Pasang Surut Ekonomi Penjahit Konvensional di Balik Tren

MALANG — Suasana Pasar Besar Malang sore hari itu tampak ramai seperti biasa. Beberapa pedagang asongan berkeliling menawarkan dagangan mereka. Suara klakson kendaraan, kepulan asap knalpot, dan aroma tembakau bercampur di udara.

Di dalam sebuah bangunan tiga lantai dengan beberapa ruko kosong, aktivitas perdagangan tetap berlangsung seperti biasa. Mulai dari sembako, emas, aksesoris, tas, dan pakaian sekolah. Setiap lorong pasar mempunyai blok-blok berbeda sesuai dengan jenis dagangannya. Di balik padatnya setiap sudut pasar, ada satu blok yang tidak seramai blok lain.

Dari banyaknya ruko yang ada di sana, hanya ada sekitar lima sampai enam ruko yang terisi. Blok tersebut adalah blok penjahit pakaian. Salah satu dari penjahit yang masih bertahan adalah Ali Saputra (67). Di balik asap tembakau, penjahit yang mulai menjahit sejak tahun 80-an itu mulai bercerita tentang usahanya.

Titik Balik Setelah Pandemi Covid-19

Menurut Ali, kondisi pasar berubah drastis sejak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi banyak pelanggan berdatangan kepadanya untuk membuat celana atau memperbaiki pakaian yang rusak. “Enakan dulu ya, Mas. Sekarang mah sepi. Lagian juga ada saingan toko online itu. Orang lebih milih di sana (toko online) karena lebih murah,” terangnya saat itu.

Selain itu, menurutnya proses belanja di toko online yang lebih cepat dibanding memesan kepada tukang jahit menjadi alasan kenapa banyak orang yang beralih dari penjahit konvensional ke toko online. “Orang sekarang banyak beli online, Mas, karena lebih murah dan cepat ketimbang harus jahit ke sini,” katanya.

Ali melanjutkan, “Jaman udah modern, Mas. Banyak model baru sekarang apalagi sejak Covid. Kalau harus memesan ke penjahit lumayan lama, jadi banyak yang pilih online.” Tidak bisa dipungkiri, pengaruh media sosial dan perubahan tren busana membuat preferensi masyarakat semakin luas. Kondisi tersebut menyebabkan peralihan yang signifikan dari jasa jahit konvensional menuju pakaian siap pakai.

Namun, di balik semua kendala pasca pandemi, Ali tetap mendapatkan pesanan seperti memperbaiki seragam sekolah dan lain sebagainya. Pelanggan Pak Ali yang didominasi oleh wali murid dan mahasiswa masih menjadi sumber pendapatan bagi penjahit yang mewarisi keterampilan menjahit dari keluarganya itu. “Banyak wali murid yang ke sini, Mas. Kadang mahasiswa juga ada. Ngecilin almamater,” tambahnya.

Momen-Momen yang Tak Membawa Banyak Perubahan

Biasanya, momen kenaikan kelas menjadi momen besar bagi pengusaha konveksi. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Ali. Menurutnya, semenjak pandemi melanda pendapatannya selama beberapa tahun terakhir tidak menentu, bahkan lebih sedikit dibanding sebelum pandemi. Hal serupa juga terjadi ketika perayaan hari besar tiba, seperti Idulfitri dan Natal. “Sama saja, Mas. Malah kadang lebih sedikit saya dapatnya. Ya karena toko online itu tadi. Banyak yang lebih milih sana. Lebih murah, mudah, sudah bermerek pula,” jelasnya sambil tertawa.

Di tengah perubahan tren dan berkembangnya budaya belanja instan, penjahit konvensional seperti Ali perlahan menghadapi tantangan baru untuk tetap bertahan. Di balik deru mesin jahit yang masih terdengar di sudut Pasar Besar Malang, tersimpan cerita tentang usaha kecil yang terus berjuang di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat. ALN.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *