Menjahit Kepercayaan di Tengah Pakaian Murah

Lorong penjahit di Pasar Besar Malang siang itu tidak benar-benar ramai. Beberapa pengunjung hanya melintas di depan deretan kios tanpa berhenti. Di salah satu kios, Bu Anis tampak merapikan kain di atas meja kerjanya sambil menunggu pelanggan datang.

Hampir 19 tahun ia menjalani profesi sebagai penjahit. Usaha yang diteruskan dari orang tuanya itu kini menjadi sumber penghidupan keluarga. Sebagian besar waktunya dihabiskan di depan mesin jahit, baik di pasar maupun di rumah.

Menurutnya, kebiasaan masyarakat dalam membeli pakaian sudah banyak berubah dibanding beberapa tahun lalu. Jika dulu banyak orang datang membawa kain untuk dibuatkan pakaian, kini pakaian jadi lebih mudah didapat melalui toko online.

Perubahan tersebut juga terlihat dalam tren belanja masyarakat Indonesia. Survei APJII pada 2025 menunjukkan pakaian dan aksesoris menjadi produk yang paling banyak dibeli melalui e-commerce dengan proporsi 43,74 persen.

Harga Murah yang Mengubah Pilihan

Perubahan kebiasaan masyarakat dalam membeli pakaian menjadi tantangan yang paling dirasakan Bu Anis dalam beberapa tahun terakhir.

“Sekarang online aja, harga Rp50 ribu sudah bisa pakai baju baru,” ujar Bu Anis.

Harga yang lebih murah membuat sebagian masyarakat memilih membeli pakaian jadi dibanding menjahit sendiri. Bu Anis memahami alasan tersebut. Namun menurutnya, pakaian hasil jahitan dan pakaian produksi massal menawarkan hal yang berbeda.

“Kalau online kan massal. Kalau kita custom,” katanya.

Pelanggan yang datang ke penjahit biasanya dapat menentukan sendiri model, bahan, hingga ukuran pakaian yang diinginkan. Sebagian datang dengan membawa contoh model pakaian yang ingin dibuat, sementara yang lain berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menentukan desain yang sesuai kebutuhan mereka.

Tidak sedikit pula yang memilih menjahit karena sulit menemukan ukuran atau model tertentu di pasaran. Menurut Bu Anis, kelompok pelanggan ini umumnya lebih mengutamakan kenyamanan dan kesesuaian ukuran dibanding harga yang murah.

Bertahan dengan Kualitas dan Kepercayaan

Meski harus bersaing dengan pakaian produksi massal, Bu Anis tidak mengubah cara kerjanya sebagai penjahit.

“Kita ini jual jasa,” katanya.

Prinsip tersebut membuatnya tidak selalu menerima pesanan dalam jumlah besar. Ia lebih memilih membatasi pekerjaan dibanding mengurangi kualitas hasil jahitan yang selama ini menjadi alasan pelanggan kembali menggunakan jasanya.

Kepercayaan pelanggan juga menjadi modal penting untuk bertahan. Sebagian pelanggan bahkan tidak lagi datang langsung ke pasar. Mereka menghubunginya melalui telepon atau pesan singkat untuk memesan pakaian. Mulai dari seragam, pakaian wisuda, hingga kebutuhan keluarga masih rutin ia kerjakan dari rumah.

Kemampuan membuat berbagai model pakaian juga menjadi alasan mengapa sebagian pelanggan tetap menggunakan jasanya. Menurut Bu Anis, tidak semua penjahit menerima jenis pekerjaan yang sama.

“Orang kan dicari skill-nya,” ujar Bu Anis.

Selain membuka kios di Pasar Besar Malang, ia masih melanjutkan pekerjaannya di rumah dengan peralatan yang lebih lengkap. Rutinitas itu dijalani setiap hari, dari pagi hingga sore di pasar, lalu berlanjut pada malam hari untuk menyelesaikan pesanan pelanggan.

Baginya, jumlah pesanan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting dibanding mengejar pekerjaan sebanyak mungkin. Di tengah maraknya pakaian murah yang menawarkan kemudahan, ia masih meyakini akan selalu ada pelanggan yang mencari pakaian sesuai kebutuhan dan ukuran mereka.