
Arina selalu meluangkan waktu untuk memilih pakaian yang akan dia kenakan sebelum berangkat kuliah. Baginya, berpakaian bukan sekadar memakai baju yang ada di lemari. Warna pakaian, model kerudung, hingga kecocokan keduanya sering kali dipertimbangkan sebelum berangkat ke kampus. Saat masih menjadi mahasiswa baru, ia bahkan bisa memikirkan outfit yang akan dipakai beberapa hari sebelumnya.
Mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Bekasi itu percaya bahwa penampilan adalah hal pertama yang dilihat orang sebelum mengenal siapa diri seseorang. Meskipun kini ia tidak lagi terlalu memperhatikan dalam memilih pakaian, ia tetap berusaha tampil rapi setiap harinya.
“Setidaknya orang lihat aku rapi,” katanya.
Media sosial kini dipenuhi tren fashion baru setiap saat, Arina juga pernah merasakan dorongan untuk mengikuti tren tersebut. Namun, ia mulai belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta lebih bijak dalam mengonsumsi produk fashion. Meskipun tidak semua orang mengenalnya secara personal, penampilannya menjadi kesan pertama yang dilihat orang
Inspirasi Fashion dari Media Sosial
Arina banyak mendapatkan inspirasi berpakaian dari media sosial, selain dari lingkungannya. Ia aktif menggunakan Instagram dan Pinterest untuk mencari referensi gaya fashion yang menarik. Menurutnya, pengaruh ia memilih pakaian bukan berasal dari iklan, melainkan dari influencer yang ia ikuti. Gaya berpakaian yang unik membuatnya tertarik untuk mencoba tampilan yang berbeda.
“Kalau pengaruhnya mungkin sekitar 70 persen dari influencer yang aku ikuti,” ujarnya.
Lingkungan pertemanan dan media sosial juga memengaruhi cara anak muda melihat fashion. Arina sering melihat bagaimana tren dapat menyebar dengan cepat. Ketika ada satu orang membeli barang yang sedang populer, tidak sedikit temannya yang ikut membeli barang yang sama.
Dari Belanja Impulsif Menjadi Lebih Bijak
Arina mengaku bahwa dulu ia cukup sering membeli barang karena tertarik sama modelnya. Ia terbiasa membeli tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar dibutuhkan atau tidak. Namun, setelah mengikuti praktikum dengan risetnya yang membahas isu lingkungan dan perilaku konsumtif, kebiasaan itu perlahan berubah. Ia mulai menyadari bahwa kebiasaan belanja berlebih dapat menimbulkan dampak yang cukup besar
“Aku sekarang berusaha jadi outfit repeater,” katanya.
Menggunakan pakaian yang sama berulang kali bukanlah sesuatu yang memalukan baginya. Sebaliknya, hal itu membuatnya lebih mudah memilih pakaian setiap harinya. Beberapa temannya bahkan mulai mengenali gaya berpakaiannya.
“Kadang orang bilang, ‘ini Arin banget’,” ujarnya.
Tekanan Mengikuti Tren
Meski berusaha lebih bijak dalam berbelanja, Arina mengakui bahwa tekanan untuk mengikuti tren tetap ada. Menurut Arina, media sosial mendorong banyak orang untuk tampil menarik dan mendapatkan pengakuan dari lingkungannya,. Tidak sedikit orang yang akhirnya membeli pakaian baru untuk mengikuti mode atau sekedar gengsi.
Namun, ia memilih untuk menahan diri. Hingga saat ini, ia masih sering membuka aplikasi belanja online dan melihat berbagai produk baru. Tetapi tidak semua barang yang menarik langsung dibeli. Banyak barang yang hanya masuk ke keranjang belanja tetapi tidak ke checkout.
Belajar Mengurangi Konsumsi Fashion
Seiring bertambahnya pengetahuan tentang dampak industri fashion terhadap lingkungan, Arina mulai lebih berhati-hati dalam mengonsumsi produk fashion. Ia menyadari bahwa industri fashion menghasilkan banyak limbah dan membutuhkan sumber daya yang besar dalam proses produksinya. Oleh karena itu, ia berusaha mengurangi kebiasaan membeli barang hanya karena mengikuti tren atau keinginan sesaat.
Bagi Arina, perubahan dapat dilakukan secara perlahan. Mulai dari mengurangi kebiasaan membeli barang yang tidak diperlukan. Hal tersebut sudah menjadi langkah kecil yang dapat dilakukan.
Arina memiliki caranya sendiri dalam memilih gaya berpakainnya di Tengah tren fashion saat ini. Menggunakan pakaian yang sudah dimilikinya. Baginya, tampil menarik tidak harus membeli sesuatu yang baru.
