Saat Diskon Menggoda: Prioritas Antara Gaya dan Akademik

Malang- Disela-sela kesibukan kuliah, mengerjakan tugas dan kepanikan menghadapi tenggat waktu yang menumpuk, tidak sedikit mahsiswa yang masih meluangkan waktu untuk membuka keranjang belanja daring mereka. Berbagai promo, diskon kilat, dan tren pakaian yang terus berganti menjadi daya tarik tersendiri. Bagi sebagian mahasiswa, membeli pakaian bukan lagi sekedar kebutuhan, melainkan sebagai alat untuk membuktikan diri di lingkungan kampus.

Fenomena yang terjadi ini tidak lepas dari pengaruh perkembangan media sosial. Platform seperti Instagram dan Tiktok yang penuh dengan konten OOTD, rekomendasi pakaian murah, dan tren yang cepat berganti dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan mahasiswa sebagai kelompok pengguna media sosial yang aktif kerap menjadi sasaran empuk industri fast fashion.

Nadia (20), seorang mahasiswi semester 4, mengaku kerap melihat promo pada aplikasi belanja daring. Menurutnya, harga yang terjangkau sering menjadi alasan utamanya untuk membeli barang fashion. “Biasa saya cuma lihat-lihat. Tapi kalo lihat ada diskon gede apalagi barangnya saya suka sayang rasanya ga beli.” Terangnya waktu itu. Nadia mengaku selalu menyisihkan dana untuk kebutuhan kuliah terlebih dahulu sebelum membeli pakaian. Baginya, diskon menarik, tetapi kebutuhan akademik tetap menjadi prioritas utama. Jika Nadia tertarik berbelanja karena faktor harga, bagi mahasiswa lain keputusan membeli pakaian juga berkaitan dengan kebutuhan sosial dan citra diri.

Pengalaman yang sama juga dirasakan oleh Rafli (23), sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan sosial serta himpunan mahasiswa, Ia mengaku bahwa pakaian memperngaruhi kepercayaan dirinya saat di muka umum. “ Ketika harus presentasi atau menghadiri acara organisasi, saya merasa lebih percaya diri kalau pakaian yang saya kenakan rapi dan sesuai situasi,”katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konsumsi fashion tidak selalu didorong oleh keinginan untuk bergaya saja. Dalam banyak kasus, terdapat faktor sosial yang mempengaruhi keputusan mahasiswa membeli pakaian. Lingkungan, budaya media sosial, hingga budaya asing yang masuk menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.

Di tengah tingginya konsumsi fashion, muncul pula kesadaran mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan industri tersebut. Meski demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku konsumsi. Selain itu, kesadaran terhadap kelestarian lingkungan juga menjadi alasan mahasiswa banyak yang mempertimbangkan ulang untuk membeli produk fashion. Penelitian yang dilakukan oleh Bodo B. Schlegelmilch di Amerika menunjukkan bahwa  1.300 konsumen fashion peduli terhadap dampak lingkungan dari fast fashion. Namun tetap membeli karena harga murah dan mengikuti tren yang terus berganti.

Di sisi lain, fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas pengeluaran mahasiswa. Sebagian mahasiswa mengaku mampu mengatur keuangan dengan baik meskipun sering membeli pakaian. Namun, tidak sedikit pula yang mengakui pernah menyesal setelah melakukan pembelian impulsif. Selain persoalan konsumsi, fast fashion juga menyimpan dampak yang lebih luas. Produksi pakaian dalam jumlah besar membutuhkan sumber daya alam yang tidak sedikit, mulai dari air hingga energi.

Banyak pakaian yang akhirnya hanya digunakan beberapa kali sebelum dibuang karena tren telah berganti. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan limbah tekstil yang menjadi masalah lingkungan global.

Meski demikian, kesadaran mengenai dampak fast fashion mulai tumbuh di kalangan mahasiswa. Sebagian memilih membeli pakaian bekas (thrift), memanfaatkan kembali pakaian lama, atau lebih selektif dalam berbelanja. Langkah-langkah sederhana tersebut dianggap dapat mengurangi konsumsi berlebihan tanpa harus mengorbankan kebutuhan untuk berpenampilan baik.

Pada akhirnya, fenomena fast fashion di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa pakaian tidak lagi sekadar kebutuhan dasar. Ia telah menjadi bagian dari identitas, kepercayaan diri, dan cara seseorang berinteraksi di lingkungan sosialnya. Diskon dan tren memang terus menggoda, tetapi pertanyaan yang perlu dijawab setiap konsumen adalah apakah pembelian tersebut benar-benar didasarkan pada kebutuhan atau hanya dorongan sesaat untuk mengikuti arus.

Di tengah derasnya tren yang datang silih berganti, mahasiswa dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana: mengikuti tren demi tampil relevan atau mulai membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bijak. Sebab, pada akhirnya, bukan hanya isi lemari yang dipertaruhkan, tetapi juga cara generasi muda memaknai kebutuhan, gaya hidup, dan tanggung jawab sosial mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *