Tekanan yang Tidak Terlihat di Balik Pilihan Berpakaian

(Foto: Dok. Pribadi Visentris)

Malang – Memakai baju yang sama dua kali dalam seminggu dulu terasa biasa saja. Tidak ada yang mempersoalkan. Tapi seiring media sosial makin ramai, standar itu perlahan bergeser. Kini, sebagian anak muda merasa perlu tampil berbeda setiap hari. Yang tidak mengikuti, kadang merasa perlu menjelaskan diri. 

Ketika Komentar Mengubah Penampilan

Sebelum kuliah, penampilan tidak terlalu dipikirkan. Seadanya saja, yang penting baju yang dipakai nyaman dan sesuai ketentuan. Tapi masuk ke lingkungan baru, standarnya berubah. Nimas , mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, merasakannya lewat komentar dari orang-orang di sekitarnya, atau ia sebut sebagai perundungan.

Alih-alih larut, Nimas memilih melihatnya dari sisi lain.

“Apa yang mereka katain itu memang ada benernya juga. Kita tuh berpakaian tuh memang perlu yang bagus, bukan yang asal-asalan,” ujarnya.

Sejak saat itu, ia mulai lebih memperhatikan apa yang ia kenakan. Bukan untuk orang lain, tapi karena ia percaya penampilan juga bicara soal bagaimana kita ingin dipandang, termasuk di dunia kerja. 

Tekanan dari Dalam Diri Sendiri

Tekanan untuk tampil baru tidak selalu datang dari komentar orang lain. Kadang ia muncul dari dalam diri sendiri. 

Fachra (19), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, sesekali memakai kerudung atau celana yang sama dalam satu minggu. Alasannya sederhana, bajunya belum kotor, sayang diganti. Tapi pikiran kecil itu tetap muncul.

“Orang-orang nyadar nggak ya saya pakai celana ini atau baju ini lagi? Kayak orang-orang nyangkanya, ih jorok nggak sih?” ceritanya.

 Meski begitu, ia kemudian menepis sendiri kekhawatiran itu.

“Ah alah nggak lah. Ngapain mikirin orang lain?” tambahnya.

Di lingkungan Fachra, tekanan berpenampilan beda tiap hari tidak terlalu terasa. Teman-temannya tidak mempersoalkan penampilan. Yang penting rapi, sopan, dan tidak bau. Tapi kekhawatiran itu tetap datang, meski tidak diminta.

Fungsional, Bukan Konsumtif

Jadwal kuliah yang padat tidak menyisakan banyak waktu untuk bingung memilih baju di pagi hari. Dari situlah kebiasaan itu bermula. Rifry, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, sudah menjadwalkan outfit untuk seminggu ke depan sejak awal, bukan karena takut dihakimi, tapi karena efisiensi.

Ia pernah merasa tidak sreg ketika memakai outfit yang sama di dua acara yang berdekatan. Namun, lama-kelamaan ia menemukan cara untuk menyiasatinya.

“Bisalah disiasati dengan mix and match. Misalnya kemejanya udah pernah dipakai, bawahannya aja diganti, atau tambah aksesori,” ujarnya.

Bagi Rifry, outfit repeating justru punya sisi positif yang jarang disadari.

“Outfit repeating ini kan justru menunjukkan kalau orang itu bisa fungsional dan tidak begitu konsumtif. Pakaian yang dia gunakan tuh emang bener-bener dimaksimalin,” katanya.

Ketiganya datang dari titik yang berbeda. Nimas mengubah caranya berpakaian setelah melewati pengalaman yang tidak mudah, Fachra menghadapinya dengan cuek, Rifry menyiasatinya dengan penjadwalan. Tapi di balik perbedaan itu, ada satu benang yang sama, rasa khawatir soal penilaian orang yang tumbuh diam-diam, bahkan ketika tidak ada yang benar-benar mempersoalkan.

Di Balik Cermin, Ada Pertanyaan yang Lebih Besar

Tekanan untuk selalu tampil baru memang tidak pernah datang dalam bentuk aturan tertulis. Ia hadir diam-diam, lewat scroll yang tidak ada habisnya, lewat foto teman yang outfitnya selalu berganti, lewat komentar kecil yang mungkin tidak disengaja. Lama-lama, standar itu terasa seperti milik sendiri, padahal dibentuk oleh pandangan orang lain.

Pilihan berpakaian tidak pernah benar-benar hanya soal baju. Di baliknya selalu ada pertanyaan yang lebih besar, tentang siapa yang menentukan standar itu, dan seberapa jauh kita mau mengikutinya. Apakah kita berpakaian untuk diri sendiri, atau untuk memenuhi standar yang tidak pernah benar-benar kita pilih?