berbagai fiturnya secara tidak langsung menciptakan kebingungan identitas dan mendorong pencarian validasi sosial secara instan. Ketika seorang influencer menampilkan gaya konsumsi fashion tertentu secara berulang, anak muda menangkap hal tersebut sebagai standar baku yang harus mereka ikuti agar diakui.”
Tekanan sosial ini akhirnya memicu standar berbusana (look) yang tinggi di kalangan pelari, tanpa memedulikan apakah kualitas performa lari mereka sudah mencukupi atau belum. Merek sepatu lari global, seperti Hoka atau Nike, kini tidak lagi dinilai sebatas alat pelindung kaki, melainkan telah bergeser menjadi simbol stratifikasi dan klasifikasi sosial di aspal jalanan. Seseorang yang mengenakan sepatu bersol karbon premium kerap kali langsung dicap sebagai pelari senior atau kaum elit, sementara mereka yang mengenakan sepatu lokal di bawah lima ratus ribu rupiah tak jarang harus menelan rasa minder dan insecure di awal proses latihan mereka.
Ironisnya, Hyper-Visual Tax ini kerap mengaburkan fungsi demi estetika visual semata. Firda, seorang pelari mandiri asal Malang, mengakui adanya tuntutan visual tersebut, terutama saat menghadiri event-event lari besar.
“Kalau buat daily atau latihan rutin, fokus kita sebenarnya meningkatkan kapasitas tubuh, jadi pakaian yang penting fungsional dan nyaman saja. Tapi kalau sudah ikut event, tujuannya berbeda; di situ visual harus match dari ujung kepala sampai kaki demi kebutuhan dokumentasi foto yang bagus untuk di-posting di media sosial. Efeknya, nilai utama dari olahraga lari itu sendiri sedikit bergeser menjadi ajang mencari validasi dan personal branding diri.”
Hal senada juga dirasakan oleh Novel, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang juga aktif berolahraga. Ia tidak menampik bahwa di tempat keramaian seperti stadion, ada tuntutan sosial tak tertulis untuk tampil modis dan stylish agar tidak dianggap norak oleh pelari lain. Namun, Novel memberikan catatan kritis mengenai jebakan konsumtif ini.
“Sekarang banyak pelari yang memaksakan diri membeli atribut mulai dari kacamata, jam branded untuk Strava, hingga sepatu mahal hanya karena lapar mata akibat tren di Instagram atau TikTok. Padahal kalau dibeli hanya karena gengsi dan cuma dipakai sekali-dua kali, itu sangat mubazir. Yang paling krusial dalam lari itu adalah kesehatan, stamina, sirkulasi udara sepatu, dan konsistensi progresnya, bukan seberapa mahal pakaiannya.”
Gelombang konsumerisme outfit lari ini pada akhirnya bermuara pada masalah ekonomi dan lingkungan yang lebih masif. Kemudahan akses e-commerce, promo kupon digital, serta serbuan barang impor murah terus memborbardir anak muda untuk membeli pakaian baru tanpa sadar. Siklus fast fashion yang serba cepat ini memicu penumpukan sampah tekstil yang luar biasa berat dan sulit terurai di alam. Ketika industri kapitalisme terus mendikte pasar untuk bersikap impulsif, esensi olahraga lari yang dulunya dinilai sebagai olahraga paling murah dan demokratis kini telah terprivatisasi oleh lingkaran gengsi materi yang melelahkan.
Sebab pada titik tertinggi distorsi fesyen ini, esensi olahraga telah mati; menyisakan raga yang lelah bukan karena jarak yang ditempuh, melainkan karena beratnya beban gengsi yang dipamerkan.
